
Setelah terburu-buru balik kanan tanpa menghabiskan ayam goreng kesukaan. Langkah cepat ini tertuju pada laci di mana aku menyimpan benda pipih yang membuatku badmood dari kemarin.
Jika informasi dari tante Aira benar, dan jika mas Zain merindukanku, waktu satu jam setelah pendaratan pesawat seharusnya cukup untuk meng-aktifkan ponselnya kembali.
Jangan tanya jantung, bagaimana dia berdetak. Yang jelas, uforia ini benar-benar membuat tanganku bergetar, saat memegang benda canggih di dalam laci.
Pesanku sudah centang dua berwarna biru plus klarifikasi dari sang empunya nomor. Membuat senyum ini tercipta dengan sendirinya.
["Aku di California."]
["Maaf, ya, Dek. Aku tidak bisa berpamitan langsung padamu."]
["Rindu istriku."]
Tiga pesan berurutan, langsung kubaca setelah membuka gawai tersebut sambil menggigit ujung ibu jari. Tiga emoticon bibir runcing dengan gambar hati merah tersemat setelah kalimat rindu istriku semakin membuat salah tingkah.
Tunggu dulu! Sepertinya reaksiku terlalu berlebihan untuk sekedar membaca pesan. Memang apa istimewanya sebuah kalimat dalam ketikkan. Mas Zain bisa saja mengatakan rindu, tapi sebetulnya cuman angin lalu.
Kubanting benda tersebut di atas kasur.
Ngapain juga harus nanggepin pake hati, toh dia ngetik pake jari. Kalau rindu istri, harusnya mas Zain datang ke sini, bukan traveling ke luar negeri.
Sama siapa, ya?
Tak lama berselang benda yang teronggok di atas kasur menunjukan eksistensinya. Kulirik layarnya yang berkedip-kedip.
Zauji video calling ....
Segera kuraih benda yang tak sabaran itu. Melihat pantulan diri di layarnya. Apa hijabku lepek, wajahku kusam, bibirku kering, paru-paruku ... berminyak? Kenapa tadi pagi aku tidak mandi!
"Ekhem ...." Sedikit mengecek resonansi, biar gak terdengar sumbang setelah beberapa hari tak bicara dengannya.
"Assalamualaikum, Dek!" Mas Zain menyapaku dengan senyum dan lambaian tangan.
Kedua sudut bibirku yang semula hampir tertarik ke belakang karena melihat wajahnya di layar handphone, segera kuganti dengan wajah datar. Setelahnya, baru menjawab salam.
"Waallaikumussalam."
"Rindu istri, tapi traveling sendiri?" Entah mengapa bibir ini meruncing otomatis. Padahal niat awal mau jual agak mahalan. Yang di seberang juga CEO star up yang sedang berkembang.
Mas Zain tertawa menanggapi pertanyaanku. Mungkin gara-gara ekspresi bibir yang bak piramida ini.
"Aku gak traveling, Dek. Ada investor yang ingin menanam modal pada perusahaan. Kebetulan aku diminta untuk presentasi di sana, karena gak cuma perusahaan kita aja yang di undang. Jadi semacam kompetisi untuk memenangkan tender. Do'a-kan, ya, Dek. Semoga perjalananku ke sini gak sia-sia."
"Aamiin," jawabku setulus hati.
Sebetulnya aku tidak terlalu paham dengan apa yang dibicarakan mas Zain. Akan tetapi, aku bisa menarik satu kesimpulan. Mas Zain di sana sedang bekerja, bukan jalan-jalan semata.
"Kenapa lama banget, nyampai dua pekan?" gerutuku lagi, yang membuatku menggigit bibir bawah. Kadang mulut dan hati tak bisa diajak kompromi. Padahal sudah dibriefing biar gak terkesan diobral.
"Kangen, ya, Dek!"
Kan, kan, kan. Sudah kuduga. Tentu saja kepala ini reflek mengangguk, eh, menggeleng satu detik kemudian.
"Yah." Zain menunduk, menyembunyikan wajahnya.
"Aku kecewa," ucapnya lagi setelah menegakkan kepalnya. "Padahal aku kangen banget sama kamu, Dek!"
Hampir saja senyum ini terlukis kembali, andai tidak segera kutangkal dengan memutar bola mata ke atas. Mencoba mencari dukungan dari plafon kamar yang mengatakan 'gak papa jadi sedikit jaim dan egois'.
"Istriku sekarang pandai berbohong, ya!"
Aku mengerutkan kening mendengar tuduhannya. Seiring pandangan ini kembali tertuju pada layar handphone dengan wajah mas Zain yang tak hentinya tersenyum.
"Alhamdulillah, jaringan aman, ya Dek."
Satu lagi kebohongan terbongkar. Oke. Kali ini aku menyerah. Senyum satu jari kuhadirkan. Aku menyesal telah berbohong tentang hal itu.
Tak terasa tiga jam berlalu begitu cepat. Perbedaan waktu antara California dan Indonesia yang terpaut sebelas jam yang akhirnya menjadi penghalang.
Meski mas Zain beralasan tidak mengantuk, karena jam biologis di tubuhnya yang belum menyesuaikan dengan waktu setempat. Tetap saja, di belahan dunia yang mas Zain tinggali sudah tengah malam. Sedangkan di sini, aku juga harus melaksanakan kewajiban sholat Dzuhur.
*****
"Cieee, yang abis teleponan sama ayang. Mukanya ceria bener."
Kulirik tante Aira sekilas yang tengah bersantai sambil membaca buku.
"Anak-anak di mana, Tan? Setelah pulang sekolah, gak kelihatan," tanyaku mengalihkan cie-cie yang berpontensi membuatku kayang karena salah tingkah.
"Gea, tidur. Saffa tadi disamperin temannya, katanya mau ke sawah, mencari binatang kecil buat tugas sekolah."
Mendengar kata sawah, mataku menjadi berbinar. Sudah lama aku tidak bermain-main di sana. Entah kapan persisnya yang terakhir kali. Karena setiap pulang sekolah aku membantu tante Aira menjaga Saffa yang masih kecil waktu itu, sehingga jarang keluar rumah.
"Tan, aku susulin Saffa, ya!"
"Hm." Jawabnya yang terdengar cuek karena terlalu fokus pada bacaannya.
"Suruh adikmu cepat pulang, kalau sudah mendapatkan bahan tugas sekolah!" teriak tante Aira setelah aku melangkah jauh meninggalkan rumah.
"Iya, Tan!" jawabku agar tante Aira tahu aku mendengar teriakannya.
Menyusuri jalanan ini, kembali mengingatkanku pada sosok ayah yang selalu memboncengkan putri kecil ini dengan motor bututnya. Banyak kenangan yang telah kami ukir bersama di sepanjang jalan menuju sawah.
Ayah adalah seorang petani yang rajin dan ulet. Aku bangga padanya, meski kadang keinginanku tidak bisa langsung ia penuhi karena ayah hanya buruh yang bekerja pada sawah tuan tanah.
Rupanya sudah hampir sebelas tahun ayah pergi. Tapi jalanan dan hamparan sawah ini seakan masih menyimpan memori yang baru terukir kemarin.
"Aku rindu ayah," bisikku pada padi yang menguning.
Dulu, jika padi menguning seperti ini, ayah selalu membawaku ke sawah. Membawa buku pelajaran karena ayah sangat telaten mengajariku yang berotak lemot ini. Di sisi lain juga sambil menunggu padi agar tak dimakan burung.
"Kak Rayya!" Suara teriakan Saffa menggema di telinga. Dari jauh ia nampak tengah berlari di sepanjang pematang sawah.
Pantas saja dari tadi aku tak melihatnya atau pun temannya. Rupanya Saffa datang dari arah tempatku datang sebelumnya.
Kenapa bang Adam, bisa ada di belakang Saffa?
"Kak!" Saffa bicara dengan napas yang tersengal-sengal. Ia menunduk dengan dua tangan memegangi lututnya. Setelah sampai di depanku.
"Kak. Ada yang nyariin, Kaka!"
"Kaka, lihat," jawabku sambil mengacak puncak hijabnya yang berwarna navy.
Bang Adam terlihat berjalan dengan hati-hati sambil menyeimbangkan tubuhnya agar tak terjerembab di pematang sawah.
"Euh, kapan sampainya kalo jalannya seperti itu?" Aku gemas sendiri melihat cara berjalannya.
"Kaka, mengenal pria itu?" Saffa terlihat penasaran dan aku mengangguk memberinya jawaban.
"Kenapa, Bang Adam ada di sini?" Kutanyakan hal yang sedari tadi ada di pikiranku setelah ia tiba di hadapan.
Kangen, ayang.