Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Aroma mint


"Rayya!"


"Kak Tasya?"


"Aku baik-baik saja, Kak!" Tanganku menahan langkah kak Tasya yang hendak memelukku.


Mungkin yang kudengar juga didengar kak Tasya. Aku tidak tahu kapan persisnya ia berada di belakangku.


Bersamaan dengan hal itu, Zain dan papa mendekat. Terlihat ketegangan di wajah keduanya. Aku justru berjalan melewati mas Zain untuk menghampiri mama yang tetap tak beranjak dari brankar.


Kupeluk wanita yang telah membelaku di hadapan pelaku, yang notabenenya adalah putranya sendiri. Perlakuan putranya tak bisa merubah rasa sayang dan hormatku pada wanita dalam dekapanku.


"Aku bisa jelaskan, Dek!" Suara mas Zain terdengar menginterupsi dari belakangku.


"Tidak perlu, Mas. Aku sudah mendengar semuanya!"


Kutatap manik mata coklatnya meski pandanganku sudah terasa buram, karena air mata yang mulai berdesakkan. Memberitahunya bahwa aku akan tetap kuat dengan senyuman.


Ditariknya tangan ini sedikit menjauhi mama.


"Kamu harus dengar penjelasanku, Dek. Aku tidak mau ada salah paham antara kita."


"Mas, bukankah kita di Rumah Sakit? Kenapa harus meributkan masalah seperti ini. Sebaiknya kita jaga perasaan mama, agar cepat pulih."


"Dek--"


"Assalamualaikum."


"Waallaikumussalam."


Kami yang berada di dalam ruangan hampir serempak menjawab salam seseorang di balik pintu. Suara yang familiar bagiku.


"Tante Aira!"


"Bagaimana Tante dan Om Rahman ada di sini?" Di tengah pelukan sang wanita, aku seperti meracau. Air mata mengalir karena sudah tak tertahankan lagi.


"Zain menelepon tante beberapa menit lalu. Kebetulan kami berada di Jakarta. Om kamu ada seminar di sekitar sini, jadi sekalian kemari, jenguk Mbak Renata sama kamu juga."


"Aku kangen sama Tante."


"Tante juga kangen sama kamu. Setelah punya suami kamu lupa sama tante. Gak kepingin ketemu Saffa sama Gea?"


"Aku kangen Saffa dan Gea juga."


Setelah melepaskan pelukan, tante Aira menatap wajahku yang telah di banjiri air mata.


"Apa ini, Sayang!" Kedua tangannya digunakan menangkup wajahku.


"Kalau seperti ini, nanti orang ngiranya Zain yang bikin kamu nangis. Udah dong, Sayang. Tante ada di sini, kita bisa kangen-kangenan sepuasnya."


"Sudah punya suami kok jadi cengeng. Mana Rayya yang selalu ceria dan selalu bikin keributan bahkan untuk menentukan mau di atas apa di bawah."


"Mas!" Tante Aira memukul tangan om Rahman yang hampir saja memencet hidungku yang sudah penuh dengan muatan.


"Orang lagi sedih masih digangguin aja!"


Om Rahman hanya tersenyum menanggapi omelan istrinya. Zain pun tersenyum meski kikuk.


"Apa kabar, Om," sapa Zain pada pria yang baru saja mengacak puncak hijabku. Lalu keduanya saling berpelukan.


"Bagaimana tanganmu, Zain? Maaf, waktu Rayya memberi kabar kamu terluka, kami tidak bisa datang menjengukmu."


"Gak papa, Om. Sudah baikan juga. Anak-anak tidak kelihatan, Om?"


"Saffa harus sekolah, sedangkan si bungsu kami titipkan sama omanya. Kasihan jika harus menempuh perjalan jarak jauh." Tante Aira yang menjawab pertanyaan mas Zain.


Kini tante Aira mendekati mama, memeluknya dan saling bertanya kabar. Begitu juga om Rahman pada papa. Tasya masih di tempatnya berdiri, aku tahu ia begitu canggung untuk membaur dengan keluarga kami.


*****


"Dek, makan dulu. Aku tahu kamu belum makan apa pun dari tadi."


"Aku tidak lapar, Mas. Tawarkan ke Kak Tasya saja, dia belum makan juga."


Setelah penolakkanku, bok makanan yang terbungkus plastik akhirnya mas Zain letakan di kursi sebelah kananku. Sedangkan ia duduk di sebelah kiri.


Selain menawarkan makanan, tidak ada percakapan di antara kami bertiga, meski kami duduk membentuk garis lurus. Sebelum juga setelahnya.


"Dek, maafkan aku, ya. Aku bisa jelaskan semuanya."


"Dek, ngomong dong. Lebih baik aku dimarahin sama kamu, daripada aku didiemin kamu kayak gini."


Kali ini juga sama, hembusan napas kasar sebagai jawaban atas penolakkanku bicara dengannya.


Ternyata mas Zain beranjak dari duduknya, kemudian bersimpuh di hadapanku.


Tanganku yang semula kuletakan di atas paha, segera kulipat di depan dada, sebelum mas Zain menyentuhnya.


"Dek, kalau kamu terus begini, aku akan menciummu. Tidak peduli kita di tempat umum dan dilihat banyak mata."


Responku saat ini mengedipkan mata dua kali. Bisa-bisanya mas Zain memiliki ide aneh tersebut untuk meluluhkanku. Emang dia pikir aku mesum banget, apa gimana?


Tangannya yang semula berada di lututku, bergerak menuju pinggangku. Kini benar-benar tangan itu melingkar di sana.


Apa mas Zain akan berbuat nekat? Jika, iya, mungkin lututku bisa ikut bicara.


"Aku bukan lagi gertak, Dek. Kulakukan sekarang jika kamu gak percaya."


"Rayya!"


"Bang Adam!"


Aku segera menyingkirkan tangan mas Zain yang melingkar di pinggangku, kemudian beranjak dari dudukku saat melihat bang Adam melafazdkan namaku.


Tak peduli perjuangan mas Zain yang sudah setengah jalan, hendak mendaratkan ciumannya.


Kusingkirkan mulutnya dengan telapak tanganku supaya aku bisa melangkah lebih dekat pada bang Adam.


"Mau jemput Dokter Wanda, ya, Bang?" Senyum tiga jari kusertakan di hadapan bang Adam.


"Kamu ngapain di sini? Datang ke Rumah Sakit, beneran dah jadi hobi-mu?"


"Ah, Abang. Mana ada kayak gitu." Bukan sekedar reflek aja, tapi memang disengaja kutepuk lengan kokohnya.


"Rayya! Aku masih ingin hidup lebih lama!" ucapan bang Adam membuatku melebarkan mata.


"Maaf ya, Bang. Sakit, kah?" Kini ku elus-elus lembut lengan yang kupukul tadi dengan penyesalan.


Tak disangka, dibalik badan kekarnya ternyata merasa kesakitan karena dipukul wanita. Padahal gak kencang-kencang amat, aku mukulnya.


"Berasa malaikat pencabut nyawa, satu langkah lebih dekat." Bang Adam malah semakin meracau.


Kuputuskan untuk mendekatkan hidungku mengendusnya, siapa tahu bang Adam tengah mabuk. Ternyata hanya bau aroma mint.


"Rayya! Kamu bisa bikin abang jantungan kalo gini." Bang Adam mundur satu langkah. Aku maju satu langkah pula.


"Kita di Rumah Sakit, Bang. Sekalian chek-up jantung, aja!"


"Bukan itu maksudku!"


"Terus, maksudnya apa, Bang?" Kutanyakan dengan polos.


"Lihat ke belakangmu!"


Kuikuti petunjuk bang Adam.


Ternyata mas Zain yang tengah berdiri di sana. Tangannya terlipat di depan dada, sorot matanya tajam dan fokus menatapku seperti elang.


Maaf, aku tak gentar.


"Begitulah, Bang. Biarkan saja," ucapku kembali menghadap pada bang Adam.


"Oh, lagi berantem? Kenapa harus menyeretku ke dalam masalah kalian?"


"Gak! Aku gak bermak--" ucapanku terpotong kerena mas Zain menarik tanganku hingga aku mundur tiga langkah.


"Jangan kasar pada istrimu, Zain!"


Tangan bang Adam sudah bertengger pada lengan mas Zain yang ia gunakan untuk menarikku.


Sepertinya ini bisa menjadi kesalahpahaman yang besar, jika aku tidak menjelaskan yang sebenarnya. Mas Zain hanya menarikku, tidak kasar sama sekali.


"Jangan ikut campur!" Mas Zain berusaha menepis tangan bang Adam. Tapi sepertinya bang Adam mencengkeram lengan mas Zain semakin erat.


Ya Allah, kenapa semua harus berakhir seperti ini.