
"Aku gak pernah mendiamkan, Mas Zain?" bohongku, sebenarnya memang, iya. Aku tengah mencoba menjaga jarak agar hati ini tidak semakin bergejolak saat beradu tatap dengannya.
"Lagipula, mana ada berhari-hari, pagi aku selalu memanggilmu di kamar untuk sarapan, untuk makan siang dan malam pun aku melakukan hal sama. Perasaan Mas Zain aja, kali." Lagi, aku mencoba mensugesti Zain.
Zain hanya diam saja, tak menanggapi ucapanku, juga tak bergeser dari tempatnya barang satu senti saja. Membuatku menjadi gerah karena situasi ini.
"Mas Zain, mau kemana sih? Aku gak tau Mas Zain mau pake baju seperti apa!" Aku kembali bermonolog, berharap Zain secepatnya menentukan pilihan agar aku juga bisa secepatnya pergi dari kamarnya. Mana kulit tangan kami saling bersentuhan lagi, ish ....
"Menurutmu, aku cocok pake apa?"
"Semua cocok, Mas Zain tetap menawan mengenakan pakaian apa pun." Karena jawabanku barusan, kedua tangan ini segera menutup mulut yang keceplosan. Kini aku terdengar sedang merayunya, gak sih?
Aku tidak berani memutar tubuhku untuk melihat ekspresi wajahnya. Suasana menjadi begitu hening dengan backsound dentingan jarum jam. Situasi macam apa ini?
"Yang inikah yang membuatku menawan? Yang membuat wanita tak bisa menolak lamaranku?"
Tangannya terulur melewati bahuku, mengambil kemeja berwarna biru tosca. Seketika anganku melayang pada waktu pertama kali melihat Zain datang melamar pada waliku. Ia mengenakan bajunya dengan menggulung kedua lengan hingga ke siku.
Ya Allah, apa lagi ini? Di saat aku memutuskan untuk menyerah, di saat itu pula aku kembali diingatkan pada saat awal menerima pernikahan ini.
"Rayya!" panggilnya, membuatku tersentak dari lamunan.
"Bisa bantu aku memakainya?"
Kali ini apalagi? Dari kemarin Zain bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanku!
Kini aku dan Zain saling berhadapan setelah aku memutar tubuhku, kemeja itu sudah ada di tangannya. Mungkin karena aku begitu sibuk pada angan masa lalu, hingga membuatku tak menyadari Zain telah mengambil kemeja tersebut dari gantungannya.
"Sini." Kuambil kemeja dari tangan Zain, perlahan membantu mengenakan mulai dari tangan kanannya yang masih di bungkus gips, lalu tangan kiri dan berakhir dengan mengancing bajunya.
"Tolong gulung sekalian!" Zain menjulurkan tangan kirinya, segera kupatuhi keinginnannya tersebut, kudahului dengan menggulung sebelah kanan, lalu ke sebelah kiri.
Oke, selesai. Saatnya kembali menjauhi Zain. Aku tak mau terlarut dalam gegana, jika terus berada di dekatnya.
"Aku akan menunggu di meja makan," titahku dan segera beranjak dari hadapannya, namun tak jadi, Zain mencekal pergelangan tanganku.
"Apalagi?" tanyaku lesu.
"Kamu akan membiarkanku terus memakai handuk?"
Zain membuat wajahnya terlihat memelas, sedangkan aku hanya bisa menghembuskan napas dengan kesal. Aku kembali berbalik menghadap lemari, mengambil celana berwarna hitam yang sama, seperti yang Zain gunakan pada malam itu.
"Pake sendiri," perintahku seraya menyerahkan celana itu di tangan kirinya. "Terlalu berlebihan jika aku juga harus membantumu mengenakannya. Zain bukanlah anak kecil yang manja. Dari kemarin pun, bisa melakukannya sendiri," ucapku sengaja melukai egonya.
Benar saja, kali ini Zain tak mengeluarkan sepatah kata pun, saat melihatku melenggang dari kamarnya. Aku berjalan menuju dapur dengan dada sesak, karena sikapku bertentangan dengan hati nurani.
Lima belas menit, aku sudah menunggu Zain selama itu di meja makan, namun Zain tak kunjung turun. Apa Zain tengah merajuk, karena aku tak membantunya memakai celana? Ish ...
Tak sabar karena tiga puluh menit berlalu dengan sia-sia, aku memutuskan kembali ke atas, menghampiri Zain. Belum separuh perjalanan, aku di kejutkan tampilan Zain yang menuruni anak tangga menggunakan kaca mata hitamnya.
"Apa?" tanyanya yang melihatku bersandar pada dinding dan menatapnya dari kejauhan dengan menyilangkan tangan di depan dada.
Zain menghentikan langkah, wajah yang berpendar ceria kini menjadi datar. Tangannya meraih kaca mata hitam dari tempatnya, melepaskan kemudian menatap lensa hitam itu dan meniupkan udara dari mulutnya. Aku pikir ia akan mengenakan kacamata itu kembali, ternyata hanya ia simpan dalam saku.
"Apa ada tukang urut setampan aku?"
Entah mengapa Zain mendadak menjadi narsis setelah mengalami kecelakaan, kukira karena ada jin yang menempel padanya sehingga sempat kubacakan ayat kursi. Ternyata ayat kursiku tak cukup berpengaruh, haruskah kubacakan satu surat Al-Baqarah hingga selesai?
"Ikut aku, kita pergi ke kantor!" pintanya seenak jidat, padahal ia sendiri yang bilang tidak akan pergi ke kantor. Rendy juga pasti akan datang seperti hari-hari sebelumnya.
"Pergi sendiri, aku lebih baik sarapan. Tiga puluh menitku terbuang percuma untuk menunggumu memilih kacamata," tolakku tegas, tanpa menunggu persetujuannya aku balik kanan dan kembali ke meja makan.
Aku mengambil peralatan makan, mengisi piring dengan satu centong nasi beserta lauknya. Zain yang mengekori langkahku menarik kursi yang berada di sampingku berdiri, kemudian dengan nyaman ia menghempaskan pantatnya pada kursi tersebut.
"Aku mau itu!" tunjuknya pada tahu bacem yang aku masak pagi tadi. Malas berdebat dengannya, segera kuturuti hal tersebut. Padahal niat awal, aku mangambil untuk diriku sendiri.
"Kamu tidak menyuapiku?" Alisnya berkerut saat aku meletakan piring yang telah berisi nasi dan lauknya di hadapan Zain dengan kasar. Aku memutar bola mata bosan, menarik salah satu kursi dan duduk berhadapan dengan Zain.
"Rendy menelepon, dia tidak bisa ke rumah, jadi kuputuskan aku yang akan datang ke kantor. Lagipula, aku tidak sakit hanya untuk sekedar ke kantor. Kamu ikut ya? Bantu aku mengecek berkas yang harus kusetujui hari ini!"
Aku membulatkan mata dengan ajakannya. Zain yang tiba-tiba terbuka dengan kegiatannya saja sudah membuatku terkejut, sekarang ditambah dengan mengajakku ke kantor. Aku mau ngapain?
"Aku tidak tahu apa pun tentang pekerjaanmu, Mas. Ngapain aku ikut?" Aku menolak ajakan Zain sambil menyuapinya.
Hari ini, sebetulnya aku sudah janjian bertemu dengan pak Jamil secara langsung. Dia ingin berbicara secara empat mata denganku tentang hasil penyelidikannya beberapa hari belakangan ini.
"Kalo kamu gak ikut, terus siapa yang menyetir?"
Untung sudah kubentengi hati ini, saat Zain tiba-tiba mengajak ke kantor. No baper. Ternyata cuma butuh supir.
"Meskipun aku ikut, yang menyetir pun tidak ada." Aku mengendikkan bahu, menarik salah satu ujung bibirku ke belakang. Meyakinkan Zain kalo aku tidak bisa memenuhi keinginannya.
"Kamu harus tetap ikut!"
"Jalan kaki?"
"Kan bisa pesan taksi online."
"Oke, aku pesankan."
Zain kembali mengerutkan keningnya ketika aku menaruh sendok ke atas piring, kemudian mengambil handphone yang tergeletak di atas meja. Sebelum aku menyentuh ikon bergambar mobil, Zain meletakkan tangannya tepat di atas layar handphone. Membuatku mengalihkan pandangan dari benda pipih tersebut ke wajahnya.
"Kamu mau menemaniku 'kan?" Intonasi suaranya begitu lembut, membuatku mengedipkan mata berkali-kali.
Kali ini, aku tidak bisa memenangkan perdebatan dengan Zain. Dengan terpaksa kutunda pertemuanku dengan pak Jamil hingga pulang, setelah menemani Zain ke kantor.
Setelah menyelesaikan sarapan, aku dan Zain menunggu pesanan taksi di teras depan. Seketika, aku dikejutkan dengan tangan yang melingkar di pinggangku, perlahan menyeret tubuhku hingga benar-benar rapat dengan tubuh pria yang menatapku begitu dalam.
Jantungku seolah berhenti berfungsi, tanpa memberi waktu padaku untuk memahami situasinya, Zain telah mendaratkan ciuman pada bibirku.