
"Mas Zain?!"
"Sst." Jari telunjuknya berada di bibir, menyuruhku untuk diam. Selanjutnya menarik selimut untuk menutupi tubuh Tasya yang terlihat sudah lelap.
"Oke. Memang semua orang memprioritaskan Tasya as Caca, tanpa ada yang peduli padaku." Aku bicara pada semuanya, bahkan pada cicak di dinding.
Tak peduli dengan wajah bang Adam yang nampak bingung, aku segera balik kanan, menuruni tangga. Melewati orang-orang yang tengah duduk di sofa sambil berbincang. Kembali ke kamar sebelumnya.
Tak lupa pintu kututup dengan keras.
"Kenapa, Sayang?" Dokter Wanda as mama menghampiri. Dia duduk di sebelahku yang tengah melipat tangan di dada dan menatap gorden kaca.
"Gak, papa. Pingin pulang aja."
"Kok pulang, ini juga rumahmu, Sayang." Dokter Wanda membelai lembut kerudung yang kukenakan.
Yang ia lakukan sama seperti yang selalu tante Aira lakukan jika aku tengah merajuk. Berkata lembut dan membelai puncak rambut yang tertutupi hijab.
"Ini rumahmu, juga kak Tasya. Aku akan pulang ke rumah suamiku." Kutatap matanya, di sana kutemukan banyak cinta yang tidak kutemukan saat aku mengenalnya sebagai Dokter Wanda, ibunya kak Tasya.
"Ini rumahmu juga, Sayang. Papa membagi rumah ini dengan adil untuk kedua putrinya."
"Papa?"
"Sebelum papamu meninggal, rumah ini diwariskan untuk kedua putrinya. Ia yakin suatu saat nanti kamu akan kembali."
Aku membuat jarak dengan Dokter Wanda. Ada nyeri yang menyelusup saat ia mengatakan kamu akan kembali. Kenapa harus meninggalkan rumah sebesar ini untuk anak yang tak pernah ia coba temui semasa hidupnya.
"Kak Tasya lebih berhak atas rumah ini, aku sama sekali tidak mengenal papa. Bagiku cukup tahu siapa orang tua kandungku. Aku hanya meminta do'a dan restumu untuk rumah tanggaku dengan mas Zain."
Meski jarak yang kubuat cukup jauh, ternyata tidak membuat Dokter Wanda berhenti untuk tidak menyentuhku. Bahkan memelukku.
"Apa Mama mencintai papa kandungku?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Setidaknya aku ingin tahu apa aku lahir ke dunia ini karena cinta atau hanya sebatas kesalahan saja.
Mendengar pertanyaanku Dokter Wanda melepaskan pelukannya. Ditatapnya lekat-lekat wajahku. Menunduk, meraih tanganku dalam genggamannya.
"Papa kandungmu orang yang baik, tapi ... aku mencintai suamiku."
Oke. Hanya sebatas kesalahan saja. Tak apa.
"Kenapa Mama harus ada di rumah ini jika Mama tidak menginginkannya?"
"Karena Tasya." Ia tersenyum. "Mama merasa bisa menebus kesalahan dan merawat Tasya dengan membuat setatus baru di keluarga ini. Ternyata keputusan mama saat itu salah, justru hadirnya mama yang tak pernah diinginkan memicu Tasya melahirkan kepribadiannya yang ia pendam."
Aku menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, semoga hal ini bisa sedikit meringankan bebannya. Meskipun pelukan lebih baik untuk menenangkan seseorang. Namun, masih ada rasa canggung jika aku harus memeluknya lebih dulu.
"Memang, apa perbedaan Caca yang diciptakan Tasya dengan kak Tasya yang sesungguhnya?" Aku bersiap menyimak. Biasanya aku hanya mendengar tentang kepribadian ganda dari drama-drama yang aku tonton.
"Caca, sangat keras tapi dia lebih friendly dan ceria di banding Tasya yang pendiam dan tertutup. Caca cenderung mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi dan ia selalu mengancam akan menghilangkan dirinya dan Tasya jika sedang marah."
Aku mengangguk, sedikit memahami. Tasya yang memendam perasaannya tersampaikan oleh karakter Caca yang menurutku lebih mudah mengekpresikan marahnya.
"Lalu, apa hubungannya dengan mas Zain?"
"Apa ... kamu akan baik-baik saja jika mama menceritakan bagaimana Zain menginginkan paca--"
"Gak papa, Ma. Aku baik-baik saja. Lanjutkan saja ceritanya, jika Mama mau. Jika tidak mau, aku tidak akan memaksa."
"Kenapa, Ma?" Aku penasaran.
"Ada yang tengah cemburu dengan menggosokkan tangannya ke paha."
Aku reflek memandangi tanganku yang terpergok melakukan hal demikian.
"Ha ha ha ha. Ini sudah seperti kebiasaan, jika aku mendengar orang bercerita. Santai saja, Ma. Mama bisa lanjutkan ceritanya, kok."
"Iyakah, kalau gitu mama--"
"Bukankah kepribadian ganda bisa diterapi secara medis. Jika kak Tasya membutuhkan pengobatan medis. Gunakan saja hak-ku yang ... M-mama, bilang tadi, untuk membiayai kak Tasya." Kupotong ucapannya karena aku teringat DID bisa disembuhkan secara medis.
(DID \= Dissosiative Identity Disorder \= Kepribadian ganda)
Mata Dokter Wanda menjadi berkaca-kaca. Direngkuhnya tubuhku dalam pelukannya. Sungguh, aku masih belum terbiasa dengan ini.
"Kamu mulia sekali, Sayang," bisiknya sedikit tertahan. Kemudian mencium keningku.
"Tinggallah di rumah ini beberapa hari, setidaknya hingga kondisi kakakmu lebih baik."
"Gak, Ma. Aku harus pulang malam ini juga. Semakin lama di sini sama artinya membiarkan mas Zain dekat dengan kak Tasya lagi."
Raut wajah sedih Dokter Wanda seketika berganti dengan senyuman ketika melihatku menggelengkan kepala begitu antusias untuk menolak permintaanya.
"Baiklah. Jika kamu maunya seperti itu. Mama yang akan mengunjungimu, jika begitu." Satu kecupan lagi lolos di keningku.
"Mama pamit sebentar, mama akan menyiapkan makan malam. Karena kamu menolak menginap, kamu tidak boleh menolak makan malam keluarga kita untuk pertama kalinya, ya?"
Aku mengangguk menuruti ucapannya. Sekarang Dokter Wanda yang mulai terbiasa kupanggil mama, beranjak mendekati pintu.
"Mama sepertinya harus meminta maaf padamu." Dokter Wanda yang semula hendak memegang kenop pintu akhirnya berbalik ke arahku kembali.
"Sepertinya kamu mendengarkan ucapan mama ketika Zain dirawat di Rumah Sakit saat kita bertemu pertama kali."
Aku mengangguk mengiyakan. "Sedikit, Mama meminta mas Zain memaafkan kak Tasya."
"Maaf ya, Sayang. Saat itu mama tidak tahu jika Zain sudah menikah. Mama terlalu egois, hanya memikirkan Tasya yang selalu sedih. Mama khawatir jika kesedihannya berlarut, Caca kembali menguasainya. Hari ini, apa yang mama takutkan menjadi kenyataan."
"Lupakan saja, Ma. Lagi pula saat itu Mama belum tahu. Sekarang setelah Mama tahu mas Zain adalah milikku. Tolong, jangan libatkan mas Zain dengan apa pun yang berhubungan dengan kak Tasya. Cerita masa lalu mereka sudah berakhir."
"Rayya!" Mama mencubit pipi ini dengan gemas. Wajahnya merona seperti tersipu malu. Apa mama melihatku sebagai anak kecil. Gimana jika pipi ini makin chubi di cubitnya.
"Beruntungnya Zain mendapatkan cinta sedalam ini dari istrinya. Semoga Zain juga mencintaimu sebesar itu." Mama menggumam, sayangnya aku mendengarnya. Membuatku juga tersipu malu. Tak terasa satu kaki ini bergerak-gerak sendiri.
Saat mama membuka pintu. Pemandangan tak biasa tersuguh di sana. Tiga pria dewasa terjungkal bersamaan dan saling menindih.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Mama Wanda sama terkejutnya denganku. Tapi keterkejutanku berubah jadi senyuman ketika melihat wajah kebingungan ketiga pria yang tak lain adalah mas Zain, bang Adam dan om Rahman.
"Kayak anak kecil aja, kalian," hardik mama sebelum keluar dan diikuti dua pria lainnya. Menyisakan mas Zain yang berdiri di depanku dengan menggaruk tengkuk.
"Malam ini kamu kelihatan cantik, Dek."
Idih! Apaan! Selama ini aku gak cantik, gitu!