Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Dunia Sempit


Kusesap kopi dari bibir cangkir dengan perlahan karena masih terlalu panas. Aku duduk sendiri di sudut restoran sambil memindai sekitarku. Saat ini aku tengah menunggu pak Jamil. Sepuluh menitku terbuang percuma karena pria tersebut tak kunjung menunjukan batang hidungnya. Padahal aku mendapatkan izin dari Zain dengan susah payah.


"Mba, Rayya!" panggil pria yang mengenakan setelan jas hitam dengan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidungnya.


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan nama Rayya, yang di sebut adalah benar, aku. Setelah memastikan memang tidak ada siapa pun di sekitarku kuberanikan diri menatap pria yang masih berdiri dengan gagah di depanku dengan pembatas meja.


"Anda, memanggil, saya?" Kutanyakan hal itu, untuk memastikan namaku yang telah disebut dengan suara baritonnya.


"Iya!" ucapnya tegas, sambil melepaskan kacamata yang ia kenakan. Seketika mataku terpana dengan pahatan Tuhan pada wajahnya, yang mirip pemeran bodyguard dalam drama K2.


Setelah kacamata tersebut ia simpan dalam saku atas jasnya, ia membuka kancing jasnya dengan gaya elegan seorang CEO perusahaan raksasa di suatu tempat. Kemudian memundurkan kursi di dekatnya dan duduk di atasnya setelah itu.


"Anda, siapa?" tanyaku dengan hati-hati. Pasalnya aku tidak memiliki janji temu dengan siapa pun di tempat ini, selain dengan pak Jamil.


"Saya, Jamil, Mbak!" jawabnya masih mempertahankan aura misteriusnya.


Aku mencoba menyangkal informasi dari sang pria. Tidak mungkin pria dengan tinggi badan 182 cm itu bernama Jamil. Bahkan sang pria kini menyugar rambutnya yang ditata dengan gaya short and spiky, seperti jaksa dalam drama suspicious partner.


"Saya beneran Jamil, Mbak!" Seperti bisa membaca keraguan di wajahku, pria di depanku mengeluarkan kartu nama dengan nama yang ia sebutkan. Aku mengangkat satu alisku saat membaca kartu nama tersebut.


"Anda, tidak punya keinginan merubah nama Anda menjadi, Ja Mil Wook. Misalnya?" Aku mengusulkan nama yang lebih keren menurutku, apalagi dengan stylenya yang memang seperti aktor dari negeri ginseng tersebut.


"Itu nama pemberian orang tua saya, Mbak. Meskipun nama saya terdengar melokal, tapi saya cukup bangga dengan wajah saya yang bertaraf internasional," ucapnya bangga. Aku menanggapi dengan mengangguk.


"Dengan wajah internasional, Anda. Kenapa tidak menjadi aktor saja?" Aku kembali mengusulkan pekerjaan yang kurasa tepat untuknya.


"Saya menyukai profesi saya sekarang. Dengan profesi ini, saya pernah menyamar menjadi bodyguard, jaksa, tukang sulap, pemilik toko bahkan saya pernah menyamar menjadi seorang pangeran, Mbak."


Aku kembali mengangguk mendengar penjelasannya. Memang tidak ada yang salah dengan profesi seseorang jika ia mencintai pekerjaannya tersebut. Yang terpenting adalah pekerjaan itu halal dan tidak menentang syariat yang telah diatur dalam agama dan tidak merugikan siapa pun.


"Mbak, saya kok, merasa seperti sedang di interogasi ya? Sebagai seorang detective, seharusnya saya bisa menyimpan data pribadi dengan baik. Kenapa saya mau-maunya menjawab pertanyaan yang unfaedah dari, Mbak-nya."


Pernyataan Ja Mil oppa, seperti tengah menyalahkanku. Padahal, jika tidak dijawab pun, aku tidak apa-apa, paling ya, cuma maksa dikit.


"Oppa, silahkan pesan makanan. Biar saya yang traktir." Aku mengalihkan pembicaraan. Pria di depanku malah semakin mengerutkan keningnya.


"O-oppa?" Dia mengulangi panggilanku sebelumnya dengan terbata.


"Sepertinya, usia kita tidak terlalu jauh. Ditambah lagi, panggilan bapak tidak cocok dengan wajah, Oppa, yang bertaraf internasional." Aku bicara seraya tertawa canggung. Namun, pria yang kini berada di depanku berkaca-kaca. Mungkin dia satu-satunya detective yang melibatkan perasaanya saat bekerja.


Setelah memesan beberapa menu makanan dan tengah menunggu sang waitres menyajikan makan siang kami. Aku mengutarakan niatku untuk menyudahi kerja sama kami sebagai detective dan klien. Kurasa aku tidak membutuhkan informasi apa pun menyangkut orang lain yang tidak ada hubungannya denganku dan Zain.


"Iya, Oppa. Saya juga sangat berterima kasih. Dan ini pembayaran yang telah kita sepakati sebelumnya," ucapku sambil menyodorkan amplop berwarna coklat dengan uang cas di dalamnya. Tanpa menghitungnya, oppa segera memasukan amplop tersebut ke dalam sakunya.


"Saya percaya sama, Mbak." Lagi-lagi oppa seperti bisa membaca pikiranku. Kuhadiahkan sebuah senyum untuk kepercayaannya.


"Hai, Dam!"


Saat aku tengah fokus menikmati makananku, terdengar oppa menyapa seseorang. Aku menegakan dudukku, ternyata pria yang disapa tersebut hanya tinggal berjarak beberapa langkah dari meja kami. Seperti familiar dengan wajah tersebut.


Oppa berdiri dari duduknya untuk memeluk pria berperawakan tinggi yang ramah dengan senyumnya. Keduanya saling melemparkan kalimat basa-basi. Setelah itu, pria yang baru datang menatapku dengan tatapan entah.


"Rayya, kan?" Sang pria menunjukan jari telunjuk ke arahku.


"Aku, Adam. Kita pernah bertemu di rumah sakit saat kamu pingsan, setelah kecelakaan yang menimpamu dan salah satu pegawaiku."


Aku segera mengingat setelah sang pria yang mengaku bernama Adam menjelaskan dengan detail kejadian sebelumnya.


"Kalian saling kenal?" tanya oppa Ja Mil Wook padaku dan Adam, tentunya. Adam menjawab dengan kalimat 'ya' sedangkan aku dengan anggukan kepala.


"Ini restoran, Bang Adam?" tanyaku yang tak menyadari sebelumnya. Sang pria menanggapi dengan sebuah senyuman dan anggukan malas.


"Kalian juga saling kenal?" Kini Adam yang balik bertanya padaku dan oppa Ja Mil. Kami menjawab dengan kalimat 'ya' kompak.


"Kok, gak dijaga sama suamimu yang protective itu?" tanya Adam lagi. Kali ini dia hanya bertanya padaku. Aku bingung menanggapi, karena hasil analisisku tentang Adam saat pertama bertemu dan saat ini berbeda.


"Suamiku, sedang bekerja keras mencari nafkah," jawabku singkat.


"Gimana kabar tante Wanda, aku lama gak ketemu dia." Oppa melontarkan pertanyaan, membuat adam seketika teralihkan pandangannya dariku.


"Alhamdulillah, mama baik. Tadi telepon akan mampir ke sini sebelum ke rumah sakit, sebaiknya kamu tunggu sebentar, biar bisa ketemu mama," titah Adam.


Sebetulnya aku merasa canggung, duduk di antara dua pria asing tanpa pengawasan mahramku. Namun, lidahku kelu untuk sekedar pamit undur diri dari hadapan kedua pria yang tengah asik membahas sesuatu yang bukan ranahku untuk ikut berbicara.


"Itu mama," ucap Adam. Seketika mataku pun mengikuti kemana arah nata Adam dan Oppa tertuju.


Seorang wanita paruh baya mengenakan blouse berwana peach tengah melangkah mendekati meja kami. Sebuah jas putih ia gantungkan pada lengan kirinya yang tengah menjinjing sebuah tas. Semakin lama, sosok tersebut semakin jelas karena semakin dekat dengan meja kami.


Aku membolakan mata, menyaksikan kejadian yang menegaskan bahwa dunia ini begitu sempit. Bukankah ia ibunya Tasya? Bagaimana Adam menyebutnya mama? Lalu detective oppa memanggilnya tante? Apa mereka saling kenal?


Mati, aku ....