Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Tetangga sebelah


"Gak usah keluyuran. Setelah dari tempat Imelda langsung pulang!" titah Zain setelah menghabiskan sarapannya.


Aku bersyukur, pria yang kunikahi ini tak pernah komplen dengan apapun yang aku masak untuknya. Meskipun hanya menu sarapan sederhana. Nasi goreng dengan telur mata sapi. Seleranya cukup merakyat, untuk seorang yang menjabat pimpinan tertinggi di perusahaan.


"Oke," jawabku enteng, saat mengambil piring kotor di depan Zain.


"Kamu naik apa, ketempat Imelda?" tanya Zain disela aktifitasnya mengambil cangkir teh.


"Hmm. Mungkin naik ojol," jawabku sekenanya.


"Aku antar saja," ucapnya yang berhasil membuatku terkejut.


Langkah yang semula hendak kutujukan ke westafel, langsung kuarahkan kembali ke kursi tempatku duduk sebelumnya.


"Serius?" Aku meyakinkan diri bertanya pada Zain dengan antusias.


Pria yang tengah menyesap teh itu hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Gak usah, aku bisa sendiri, kok," ujarku mencoba menarik ulur keadaan. Yang sebenarnya ....


"Terserah! Jangan telepon aku, jika kamu diculik tukang ojol," ucapnya setelah teh dalam gelas tandas.


"Khawatir banget, ya!"


"Gak! Males aja ngeluarin duit buat bayar tebusan."


Diih ....


Aku mengekori langkah Zain menuju teras depan setelah sarapan. Sesampainya di sana langsung kuraih dan kucium punggung tangannya dengan khidmat layaknya seorang istri.


Tidak ada percakapan apa pun antara aku dan Zain setelahnya. Juga tidak ada penolakan dari Zain, seperti saat pertama kali kami bergandengan tangan.


"Jangan keluyuran!" Zain kembali mengingatkan, sebelum ia masuk kedalam mobil. Padahal sudah aku katakan, jika aku hendak keluar rumah pasti meminta izin darinya.


Kulambaikan tangan hingga mobil yang ditumpangi Zain keluar dari pekarangan rumah. Semoga saja hubungan kami akan selalu semanis ini, meski Zain hanya menganggapnya sebagai sebuah kesepakatan.


Setelah aku memutar tubuhku sembilan puluh derajat, aku melihat sepasang suami istri penghuni rumah sebelah kiri sedang melakukan adegan romantis. Ah, jadi nganan.


Sang wanita merapihkan dasi prianya, lalu saling peluk dan di akhiri dengan kecupan dari sang pria di kening wanitanya.


"Hai."


Terdengar suara sapaan seseorang, yang membuat senyum di bibirku memudar. Kebawa perasaan melihat aksi yang wanita itu pertontonkan.


Seorang wanita cantik mengenakan dress berwarna merah menatapku dengan senyuman, di pagar pembatas pekarangan rumah. Seakan ia tahu apa yang ada dalam pikiranku barusan.


"Assalamualaikum." Sapaku pada sang wanita setelah aku mendekat dan hanya menyisakan jarak dua jengkal.


"Waallaikumussalam," jawabnya begitu ramah.


"Namaku Tasya." Sang wanita menyebut nama tanpa mengurangi senyum di wajahnya. "Baru pindah?" Lanjutnya. Kemudian mengulurkan tangannya ke arahku.


"Iyah Kak. Aku Rayya." Aku begitu gugup menerima uluran tangan wanita bernama Tasya, apalagi setelah kepergok sedang menikmati adegan drama romantic secara langsung yang di perankan olehnya.


"Aku masuk dulu ya?" ujar sang wanita, mungkin ia merasa kecanggungan begitu kentara menyelimuti pertemuan pertama kami.


"Silahkan Kak." ucapku meluluskan permintaanya.


Aku menatap punggungnya yang kini menghilang di balik pintu rumahnya. Wanita berparas cantik dengan pembawaan yang anggun, siapa pun yang melihat pasti akan berfikiran yang sama denganku.


"Astaghfirullah." Aku terperanjat ketika berbalik arah.


Seorang wanita di rumah sebelah kanan menatapku dengan tatapan yang ... entahlah. Raut wajahnya datar dan sorot matanya begitu dingin, seakan mampu membekukan apapun yang di sekitarnya.


Kuanggukkan kepala padanya yang masih menatap tajam ke arahku. Perlahan senyum melengkung ia perlihatkan di antara dua pipinya yang gembul.


"Baru pindah ya?" teriak sang wanita dari kejauhan. Kemudian berjalan menghampiriku di teras tempatku kini berdiri.


"Duduk dulu Bu." Ajakku padanya, kuraih tangan seukuran paha itu untuk menuntunnya mendekati bangku yang terletak di teras.


"Apa kamu sodaranya bu Rahma?"


Aku mengernyitkan alis mendengar apa yang ditanyakan, bahkan pertanyaan sebelumnya belum sempat aku jawab, tapi sudah mengajukan pertanyaan lainnya. Gak niat kayaknya.


"Maaf, aku harus jawab apa dulu nih?" Aku menanyakan hal yang cukup serius menurutku.


"Dari nama aja dulu. Perkenalkan namaku Endang. Jangan sungkan menganggapku sebagai kakak, kamu mengingatkan waktu mudaku dulu. Mungkin kita saudara kembar beda generasi yah?"


What? Mana ada kembar beda generasi, yang ada beda lima menit. Ada-ada saja kelakuan ibu-ibu jaman now.


"Namaku Rayya," ucapku memperkenalkan diri.


"Dari kemarin rumahnya sepi, emang ibunya kemana?" tanya bu Endang dengan mimik wajah penasaran.


"Aku tinggal sama suamiku."


Bu Endang yang sedang mengintip kedalam rumah dengan mendekatkan wajahnya ke arah kaca langsung menoleh padaku. Ia terlihat begitu terkejut, dengan informasi yang baru keluar dari mulutku.


"Aku kira kalian kakak adek, ternyata dia suamimu?"


"Bu Endang mengenal suamiku?" Kini giliran aku yang merasa tercekat dengan ucapan bu Endang, ada apa dengan chemistry antara aku dan bu Endang, hingga kami bisa membuat satu dan lainnya merasa terkejut.


Aura di sekitar tempat kami berbincang, seketika terasa begitu mencekam. Angin yang berhembus lembut kini menjadi brutal, menerbangkan tiap helai rambut wanita paruh baya di depanku yang menganggukan kepalanya dengan begitu yakin.


Drrtt ...


Kamjagiya ... Aku dan bu Endang kompak berjingkat kaget melihat nama yang tertera pada layar ponsel yang terletak di atas meja.


"Aku angkat telepon suami dulu ya Bu?" ujarku lalu menyambar handphone yang masih berdering.


"Aku juga pamit pulang, mau angkatin jemuran. Padahal tadi cerah kok tiba-tiba mendung dan berangin gini." Bu Endang beranjak dari duduknya, dengan berlari kecil meninggalkan halaman rumahku menuju kediamannya.


Aku terhanyut menatap cara bu Endang berlari, hingga melupakan handphone yang sudah berhenti berdering. ,Ada sesal menyelimuti kalbu, saat diri ini mengabaikan telepon pertama dari suami setelah berpisah beberapa menit.


Dengan gontai kulangkahkan kaki ke dalam rumah. Seakan semua tulangku lolos dari raga yang bergantung padanya. Kemudian menelungkupkan diri di atas kasur, lalu mengekspresikan kecewa dengan memukul-mukul bantal.


Tidak berselang lama dering handphone kembali memenuhi indra pendengaran. Bukan telepon dari Zain yang tertera di layar, melainkan panggilan vidio.


Aku segera bangkit dan merapihkan puncak hijab yang sudah terlanjur lepek dengan meniupnya, tak lupa juga membenahi anak rambut yang mencoba mengintip dari balik hijab.


"Ekhem." Aku mengecek suaraku sebelum mengusap ikon biru bergambar kamera.


"Rayya ka_"


"Biasakan awali dengan salam. Assalamu'alaikum."


"Oh, oke. Assalamualaikum."


"Waallaikumussalam."


"Kamu masih di rumahkan?" Mimik wajah Zain terlihat begitu panik.


"Iya, kenapa?" tanyaku seraya senyum-senyum.


"Tolong antarkan berkas yang ada di meja kamarku ke kantor, aku harus meeting dengan klien lima belas menit lagi. Antarkan sebelum lima belas menit!"


Zain mematikan sambungan vidio secara sepihak, sebelum aku sempat mengutarakan pendapatku, bersedia atau tidak mengantar berkas tersebut.


Sebagai istri yang patuh, aku langsung menuju kamar Zain untuk mengambil berkas yang diinginkan. Berkas tersebut memang ada di atas meja, sesuai yang Zain gambarkan sebelumnya.


Saat tanganku meraih berkas tersebut, mataku tertarik pada laci yang sedikit terbuka. Nampak foto yang terlipat menjadi dua bagian. Foto Zain dan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya, tangan lentik dengan kulit putih dan mulus yang menandakan pemiliknya seorang wanita.


Haruskah kubuka sebagian foto yang terlipat?