Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Jodoh yang digariskan Tuhan


"Kenapa sih, Dek. Kenapa kamu marah sama aku?"


Aku duduk di pinggir kasur, mas Zain pun sama, duduk di sebelahku. Tapi aku tetap diam, aku gak suka lihat mas Zain berduaan sama Tasya. Ditambah kalimat malam ini kamu cantik. Nyesek.


"Cerita deh, apa yang bikin kamu marah ke aku?"


Kenapa sih, pria tuh gak pernah peka, apa yang bikin wanitanya marah.


"Gak boleh lama-lama loh, Dek, marahnya."


"Baru tiga belas menit, belum tiga hari!"


"Oh, oke. Satu hari 24 jam, tiga hari jadi 72 jam, dikurangi 13 menit, jadi tinggal 71 jam 47 menit." Mas Zain menggumam.


Aku menautkan alis, memfokuskan penglihatan saat mas Zain beranjak mendekati jam di dinding. Mengambilnya, memutar seenak keinginannya, lalu memasangnya kembali.


"Beres. 71 jam 47 menit sudah lewat," ucapnya setelah jam dinding kembali ketempatnya. Tangannya berkacak pinggang dengan bangga.


Aku menghela napas, ingin rasanya nepuk jidat melihat kelakuan mas Zain.


Dengan senyum lebar, mas Zain berjongkok di depanku yang masih melipat tangan.


Ibu jari dan telunjuk di tempelkan pada ujung bibirku, kemudian menariknya ke belakang.


"Udah gak boleh marah, begini kan lebih cantik."


"Apaan sih, Mas!" Kutepis tangannya, aku semakin mengerucutkan bibir.


"Maaf."


"Untuk?"


"Semuanya."


"Aku gak tahu kali ini salahku apa, tapi aku minta maaf karena membuat kamu marah. Jika sudi kiranya nyai tunjukkan kesalahan kang mas, supaya suatu saat tidak terulang kembali." Mas Zain menangkupkan kedua tangannya di depanku.


"Tak sudi!" Aku membuang pandangan. Jangan pikir aku akan luluh hanya karena lelucon seperti itu.


"Oke, jika aku tidak dibutuhkan di sini, mungkin di tempat lain membutuhkanku." Mas Zain beranjak. Mau tak mau aku menoleh ke arah mas Zain pergi.


"Jangan nyariin yah, kamu di sini aja. Aku mau nengokin Tasya dulu sebe--"


"Jangan." Kupeluk suamiku dari belakang Sebelum tangannya meraih kenop pintu.


Mas Zain kemudian berbalik. Membuatku kini saling berhadapan dengannya.


"Aku denger semua yang kamu obrolin sama tante Wanda." Satu kecupan di kening kudapatkan yang membuatku tersipu.


"Kenapa masih pura-pura marah sama aku, jika di belakangku kamu membelaku?"


Aku jadi makin tersipu, menyembunyikan wajah ini di dadanya.


"Aku ... gak suka Mas Zain bersikap lembut pada wanita lain," gumamku yang kurasa masih bisa di dengar mas Zain.


"Dia kakakmu, lagi sakit juga."


"Kakakku pun bukan muhrim buat, Mas Zain."


Kujauhkan tubuhku dari mas Zain. Aku teringat saat ini kami juga bukan muhrim.


"Mas, kenapa kita sering peluk-peluk. Kita bukan muhrim sampai akad kita diulang," ucapku panik. Mas Zain malah tersenyum dan menarik tubuhku kembali.


"Sebentar lagi, Sayang."


Jika dua insan yang bukan muhrim berduaan, pihak ketiga memang selalu syaitan. Udah tau gitu kenapa aku nurut aja bermanja-manja dalam pelukan sang pria.


"Kita bisa bicarakan nanti waktu makan malam. Kalau bisa, sekalian nyari ustadz di sekitar sini untuk membantu mengucapkan ijab di depan seluruh keluargamu."


Aku hanya mengangguk dalam dekapan suamiku.


*****


"Mau mengulangi akad, memang kenapa?"


"Karena sebelumnya Zain menikahi Rayya dengan nasab pada mas Aziz. Yang seharusnya Rayya tanpa nasab. Jadi mereka mengulang akad agar sah secara syar'i." Tante kesayanganku membantu mas Zain menjelaskan pada mama Wanda.


"Kenapa kita tidak membuat pesta saja?"


"Gak usah, Mah. Cukup ustadz saja. Penghulu dan resepsi tidak perlu, kami masih sah secara hukum negara, kok, Mah!"


"Harus banget ya, malam in--"


"Iya." Aku dan mas Zain menjawab bersamaan. Membuat semua orang yang ada di meja makan saling pandang.


"Besok siang saja. Mama ingin lihat putri mama menjadi ratu sehari."


"Gak usah, Mah. Ustadz aja cukup, kok. Lagian aku juga sudah pernah jadi ratu sehari, itu capek banget, Ma. Aku gak mau lagi," rengekku. Karena sejujurnya resepsi sudah bukan hal yang penting lagi buatku, mungkin buat mas Zain juga.


"Padahal mama ingin berfoto dengan putri mama saat mengenakan baju pengantin." Mama terlihat kecewa. Jadi, pandanganku kualihkan pada mas Zain, berharap ia memiliki solusi dari masalah ini.


"Kita bisa buat resepsi kapan saja, Tante. Yang penting akad saja dulu. Kalau bisa malam ini," ucap suamiku, untuk meyakinkan mama Wanda.


"Kesannya kalian memaksa harus akad malam ini, memang gak bisa, ya, Zain. Ditunda sehari, gitu ?" Setelah lama menyimak akhirnya bang Adam buka suara dibarengi dengan tawa dari om Rahman.


"Sepertinya kamu juga harus secepatnya menikah, Dam. Biar bisa memahami kegelisahan pengantin baru yang berpisah selama tiga pekan."


Om Rahman masih tertawa bahkan saat meledek bang Adam. Atau mungkin ledekannya tertuju padaku dan mas Zain. Yang jelas aku tengah menahan malu, kurasa kini semua mata tertuju padaku.


"Aku permisi dulu, Ma. Semuanya."


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Aku hm ...."


"Oke. Gak papa. Biar kami di sini yang akan berdiskusi dengan Zain jika kamu malu."


Ya elah, mama. Pake disebutin segala. Udah tahu menghindar karena malu, malah dibikin tambah malu.


Setengah berlari aku kembali menuju kamar, meski sebetulnya perut ini masih lapar. Mungkin hanya tiga sendok nasi yang baru masuk ke dalam perutku.


Jam di dinding menunjukkan pu kul 21 : 17. Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi mas Zain belum juga menemuiku. Apa mungkin mereka merubah keputusan sebelumnya.


Sambil menatap lampu yang berada tepat di atasku berbaring. Aku kembali teringat saat usai akad terucap yang terasa menghancurkan duniaku, dulu. Kini duniaku berputar di sekitar lelaki itu dan aku tengah menunggu akadku dengan orang yang sama beberapa bulan lalu.


Jodoh yang sudah digariskan Tuhan memang akan selalu kembali bersama apa pun rintangannya.


"Dek." Suara mas Zain memasuki kamar. Aku yang sudah tidak sabar menunggu keputusan mereka segera bangun untuk menyongsong suamiku.


"Gimana, Mas?"


"Cepat bersiap, sebentar lagi ustadznya sampai. Tapi, hm ...."


Aku mengerjapkan mata, menanti kalimat yang digantung mas Zain. Sepertinya ada sesuatu yang cukup serius untuk dikatakannya.


"Kenapa, Mas. Ada masalah?"


Mas Zain tidak menjawab, wajahnya terlihat bingung, ditambah dengan menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa, Mas. Jika tidak bisa malam ini, gak usah di paksakan. Aku masih bisa nunggu, kok. Jika masih ada kendala."


Mas Zain tetap dengan diamnya, wajahnya semakin datar. Aku jadi semakin khawatir melihat mas Zain seperti ini.


Kuraih tangannya, mengukungnya dengan jari-jariku yang lebih kecil darinya. Mencoba memberi kekuatan pada lelakiku yang mendadak berubah setelah tiga puluh menit berlalu.


"Gak papa, Mas, masih ada hari lain."


"Maaf, ya, Dek. Tante Aira ...." Kembali terjadi jeda panjang setelah mengatakan beberapa kata.


"Sebetulnya ada apa sih, Mas. Kenapa dengan tante Aira?"


"Aku tidak bisa membujuk tante Aira dan om Rahman," ucapnya masih dengan mimik wajah sama. Perlahan, mas Zain mendekatkan wajahnya padaku.


"Mereka memberikan kesempatan pada kita untuk menciptakan generasi baru. Jadi mereka memutuskan menginap di sini."


Mendengar mas Zain membisikkan hal itu di telingaku. Tangan ini tak tinggal diam untuk mencubit perutnya.


"Jantungku hampir saja lepas dari tempatnya, bisa-bisanya mas Zain hanya mengerjaiku."


Aku begitu geram, dengan tangan yang terus menyasar pada seluruh permukaan perutnya, yang ternyata tidak membuatnya kesakitan malah semakin tertawa.