Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Apa pun keputusanmu


"Siapa Caca, bukannya dia Kak Tasya?" tanyaku.


Semua mata masih tertegun menatap gadis yang sama sekali tidak merasakan kesakitan, meski dahinya mengalir darah segar yang tak sedikit.


Apa hanya aku yang khawatir dengan keadaan gadis itu.


"T-tasya!" Bahkan Dokter Wanda menyebut namanya dengan terbata, yang sebelumnya menyebutkan nama Caca.


Sebenarnya siapa wanita yang begitu mirip dengan kak Tasya, bahkan hingga dandanan dan gaya berpakaiannya. Yang membedakan dari wanita ini, hanya perilakunya yang lebih tomboy.


"Jangan sebut namanya seolah-olah kamu peduli!" bentak wanita yang tengah kupertanyakan identitasnya.


"Siapa yang tengah kamu peluk, Zain?" Mata sang wanita kini tertuju pada suamiku dengan tatapan menghujam.


"Inikah alasan Tasya memanggilku kembali. Apa kalian semua yang ada di sini tengah bersekongkol untuk menyingkirkan gadis malang itu?!" Caca masih berteriak, matanya penuh kebencian.


Kenapa tak ada satupun yang membantunya berdiri, bahkan Caca terluka di dahi. Dokter Wanda dan para asisten rumah tangga hanya diam mematung seolah takut dengan wanita yang mereka klaim sebagai Caca.


"Dia istriku." Mas Zain angkat bicara.


Namun, sang wanita hanya tersenyum. Senyuman yang menyiratkan ketidakpercayaanya.


"Aku tidak mengerti denganmu, Zain. Dulu kamu berjanji akan menjaga Tasya. Aku mengalah karena Tasya lebih memilihmu dari pada aku yang telah menjaganya dari umur delapan tahun. Aku pikir kamu akan menepati janjimu. Ternyata ... ada wanita lain yang kini dalam pelukanmu."


Terdengar helaan napas berat dari Caca sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "Haruskah aku menyingkirkannya dan membantumu untuk bersama Tasya lagi?"


"Caca, jaga ucapanmu!"


Dibentak Dokter Wanda, wanita yang masih terduduk di tempat sebelumnya tertawa tergelak.


Aku sendiri terkejut mendengar ucapannya, jelas wanita di hadapanku bukanlah kak Tasya. Kepribadiannya bertolak belakang dengan kak Tasya yang selalu bersikap lemah lembut.


Melihatku mendapat ancaman di hadapannya langsung, membuat tante Aira mengikis jarak denganku. Meski aku tak sedikitpun melepas pelukanku dari sang suami.


"Oowh, apa kamu sudah berani sekarang? Kamu juga akan mengingkari janjimu, untuk selalu mengutamakan kebahagiaan Tasya, setelah menemukan putrimu?" Caca mendecih.


"Ada untungnya juga kalian membawa Tasya kembali ke rumah ini. Jadi aku bisa mendengarkan drama kalian tanpa melewatkan sedikitpun."


"Hai anak haram?" Panggil Caca beranjak dari duduknya setelah sekian lama.


Aku yang merasa dapat panggilan tersebut menatapnya dengan seksama, karena tidak ada orang lain yang lebih muda dariku di tempat ini. Juga karena sebelumnya semua orang di sini tengah membicarakan setatus kelahiranku.


"Bagaimana perasaanmu. Ibumu merebut suami orang dan kamu sendiri merebut Zain dari Tasya. Apa keturunan pelakor akan menjadi pelakor juga?"


Tanganku mengepal, darahku mendidih seketika. Seenaknya wanita itu mengataiku pelakor. Aku istri sahnya mas Zain, pada saat mas Zain menikah denganku ia tidak sedang dalam hubungan dengan siapa pun.


"Dari awal, Mas Zain milikku, aku tidak merebutnya dari siapapun!" Kutegaskan hal itu.


Entah apa yang terjadi dengan sang wanita, ia tak henti-hentinya tertawa.


"Apa kamu yakin jika Zain menikahimu bukan karena obsesinya dengan Tasya?"


"Tutup mulutmu, Sya! Kamu tidak punya hak untuk menilaiku. Kamu sendiri yang meninggalkanku untuk menikah dengan pria lain!" Mas Zain tak kalah marahnya pada gadis duplikat Tasya. Bahkan memanggilnya 'Sya'.


"Itulah bod*hnya kalian. Seharusnya Tasya memperjuangkan perasaanya padamu dan tidak menikah atas desakan papanya, sedangkan kamu, Zain." Caca menggelengkan kepalnya. "Kamu bahkan menikahi wanita dengan rupa yang sama dengan Tasya."


"Kenapa tidak kamu akui saja, kalian masih terjebak dalam perasaan lama? Aku tahu persis, bagaimana perasaan Tasya tak pernah berubah sedikitpun untukmu. Dia tidak mencintai suaminya sama sekali," ucapnya di dekat mas Zain. Sayangnya kami bisa mendengar suara kerasnya.


Dadaku berasa remuk saat kalimat itu diperdengarkan lagi. Setelah aku mencoba meyakinkan diri jika mas Zain telah berdamai dengan masa lalunya, dan benar-benar mencintaiku.


Akan tetapi, apa ini? Pelukan mas Zain melemah setelah mendengar ucapan wanita yang sebenarnya entah siapa. Caca atau Tasya. Kenapa dia seolah mengerti tentang masa lalu suamiku.


Tak ingin lebih lama menduga, aku melakukan hal yang sama. Melepaskan pelukan dari pria yang sepertinya masih menyimpan rasa untuk wanita yang pernah mengisi hari-harinya dulu.


Aku memilih mundur. Duduk di sofa untuk menenangkan diri. Tidak ada yang bisa kupercaya dari semua orang di sini. Entah itu suamiku atau pun tante Aira.


"Dek." Mas Zain kembali menghampiriku setelah beberapa saat. Mungkin setelah ia menyadari pada siapa ia harus kembali.


Kusambut suamiku dengan mata berkaca-kaca dari sebelumnya.


Namun, sebelum tangan mas Zain berhasil meraihku, tante Aira lebih dulu menepisnya. Bahkan ia sempat mendorong bahu mas Zain untuk menjauhkannya dariku.


"Apa yang diucapkan wanita itu Zain?" tanya tante Aira setelah membenamkan wajahku di dadanya. Tangisanku tak bisa kubendung lagi.


"Kamu menikah dengan Rayya hanya untuk pelarian? Kamu pikir tante akan membiarkanmu menyentuh Rayya setelah tahu tujuanmu menikahinya?!"


"Tante, aku bisa jelaskan--"


"Tak perlu menjelaskan apa pun, Zain. Tidak ada satupun wanita yang menginginkan pernikahannya hanya dianggap sebagai pelarian. Sebaiknya kamu renungkan lebih dulu, apa yang benar-benar kamu inginkan. Wanita itu atau Rayya," ucap tante Aira masih terdengar sama ketusnya dari sebelumnya.


Kenapa perjalananku meraih mas Zain begitu berat. Apa benar namaku dan mas Zain bersanding di lauful madfuz. Atau jangan-jangan hanya sekedar nama yang singgah saja.


"Aira, biarkan anak-anak menyelesaikan masalah mereka sendiri." Kini suara Dokter Wanda yang sedang mencoba untuk menengahi.


Sepertinya ucapan Dokter Wanda ada benarnya. Aku harus menyelesaikan masalah dengan mas Zain, secepatnya. Apa pun keputusan yang mas Zain ambil nanti, semoga aku bisa menerimanya dengan hati lapang.


"Apa yang ingin kamu jelaskan, Mas?" tanyaku setelah melerai pelukan dari tante Aira.


"Bisakah kita bicara berdua saja?"


"Bicaralah di sini, Mas. Biar semua tahu apa keputusanmu."


Seperti tahu jika mas Zain membutuhkan tempat agar lebih dekat denganku, tante Aira segera berdiri dan menghampiri suaminya. Segera setelah itu, mas Zain mendekat dan meraih jemari tanganku untuk menautkan dengannya.


"Maaf Dek, jika aku tidak jujur dari awal padamu. Mungkin harus kukatakan lagi. Sebelum akad terucap, aku memang masih berkubang dengan masa lalu. Namun, saat namamu kulafadzkan, aku yakin bisa menatap masa depan dengan--"


Mas Zain menghentikan ucapannya saat gelegar benda pecah belah dari sisi lemari diperdengarkan. Mas Zain segera menutup kedua telingaku dengan tangannya. Namun, mata ini terlanjur menyaksikan wanita yang entah itu Caca ataupun Tasya membanting vas bunga.


"Sepertinya aku harus membuang tato inisial namamu, Zain. Jika keputusanmu memilih gadis kecil yang selalu membuat Tasya menderita. Aku juga akan membawa Tasya pergi bersamaku untuk selamanya."


Ancamnya dengan serpihan keramik yang menempel di atas inisial Z di nadinya.


Ternyata itu bukan ancaman Caca atau Tasya semata. Tanpa aba-aba ia menyayat nadinya sendiri.