
"Habiskan makananmu, setelah itu segera bersiap, kita akan pulang," ucap Zain sembari menata pakaiannya dalam koper.
"Ya," balasku dengan mulut penuh makanan. Rasa lapar tidak lagi membuatku berpikir untuk menjaga image di depan Zain.
"Apa kita akan kerumah tante Aira dulu sebelum ke Jakarta?" tanyaku saat tengah merapikan semua barang ke dalam koper.
"Ya. Meski sekarang aku punya hak penuh atasmu, aku juga harus meminta izin pada tantemu untuk membawamu bersamaku."
DEG...
Hatiku kembali tertampar realita, benarkah sebaik ini lelaki yang kini bersetatus suamiku? Jika ia begitu peduli padaku, seharusnya ia bicarakan baik-baik tentang perjanjian itu tanpa perlu mengancamku. Sebagai seorang istri, aku pasti akan memahami jika Zain sedang memiliki masalah. Aku menyesal menyanggupi kesepakatan karena uang.
Ah tidak. Zain memang seharusnya meminta izin pada tante Aira sebagai waliku sebelum membawaku pergi dengannya. Meskipun statusnya kini adalah suamiku, hal ini sudah wajar dilakukannya untuk menghormati orang yang lebih tua.
Keputusanku membuat kesepakatan karena uang tidak sepenuhnya salah. Bisa saja Zain akan kembali berulah jika aku jauh dari keluargaku. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan dilakukan Zain, bila sudah dalam mode manusia menyebalkan.
"Kamu kenapa?" Zain menggelengkan kepalanya setelah melihatku melakukannya.
"Tak ada alasan."
Aku dan Zain berjalan saling beriringan setelah keluar dari kamar hotel. Kami hanya sibuk dengan pikiran masing-masing hingga di lobby hotel.
Tampak seorang wanita yang tengah berdiri di lobby, menyambut kedatangan kami dengan senyuman. Wanita yang tidak asing bagiku, ia mengenakan setelan blouse berwana navy dan celana dengan warna senada. Wanita yang duduk bersama Zain di restoran, pemicu rasa malu yang harus ku tanggung karena meminum juz anak orang.
"Maaf ya, membuatmu menunggu lama?" Ucap Zain begitu ramah pada sang wanita setelah berdiri di hadapannya.
"Gak masalah, Kak." Balas sang wanita tanpa mengurangi senyum di wajahnya.
"Maya. Kenalin ini istriku. Rayya." Zain mengenalkanku pada wanitanya, dan sang wanita bernama Maya segera mengulurkan tangan.
"Kami udah kenal," ucapku datar tanpa berniat menyambut tangan Maya.
Maya adalah anak tetanggaku, tukang ghibah di komplek yang membuat hoax aku mendadak nikah karena kecelakaan. Dunia memang begitu sempit, netizen dan korbannya ternyata saling mengenal.
"Aku akan mengantar Maya pulang, kebetulan rumahnya searah dengan tante Aira." Zain kembali menjelaskan, yang sebenarnya aku tidak peduli.
Setelah sampai di depan mobil, Zain menarik tanganku yang hendak membuka pintu belakang. Aku pikir akan membiarkan mereka berdua duduk di depan, ternyata Zain mendudukanku di sampingnya.
Belum berapa lama kami berkendara Zain menepikan mobil. Aku meminta pada Zain untuk berhenti sejenak karena kepalaku terasa pusing dan perutku begitu mual. Biasanya aku aman-aman saja bila berkendara, aku bukanlah tipe orang yang mabuk kendaraan.
Setelah mobil berhenti, aku bergegas keluar dan berjongkok di tepi parit kecil, mengeluarkan semua isi dalam perutku. Zain pun ikut menghampiri dan membantuku memijit tengkuk, sama sekali tak terlihat canggung saat mengurusku.
"Jadi benar rumor kalian menikah karena kecelakaan?" tanya Maya yang mengikuti Zain turun menghampiriku.
Hoek ... perutku kembali mual mendengar pertanyaan Maya. Tidak bisa bedain ya? Mana mabuk kendaraan mana mabuk Baby.
"Selamat ya, udah berapa bulan usia kandungannya?" Maya kembali berceloteh, aku tak sanggup membalas ucapannya karena terlalu lemas juga malas.
"Baru satu pekan," jawab Zain yang langsung kuhadiahkan lirikan mata.
Satu pekan dari mana, tidur seranjang pun belum pernah. Mulai tidak beres nih otaknya Zain, ngapain ocehan Maya pake ditanggapin segala.
"Aku dan Rayya baru bertemu satu pekan yang lalu, jadi rumor itu bohong."
Dari pembicaraan mereka selama dalam perjalanan, aku mengerti ternyata Zain panitia ospek selama Maya menjadi maba di kampusnya. Seorang senior yang mengantarkan pulang juniornya, Zain memang penuh perhatian. Aish ... mikir apa aku.
"Assalamualaikum." Zain mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah tante Aira. Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan Zain dari kursi teras, untuk saat ini aku tidak bisa melakukan apapun selain meletakan kepalaku pada meja.
"Waallaikumussalam," jawab tante Aira dari dalam rumah sebelum membuka pintu untuk Zain.
Aku memasuki rumah dengan dipapah oleh Zain. Sebenarnya aku bisa berjalan sendiri, tapi entah kenapa Zain bersikeras membantuku. Mungkin hati nuraninya merasa terpanggil sebagai seorang suami siaga. Semoga ada ketulusan di dalam kepura-puraan, eh.
"Kamu kenapa?" tanya tante Aira sambil menyeka peluh di dahiku, setelah aku duduk di sofa.
"Aku_"
"Bergadang semalaman tante." Zain memotong ucapanku. Kali ini aku membolakan mata untuk jawaban ngawur yang Zain lontarkan. Meski tidak sepenuhnya salah sih. Bagaimana kalo tante Aira dan om Rahman berpikir yang iya iya.
"Ooh." Sepasang suami istri itu kompak ber ho oh ria.
"Anak-anak kemana Tante, kok sepi?" ucapku memutus imajinasi mereka.
"Jam segini kan mereka biasa mengaji. Baru punya suami sehari, udah lupa aja sama hal lain." Tante Aira menyembunyikan senyumnya di balik lima jari. Tuh kan salah lagi.
"Sepertinya, Rayya perlu istirahat deh, Tante." Aku berdiri dari dudukku. Tak ingin terlibat lebih jauh dengan apapun yang akan membuat diriku semakin terpojok.
"Mau tante antar ke kamar?" Tante Aira memandangiku dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
"Gak usah Tante, Rayya bisa jalan sendiri."
"Mungkin maunya dianter sama Zain." Om Rahman tersenyum, lalu memandangiku dan Zain bergantian.
"Oke." Setelah membalas tatapan om Rahman Zain pun ikut berdiri, meraih tanganku dan membimbing langkahku menuju kamar. Kutinggalkan suami istri yang suka jahil itu di ruang tamu.
"Ini kamarmu?" Zain berucap setelah masuk kedalam kamarku. Ini pertama kalinya ada seorang pria memasuki ruangan paling pribadi yang kumiliki.
Zain melipat tangannya di depan dada, matanya memindai seluruh isi ruangan berukuran 3 x 3 m² dengan seksama. Langkahnya berhenti tepat di depan meja yang di atasnya terdapat bingkai foto seorang pria. Dengan secepat kilat langsung kuambil bingkai foto tersebut sebelum tangan Zain menyentuhnya.
"Ternyata kamu sudah lama mengidolakanku." Eksistensi matanya berpusat pada tanganku yang menyembunyikan bingkai foto di belakang tubuh. Segera ku simpan benda tersebut kedalam laci dan menguncinya saat Zain melangkah ke arah yang lain.
"Aku sangat lelah, aku akan tidur dulu sebentar." Zain mengambil bantal dan meletakannya di lantai bersama dengan tubuhnya.
"Kenapa tidur di bawah?" Tanyaku sedikit iba.
"Sama aja."
"Apanya?"
"Kasurmu. Sama kerasnya dengan lantai."
Astaghfirullah, pria ini benar-benar ...
Kasurku mungkin tidak sebagus kasur yang ia miliki, tapi apa iya, harus mengatakan dengan begitu jujur?