
"Dasar pelakor!"
Setelah menghadiahi tamparan, wanita tersebut menarik kerudung yang tengah kukenakan.
"Aku bukan pelakor!" Aku tak bisa tinggal diam diperlakukan demikian. Segera kuraih rambut berwarna blonde itu dengan kedua tanganku.
"De, apa-apaan ini?"
Zain panik, namun tak bisa melakukan apa pun. Pasalnya, aku dan sang wanita semakin mencengkeram dengan kuat apa yang diraih tangan kami. Meski dia meringis menahan perih, aku tak akan melepaskannya lebih dulu sebelum tangannya terlepas dari hijabku.
"Lisa! Apa yang kamu lakukan?!" Ferdi yang tiba di depan perseteruan kami, berteriak.
"Aku akan membun*h wanita simpananmu ini, Mas! Aku tidak akan pernah sudi, berbagi suami dengan bocah sepertinya!" geramnya teramat kesal, tangannya pun semakin kuat menarik hijabku.
"Percuma saja berhijab, tapi akhlaknya tetap seorang pelakor!"
"Jika seorang pria memiliki istri sepertimu, tentu saja semua wanita di luar sana ingin menjadi pelakor dan menyelamatkan suamimu dari istri yang seperti lampir."
"Ini istriku, Mbak. Anda salah orang!" bentak Zain pada sang wanita.
Ucapan Zain seperti tidak ia dengarkan, atau ia sudah kepalang malu karena salah sasaran.
"Lepaskan tanganmu dari rambutku!"
"Kamu yang mulai dulu, Mbak! Akan kulepaskan jika kamu menyingkirkan tanganmu dari hijabku!"
"Oke. Kita lepaskan bersama setelah hitungan ketiga."
Aku mengangguk menyetujui usulannya. Benar saja, setelah hitungan ketiga tangannya terlepas.
"Aa ..." Tanganku baru kulepas setelah si wanita berteriak. Aku makin menarik rambutnya, karena mengira dia akan melanggar ucapannya seperti dalam kebanyakan drama.
Sebelum tangannya kembali meraih hijabku, Zain menghalangi seperti yang aku lakukan saat menjadi perisainya. Pelukan darurat tak bisa dihindari. Pada akhirnya rambut Zain yang menjadi korban.
Kali ini Ferdi yang menjadi pahlawan untuk Zain. Ia menyeret wanita tersebut menjauhiku dan Zain.
"Kamu gak papa, De?"
"Pipiku sakit, Mas," rengekku.
Dielusnya lembut pipi yang mungkin telah tergambar jemari wanita yang tengah adu mulut dengan Ferdi. Aku dan Zain tak mengambil pusing kehebohan mereka. Kami tengah menikmati dunia kami sendiri.
"Bagaimana rambutmu?"
"Tidak sakit sama sekali, dia hanya menarik hijabku. Kepala Mas Zain sakit ya, tangan wanita itu sangat kuat."
Zain menggeleng, namun, tetap kuelus bagian belakang kepalanya, sedangkan Zain membenahi hijabku dan beberapa anak rambut yang mencoba keluar.
"Ceraikan wanita itu, atau aku yang akan menggugat cerai!"
Karena teriakannya, aku dan Zain menyempatkan untuk melihat mereka. Sepertinya wanita bernama Lisa tersebut benar-benar kalap. Tangannya tetap mencoba meraih Tasya meski Ferdi menghalangi dengan tubuh besarnya.
"Aku tidak akan pernah menceraikan Tasya! Aku lebih memilih berpisah dengan wanita egois sepertimu, daripada harus bercerai dengan Tasya!"
"Kamu lebih memilih pelakor itu dari pada istri sahmu?"
"Aku bukan pelakor, Mbak. Aku juga istri sahnya!" Setelah lama bungkam, Tasya akhirnya bersuara.
"Statusku sama denganmu. Hanya saja, Mas Ferdi lebih dulu menikahimu sebelum menikah denganku. Apa salahnya menjadi istri kedua, kenapa kalian selalu meneror kehidupan kami seolah semua kesalahan berasal dari istri kedua dan menyebut kami dengan pelakor! Aku bukan pelakor, aku istri kedua, dan status kita sama!"
Hatiku mencelus, mendengar suara hati istri kedua yang dalam masyarakat kita selalu disalahkan sebagai pelakor. Tidak semua istri kedua menikah dengan cara merebut suami wanita lain, sebagiannya hanya mengikuti takdir mereka.
"Lebih baik kamu pulang, Lisa!"
"Kamu berani membentakku demi wanita pelakor itu?!" Tangannya masih mencoba meraih tasya. Tapi kali ini Ferdi meraih tangan itu.
"Apa kamu lupa, siapa yang memberi kedudukan dan kehormatan padamu? Jika tidak menikahiku, kamu hanyalah seorang pria miskin! Dan wanita yang kamu bela itu, tak akan mau denganmu!"
"Dan kamu pelakor! Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka!"
Ferdi menyeret paksa Lisa menuju mobilnya. Aku kira ia hanya mengantar wanita tersebut, ternyata ia juga pergi bersama istri pertamanya meninggalkan Tasya yang masih berdiri mematung.
Tasya terduduk setelah mobil yang membawa suaminya menghilang dalam jarak pandang. Wanita itu memeluk kedua lututnya sambil menangis. Aku menghampiri untuk memberikan dukungan moril dengan memeluknya.
Aku menoleh mendengar panggilan suamiku. Ia menyodorkan handponenya. Tertera sebuah pesan dalam layar pipih tersebut. Ferdi dengan entengnya menitipkan istrinya pada kami.
Tak segera kutanggapi hal tersebut, sepertinya Zain pun tak bisa membuat keputusan tanpa pendapat dariku.
"Aku akan menolaknya!"
Ketika Zain akan mengetik sesuatu pada benda di tangannya aku menghentikan dengan menyentuh tangan itu. Kugelengkan kepala agar Zain tidak melakukannya. Karena aku mengingat ancaman wanita itu sebelum mereka pergi.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri." Tasya bersikeras kembali kerumahnya yang masih berlubang karena lemparan batu tadi siang, setelah aku menunjukan pesan dari suaminya.
"Tetaplah bersama kami, setidaknya hingga suamimu kembali."
Dengan segala penjelasan dariku dan keramahan yang Zain tunjukkan pada Tasya, akhirnya ia bersedia tinggal di rumah kami. Meskipun hatiku yang kini terasa sedikit aneh karena akan tinggal satu atap dengan mantan dari suamiku.
*****
"Aku bisa membantumu. Apa yang harus kulakukan?"
Saat aku berada di dapur untuk menyiapkan makan malam, Tasya menghampiri.
"Tidak perlu, Kak. Aku hampir selesai."
Matanya terus mengawasiku yang tengah mencincang bawang putih.
"Apa kamu tidak suka jika bawang putih itu nampak pada sayur?"
"Iya," jawabku tanpa mengalihkan pandangan pada pisau dalam tanganku.
"Aku juga begitu."
"Oh, ya? Kita punya banyak sekali persamaan."
Termasuk mencintai pria yang sama.
"Persamaan apa?"
"Apa Kak Tasya tidak tahu, wajah kita begitu mirip, hingga aku mendapat sasaran tamparan karena wajah ini." Aku menghentikan aktifitas untuk melihat ekspresinya.
Handphone di tangannya kuambil tanpa ijin. Kebetulan tanpa pengaman, jadi aku segera mencari ikon kamera dan meng-klik fitur tersebut.
"Lihatlah, Kak." Aku mendekat ke arahnya agar wajah kami berada dalam satu bingkai bersama.
"Aku tak pernah menyadarinya." Tasya sepertinya terkejut melihat penampakan kami yang memang terkesan serupa. Hanya hijab yang kukenakan sebagai pembedanya.
Tatapannya kini fokus padaku, aku tahu apa yang tengah ia pikirkan. Semoga saja ia tak mengucap hal yang begitu jelas, kemiripan kami yang mengantarkanku menjadi istrinya Zain.
"Mau ngapain, Mas?" Kualihkan handpone dari wajahku saat kulihat sang suami memasuki dapur. Kukembalikan benda tersebut pada Tasya dan segera menghampiri Zain.
"Aku mencari minum."
Segera kuraih gelas di atas meja sebelum tangan Zain menyentuhnya. Setelah kuisi dengan air, aku memberikannya pada Zain.
"Terima ...."
Gelas meluncur bebas ke lantai sebelum Zain menyentuhnya. Kurasa aku memberikannya dengan hati-hati, entah mengapa berakhir dramatis seperti ini.
"Biarkan saja, De. Aku yang akan membersihkan, jarimu bisa terluka bila menyentuh serpihan kaca tersebut."
Aku yang hampir berjongkok, kembali berdiri. Disaat itu ternyata Zain telah siap mengangkat tubuhku dan mendudukannya ke atas meja.
"Kamu itu kebiasaan. Sudah pernah kuperingatkan menggunakan alas kaki. Bila terjadi seperti ini kamu tidak terkena pecahan gelas. Kapan kamu akan menuruti suamimu?"
Zain berbicara dengan jarak yang begitu dekat dengan wajahku. Membuatku gemas untuk tidak menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ekhem."
Aku dan Zain menoleh ke sumber suara. Jika kami tengah bersama memang selalu merasa dunia hanya milik berdua. Hingga lupa ada makhluk lain yang mungkin risih melihatnya.