
"Ada apa ini?"
Kami serempak menoleh ke arah wanita yang bertanya. Dokter Wanda hanya berjarak lima meter dari kami dan semakin mengikis jarak dengan langkahnya.
"Apa ini Adam?"
Wah, Daebak. Hanya dengan melihat sorot tajam Dokter Wanda, bang Adam seketika melepaskan cengkeramannya. Aku bersyukur tidak sampai terjadi keributan di sini.
"Zain. Maafkan Ad--"
"Gak perlu minta maaf, Dok. Bang Adam sama sekali gak salah."
Zain melotottiku dengan mata bulatnya, bibirnya mengerucut tanda tak terima aku membela bang Adam. Tapi, bodo amat, lah.
"Terus aku yang salah?!"
Aku mengangguk penuh keyakinan, mengapresiasi pengakuan dari mas Zain. Hingga membuat mas Zain kembali mengangkat tangannya ke arahku.
"Zain!" bentak bang Adam.
"Apaan sih, orang mau merangkul istri sendiri, gak boleh?"
Mendengar jawaban mas Zain, aku menyingkir dari sisinya. Beralih mengambil tangan Dokter Wanda dan mencium punggung tangannya.
Aksiku membuat senyum bang Adam dan Dokter Wanda merekah. Namun, berbanding terbalik dengan mas Zain yang semakin menampakkan wajahnya yang kesal.
"Tasya!" Dokter Wanda melafazdkan nama wanita yang sedari tadi hanya menjadi penonton pasif.
Tasya berdiri, mendekat ke arah kerumunan di mana kami berada. Namun, tangannya yang terlipat di depan dada ia biarkan tetap begitu. Tak ada pergerakan untuk mengambil ridho dari tangan Dokter Wanda sebagai ibu sambungnya.
"Untuk beberapa hari ke depan, aku akan ikut ke rumah kalian. Tenang saja, aku tidak akan merepotkan kalian sama sekali. Aku hanya butuh tempat tinggal sementara."
Kami semua membeku mendengar ucapan Tasya yang begitu dingin. Aku baru melihat sisi lain darinya.
Mas Zain juga sepertinya baru mengenali sisi Tasya yang dingin. Nampak dari wajahnya yang juga terkejut. Pelan tapi pasti, mas Zain mendekat ke arahku. Meraih tanganku dan menggenggamnya.
Dasar modus. Mencari celah disetiap kesempatan.
"Kamu bisa datang ke rumah kapan saja, Sya. Itu rumahmu juga. Peninggalan ayahmu, untukmu!" Dokter Wanda nampak begitu hangat menanggapi ucapan Tasya yang dingin.
"Aku hanya ingin mengatakan hal itu!"
Saat Dokter Wanda ingin merangkul putri sambungnya. Tasya mundur beberapa langkah. Membuat Dokter Wanda menghentikan hal tersebut. Nampak jelas wajahnya yang kecewa. Sebagai putra, bang Adam segera memeluk sang ibu, menggantikan kekecewaannya karena Tasya.
Entah mengapa jika melihat kedekatan seorang anak dan ibunya membuat mataku menghangat. Aku melihat kehangatan mereka dengan pandangan yang semakin mengabur karena air mata semakin berdesakkan ingin keluar.
Aku sendiri tak pernah dipeluk oleh ibuku. Bahkan wajahnya saja aku tidak tahu seperti apa. Ayah seperti menghapus semua jejak tentang ibuku dariku. Hanya cerita yang saja yang tersisa. Ibuku meninggal saat melahirkanku.
Seperti tahu aku tengah berusaha keras menahan air mata, mas Zain mencoba merengkuhku. Tapi tunggu dulu, aku masih kecewa dengan pengakuan mas Zain tentang Tasya. Aku menepis tangan mas Zain sebelum pelukan itu benar-benar terjadi.
"Kenapa kalian di sini?"
Pertanyaan Dokter Wanda membuat aksiku yang tengah menatap tajam pada mas Zain terhenti. Mengalihkan pandangan pada sang Dokter yang bertanya.
"Mamanya mas Zain ada di sini." Aku menunjuk ruangan di belakangku dengan jari.
"Sakit apa?" tanyanya lagi.
"Hb-nya rendah." Kujawab sesuai yang papa informasikan sebelumnya.
"Boleh aku menjenguknya?"
"Silahkan, Tante." Kini Zain yang mempersilahkan, memberi jalan agar Dokter Wanda melangkah lebih dulu.
"Kok cuma mamanya mas Zain, bukan mamamu?"
Apaan coba, protes gak mutu. Gitu aja mau diributin.
Sebelum mas Zain bertanya yang gak mutu lainnya, aku menyusul langkah Dokter Wanda. Mengapit lengannya yang disambutnya dengan hangat. Tasya tak mengikuti dan kembali duduk pada tempat sebelumnya.
"Assalamualaikum." Aku dan Dokter Wanda mengucap salam bersaman saat memasuki ruangan.
Mas Zain dan bang Adam mengikuti di belakang.
"Waallaikumussalam," jawaban diperdengarkan oleh Papa dan Om Rahman yang duduk di sofa dan Mama juga Tante Aira yang masih di samping brankar.
"Mbak Wanda!" Tante Aira sepertinya mengenali perempuan yang tengah kugelayuti ini.
Kurasa keduanya sama-sama terkejutnya. Mungkinkah mereka teman sekolah sebelumnya?
Dari yang tante Aira selalu ceritakan, dulu keluarga kami pernah tinggal di Jakarta juga, sebelum akhirnya berpindah ke desa kecil. Karena tante Aira mengikuti om Rahman setelah mereka menikah.
Aku menatap ke wajah Dokter Wanda. Heran, mengapa ia menyebut nama tante Aira dengan suara yang bergetar.
Saat kualihkan pandangan pada tante Aira, ternyata ia tengah menatapku yang masih mengapit tangan Dokter Wanda.
Ada apa dengan kecanggungan yang tiba-tiba ini.
Tante Aira mendekat ke arahku. Tangan ini diraihnya hingga terpaksa sang Dokter melepaskan tangannya dariku. Dituntunnya aku kembali keluar ruangan.
"Kamu mengenalnya?"
Pertanyaan yang kurasa aneh, tapi aku menganggukkan kepala.
Tante Aira seketika memelukku dengan erat. Aku semakin tak paham ada apa dengan semua ini.
"Kita pulang sekarang! Kamu tunggu di sini, biar tante yang berpamitan pada mbak Renata dan suamimu."
"Ada apa, Tante?"
Setelah pelukan diurai, tante Aira kembali menuntunku untuk duduk di bangku tunggu di depan ruangan. Dan ia segera masuk ke dalam lagi. Tanpa menjawab pertanyaanku.
Tasya menatap kami dengan penuh keheranan, dan aku mengendikan bahu karena sorot matanya yang berkesan tengah bertanya.
*****
"Bagaimana kamu mengenalnya?"
"Siapa?" Aku menjawab pertanyaan tante Aira dengan pertanyaan lainnya.
"Mbak Wanda."
"Oh, beliau ibunya kak Tasya. Wanita yang menunggu di luar bersamaku."
"Apa kamu dan mbak Wanda sangat dekat?"
"Gak. Aku baru bertemu Dokter Wanda ketiga kalinya. Itupun hanya sebentar-sebentar saja. Kenapa, Tan?"
"Gak papa."
Kalimat gak papanya seperti mengandung arti yang meminta diselidiki. Apa yang sebenarnya tengah tante Aira sembunyikan.
"Kalau Tante, gimana? Tante dan Dokter Wanda seperti saling mengenal?"
"Hm, kami pernah bertemu dulu. Duluuu sekali!"
"Memang siapa Tasya itu?" tanyanya seolah tengah menginterogasi.
"Tetangga sebelah."
"Tetangga sebelah?!" pekiknya membuat aku dan om Rahman sempat terlonjak.
"Ini udah malam, Dek. Bisa dikecilin gak suaranya." Om Rahman langsung memprotes istrinya.
"Maaf, Mas." Tante Aira terlihat menyesal, tapi kadang diulanginya kembali. Hal itu biasa aku saksikan waktu tinggal bersama mereka.
"Jika kalian bertetangga, kamu dan mbak Wanda sering bertemu dong!"
"Gak, Tan. Aku bahkan belum pernah bertemu Dokter Wanda di sini. Dokter Wanda dan Kak Tasya tidak seperti ibu dan anak pada umumnya. Seperti ada jarak di antara mereka."
"Hm."
Kali ini ekspresinya terlihat lega. Sebetulnya ada apa di antara mereka. Bahkan tante Aira meminta pulang saat bertemu Dokter Wanda.
"Tan, kenapa waktu bertemu Dokter Wanda, Tante ingin cepat pulang?"
"Gak papa. Tante lelah aja. Juga ingin lihat rumahmu. Rumah sebesar ini, kalian hanya tinggal berdua?"
Terasa ada yang nyeri di ulu hati, saat mengingat pembahasan tentang rumah ini.
"Tan, aku rindu suasana desa. Besok kita pulang bersama, ya?"
"Pulang bersama? Maksudnya kamu ikut kami pulang gitu?"
"Iya."
"Gimana dengan Zain?"
Aku ingin pulang tanpa mas Zain.