Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Ingin Dicintai


"Kenapa aku yang bertanggung jawab? Mas Zain, yang memulai lebih dulu." Aku tak terima, hari ini aku lebih banyak menghindar, justru Zain yang memancing keributan sepanjang hari ini.


"Hari ini, aku yang memulai lebih dulu. Tapi jauh sebelumnya, kamu yang telah menggodaku."


"Kapan?" Aku menginterupsi. Aku tidak merasa telah melakukan hal yang dituduhkan Zain.


"Menatapku diam-diam, sengaja menangis agar bisa dipeluk olehku, suka tiba-tiba muncul di kamarku ssetelah aku mandi. Apa itu, jika bukan menggodaku?"


"Ah, lagi. Suka memancing otakku untuk traveling dengan ucapanmu."


"Gak pernah!" Aku menyangkal, juga tersipu malu disaat bersamaan. Dari semua yang Zain sebutkan, tidak semuanya benar. Kadang didukung oleh ketidaksengajaan.


"Tujuanku bukan untuk menggodamu, tapi ...."


"Apa?" Zain tak sabar menunggu ucapanku yang menggantung. Matanya tak pernah lepas dari wajahku.


"Aku ... aku tak bisa bernapas, Mas. Tolong menjauh sedikit, dadaku seperti mau meledak."


"Gak, mau. Kalau kamu kehabisan napas, aku bisa kasih napas buatan!"


Aku mengerjapkan mata beberapa kali, ucapan Zain benar-benar ... sudahlah.


"Aku serius, Mas!"


"Aku juga serius, Sayang."


"Jangan ucapkan kalimat itu lagi. Kemarin, makananmu jatuh, juga dibilang sayang!" protesku tak terima.


"Beda konsep, lah."


"Sama aja, dibilang sayang juga." Aku kekeh dengan pendapatku. Kutampakkan wajah kesal setelahnya.


"Mulai besok, panggilan sayang cuma buat kamu. Kalau makananku jatuh, nanti aku biarkan aja. Biar kamu gak cemburu," ledeknya, bersamaan dengan jarinya yang masih nakal mengusap bibirku. Menimbulkan arus pendek yang kian memanjang.


"Mubazir dong, kalo gitu?" Aku kembali berpendapat.


"Terus, kamu maunya gimana? Emang ya, apa pun selalu salah di mata perempuan!" Bahkan, jari itu kini semakin keterlaluan. Dicubitnya pipi ini, apa Zain pikir aku tidak kesakitan?


"Aku maunya, Mas Zain jelasin kenapa tiba-tiba seperti ini!"


"Apa ini? Kenapa merubah topik pembicaraan?" Zain menatapku dengan gemas. Ibu jari dan keempat jari lainnya ditekan di antara pipi kanan dan kiriku, membuat bibirku mengerucut secara otomatis. Kemudian, satu kecupan mendarat lagi di sana.


Diperlakukan demikian, aku hanya terdiam. Tidak membalas juga tak menolak. Aku hanya mendorong tubuh Zain, saat aku merasa stok udara di paru-paru mulai habis.


"Mas, kita kan terikat perjanjian untuk tidak skinship?"


"Perjanjian yang mana?" Zain pura-pura mengingat. Aku menutup mulutku dengan tangan, ketika Zain kembali menurunkan kepalanya.


"Aku lupa menaruhnya di mana. Yang jelas, perjanjian itu tak berlaku lagi."


Karena tak bisa meraih bibirku. Kecupan itu mendarat di kening, berhenti hingga lima detik, di tempat itu. Kemudian turun pada kelopak mata yang terpaksa aku pejamkan. Dari sisi kiri kemudian kanan.


"Apa yang terjadi, jika dulu aku tidak menerima perjanjian itu dan memilih penjara?" Sesaat setelah Zain menjauhkan wajahnya dariku, aku kembali bertanya. Memiringkan tubuhku hingga saling berhadapan dengan Zain.


"Itu hanya gertakan saja, aku tidak benar-benar akan memasukanmu ke penjara. Tapi, jika saat itu kamu memilih menyerah denganku, mungkin kini aku yang akan menyesal karena kehilanganmu."


"Mas?" panggilku.


"Hm."


"Aku terharu. Bolehkah aku nangis?"


Terdengar tawa ringan di telingaku. Zain tak menjawab, tapi tangannya merengkuhku lembut. Menepuk pundakku dengan perlahan. Itu artinya, dia mengijinkanku menangis di pelukannya.


"Maaf," ucapku lirih.


"Untuk apa?" jawabnya yang ternyata mendengarku berucap.


"Karena aku berpikir akan meninggalkanmu, suatu hari nanti." Suaraku bergetar, aku terisak hingga mengguncang bahuku.


Zain semakin mengeratkan pelukan. Aku pun melakukan hal yang sama hingga beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara. Aku mencoba menyelami perasaan Zain, yang pernah mengalami kehancuran setelah ia ditinggalkan oleh orang yang disayangi.


"Jika aku memilih bertahan, apa Mas Zain akan menerimaku dan mencintaiku?"


"Apa sikapku tidak cukup untuk membuktikan, aku sungguh-sungguh menginginkanmu?"


"Mas!" Kali ini kusudahi pelukan. Kudorong tubuhnya agar tercipta sedikit ruang di antara kami.


"Mencintai dengan menginginkan itu beda. Aku ingin dicintai bukan sekedar diinginkan." Aku menggigit ujung bibir bawah, mencoba mencari kosakata yang tepat untuk menjelaskan perbedaan dicintai dan diinginkan.


"Sama, lah, De!"


Aku mengernyitkan dahi. Zain mengganti panggilan yang sebelumnya 'sayang' menjadi 'de'. Pembahasan 'sayang' sebelumnya juga belum kelar, kini menggunakan panggilan lainnya.


"Panggilanku, diganti lagi?"


"Kamu panggil aku 'mas', jadi aku akan panggil kamu 'de'. Katanya gak mau disamain makanan yang jatuh."


Aku mengangguk, meng--iyakan pendapat Zain. Terserah Zain akan memanggilku apa. Yang terpenting bagiku saat ini, bukan tentang nama panggilan.


"Mas, menginginkan itu, hanya sebatas ingin memiliki raga. Tapi mencintai, dilakukan dengan segenap perasaan." Aku kembali menjelaskan dua kalimat tersebut yang menurutku memang berbeda makna.


"Aku ingin dicintai, bukan sekedar diinginkan." Kembali kuulang pernyataanku sebelumnya.


"De, aku menginginkanmu, karena aku mencintaimu!"


Darah ini kembali berdesir. Tiba-tiba udara di sekitar terasa panas. Kurentangkan lima jari untuk mengipasi area wajahku yang memang lebih panas dari yang lainnya.


"Istriku terlihat menggemaskan, jika tengah tersipu." Zain meraih daguku untuk memeriksa dengan seksama wajah tersipu istrinya. Aku yang begitu malu, segera membenamkan kepala pada dada bidangnya.


"Jadi gimana?" tanya Zain.


"Apa?"


"Hak--ku?"


"Bisa kudapatkan malam ini?"


Euforia--ku mendadak runtuh ketika Zain kembali menanyakan hak--nya, bukan aku tak mau menjalankan kewajibanku, tapi ....


"Tidak bisa!" Aku menolak tegas.


"Malaikat akan melaknat istri yang mengabaikan keinginan suaminya hingga pagi." Suara Zain, terdengar berbeda. Ia tengah menahan amarah.


"Tapi Allah akan marah jika aku menerima ajakkanmu malam ini."


"Kenapa Allah marah? Kita bukan pasangan Zina, dan aku hanya meminta hak--ku. Apa kamu belum bisa menerimaku, sehingga enggan melakukan kewajiban?"


"Sepekan lagi!" ucapku setelah melakukan kewajiban untuk meredam amarahnya dengan memberi kecupan di pipinya.


Aku segera menutup wajahku dengan kedua tangan. Rasanya begitu malu, melakukan hal itu untuk pertama kali.


"Kenapa aku harus menunggu sepekan lagi?" Intonasinya menurun. Mungkin Zain, tak semarah sebelumnya, setelah aku mengambil inisiatif untuk menciumnya lebih dulu.


"Aku berhalangan," ucapku tanpa membuka jari-jari yang menempel pada wajah, meski Zain bersikeras melakukannya.


"Tak perlu membohongiku, tadi kita juga sholat berjamaah bersama. Aku akan melakukannya dengan perlahan, jika alasanmu takut sakit!"


"Aku tidak bohong! Kita berjamaah saat sholat Maghrib, tidak untuk sholat isya. Mas Zain juga pergi ke masjid hanya bersama papa, kan?" Kuberanikan membuka tanganku untuk melihat ekspresi wajahnya yang terlihat kecewa.


"Bohong, kan? Kamu sholat di rumah, kan?" rengekannya membuatku merasa bersalah. Meskipun demikian, jawabanku tetap menggelengkan kepala.


"De, aku tidak bisa menunggu satu pekan lagi. Itu terlalu lama." Zain mengacak rambutnya, ia terlihat begitu frustasi.


Maaf ....