Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Menyerah


"Ucapan Anda bisa dipercaya?"


'B-bisa, Mbak!'


"Anda mendapat informasi dari sumber yang terpercaya?"


'I-iya, Mbak. Informen memiliki hubungan dekat dengan target. Informasi sudah dipastikan akurat.'


Mataku memindai sekeliling, memastikan Zain tidak datang di belakangku secara tiba-tiba.


"Siapa informen itu?" tanyaku kembali setelah memastikan Zain masih bersemedi di taman belakang tempat favoritnya.


Pagi tadi Zain kekeh pulang ke rumah, setelah menghadirkan sebuah drama di Rumah Sakit. Aku yang notabennya sebagai seorang istri, harus menandatangani sebuah surat perjanjian. Bila terjadi sesuatu tidak bisa menyalahkan pihak Rumah Sakit karena pasien pulang dengan keinginan sendiri. Kadang Zain, memang sangat kekanakan.


'Itu rahasia perusahaan, Mbak. Saya tidak bisa mengungkapkan identitas informen. Mbak, tinggal duduk manis saja di rumah. Biar saya yang menggali informasi sebanyak mungkin.' ucapnya terdengar meyakinkan.


Aku mengangguk-angguk, menyetujui alasannya. Sepertinya detective rekomendasi dari Melda, tidak mengecewakan, terbukti dia sat-set sat-set, menandakan seorang pekerja keras, tidak hanya memakan gaji buta.


"Informen Anda, seorang pria?"


'Bukan Mbak, dia seorang wanita.' Terdengar helaan napasnya.


"Kenapa Anda menyebutnya informen, bukan inforladies?"


'Udahlah, Mbak. Anda menghambat pekerjaan."


Aku mengerutkan dahi mendengar ucapannya.


"Saya akan kembali menjalankan tugas, saat ini dalam misi pengintaian. Saya akan segera melapor jika sudah mendapatkan perkembangan dari kasus ini.'


"Pengintaian buat .... Pak? Pak Jamil? Pak Jamil tanpa lah?" teriakku sangat lirih berharap Zain tak mendengarnya.


Seenaknya saja pak Jamil memutus telepon secara sepihak. Tindakannya sedikit kurang sopan, berhubung lawan bicara adalah bosnya. Sejauh ini, pekerjaannya cukup memuaskan. Jadi aku maafkan untuk tindakannya yang tidak mencerminkan attitude baik.


Setelah meletakkan handpone di atas meja, aku mendekat ke arah kompor. Menatap sop dalam panci yang matang sempurna dengan tatapan kesedihan, segera kutuangkan dalam mangkok saji, dan menatanya di atas meja. Memanggil Zain untuk makan malam bersama.


"Menurutmu, bagaimana sikap seseorang yang memaafkan kesalahan orang lain?" tanyaku setelah menyuapkan nasi untuknya. Aku sengaja duduk berhadapan. Zain pun tidak merasa keberatan dengan posisi duduk kami yang begitu dekat.


Karena tangan kanannya yang terluka, aku membantu melakukan hal yang sulit ia kerjakan sendiri. Seperti saat ini, aku memang menawarkan diri untuk menyuapinya karena tidak ingin Zain makan dengan tangan kirinya.


"Memaafkan, bukan suatu hal yang mudah. Tapi jika kamu sanggup, itu sungguh luar biasa," jawabnya terdengar serius.


"Kenapa Mas Zain, tidak memaafkan Tasya? Daripada menyimpan dendam yang justru menyakiti diri sendiri. Lebih baik, Mas Zain, jadi pria yang luar biasa dengan memaafkan kesalahannya."


Kini Zain terdiam, ia berhenti mengunyah, matanya menatapku tajam. Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya, akibat pertanyaanku yang lancang.


"Tasya tidak meninggalkanmu karena keinginannya. Ia menikah dengan pria lain karena desakan ayahnya."


"Kenapa kamu mencampuri urusanku?"


Raut wajah dan telinganya memerah, Zain tengah memendam amarah. Memang aku salah Karena telah memasuki privasinya.


"Aku hanya ingin Mas Zain, berjiwa besar, melupakan amarah pada Tasya yang sebetulnya bukan kesalahannya juga."


Tiba-tiba wajahnya terlihat pias, mata cantiknya dikerumuni embun. Melihat ekpresi itu di wajah Zain membuat hatiku juga terasa masygul. Ada yang tercekat di kerongkonganku. Sakit, sangat sakit.


"Aku akan makan sendiri," ucapnya lalu mengambil sendok yang ada di tanganku. Namun, aku kembali merebut sendok itu darinya.


"Tangan Mas Zain, sakit. Biar aku saja yang menyuapi," gumamku pelan.


Air mata yang berusaha kutahan, mengalir juga. Aku sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa. Setelah pak Jamil memberi informasi tentang Tasya, aku menjadi ragu untuk memperjuangkan perasaanku.


Aku yang tengah menunduk menyembunyikan air mata setelah berebut sendok, dikejutkan tangan Zain yang menyeka bulir bening di pipiku. Saat aku menegakkan kepala, Zain tengah tersenyum padaku. Tentu saja, makin kukeraskan tangisanku, semakin bingung mengartikan senyumannya.


Direngkuhnya tubuh ini ke dalam pelukannya, satu hal yang aku pahami, sama sekali tidak membuatku bingung atau pun ragu. Melihatku menangis adalah kelemahannya, mungkin hal itu yang membuat tubuh ini selalu memprovokasi serotonin agar lebih dominan.


"Kamu bilang tanganku yang sakit, kenapa kamu yang nangis?" bisiknya lirih sambil menepuk-nepuk punggungku. Aku selalu menyukai saat seperti ini, berlama-lama menangis dalam pelukan Zain.


Zain yang kadang cuek dan dingin juga memiliki sisi perhatian dan hangat. Itu yang membuatku semakin menyukainya, bahkan perasaanku padanya lebih dari itu.


🍀🍀🍀


Pagi hari, saat melewati kamar Zain, aku melihatnya tengah mengeringkan rambut dengan susah payah. Aku mendorong pintu yang sedikit terbuka, dan masuk ke dalamnya setelah mendapat izin darinya.


Dalam keadaan seperti ini pun, Zain tidak pernah meminta bantuanku. Ia berusaha melakukannya sendiri, meskipun saat aku menawarkan bantuan tidak ia tolak.


"Aku bantu, Mas." Kuambil alih handuk yang ada di tangan kirinya. Mulai mengeringkan rambut dengan handuk setelah Zain duduk di tepi ranjang sehingga aku bisa menjangkau kepalanya.


"Mau aku keringkan dengan, hair dryer?"


"Boleh." Zain mengangguk menerima tawaranku.


Kuambil hair dryer lalu memasukannya ke dalam stop kontak, mulai mengeringkan rambut Zain dengan udara hangat yang keluar dari alat pada tanganku. Bahkan hangatnya udara tersebut sampai hingga ke relung hati karena aroma sampo yang menyeruak.


Aku berupaya tetap tenang dengan ekpresi datar meski sebenarnya jantungku berdetak bak genderang perang. apalagi dengan kondisi Zain yang tengah meng-ekspos perutnya yang hanya dililit handuk sebatas pinggang.


Arus pendek sering terjadi, saat tidak sengaja kulit tangan ini bersentuhan langsung dengan kulit punggungnya. Namun, sudah kuputuskan aku akan mundur dari kancah peperangan cinta, yang kurasa hanya sebuah ilusi.


"Sudah selesai, Mas. Sebaiknya Mas Zain, segera memakai baju dan turun. Aku akan menunggu di meja makan." Aku melangkah menjauhi Zain, menaruh hair dryer yang telah selesai kugunakan ke tempat semula.


"Rayya!" panggilnya saat aku hampir meraih handle pintu. Aku segera berbalik badan, menghadap padanya.


"Ya. Mas Zain perlu bantuan lagi?"


"Tolong, siapkan bajuku!"


Perintahnya membuatku memicingkan mata, dahiku sedikit berkerut. Tidak biasanya Zain memintaku menyiapkan bajunya. Tanpa bertanya, aku mematuhi perintahnya. Mengambil satu setel pakaian yang terlihat nyaman untuk Zain kenakan.


"Aku tidak mau baju itu, cari yang lain. Aku akan keluar, di rumah terlalu membosankan," ucapnya tepat di belakangku. Aku menahan napas karena terkejut. Setelah kuhirup udara dengan rakus, aku kembali memilih pakaiannya yang sebenarnya aku tidak tau Zain akan mengenakan yang mana dan ke mana Zain akan pergi.


"Mas Zain, mau pakaian formal?"


"Kenapa pakaian formal? Aku tidak ke kantor, hanya ingin mencari keramaian saja. Di sini aku merasa kesepian, seperti tinggal seorang diri!"


Tanganku mengepal erat di antara baju-baju yang tergantung. Seperti biasa, aku terlalu lamban untuk mencerna maksud ucapan Zain.


"Kamu mendiamkanku selama berhari-hari. Apa aku melakukan kesalahan?"


Suara Zain terdengar begitu dekat di telinga. Hanya ada kami berdua, mengapa harus berbisik yang membuat semua bulu halus di tengkukku berdiri.