Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Siapa yang bikin lelucon seperti ini?


"Kenapa, Bang Adam, ada di sini?"


"Izinkan aku bernapas dulu, Rayya?" rintihnya dengan tangan yang berkacak pinggang.


Aku tergelak mendengar permintaan izinnya. Bukannya dari tadi jalannya sepelan siput? Dasar anak kota, jalan dikit aja, manja!


"Emang dari tadi gak bernapas, Bang?"


"Makasih ya, Dek!" Bukannya menjawab pertanyaanku bang Adam malah berbicara dengan Saffa.


Setelahnya, Saffa izin pulang. Meninggalkan aku dan bang Adam berdua di tengah sawah yang menghampar luas.


Sebetulnya kurang nyaman berdua dengan yang bukan mahram. Namun bang Adam mengatakan ingin berbicara urusan orang dewasa. Itulah mengapa Saffa secepatnya kembali.


"Ada apa, Bang?" Kembali kutanyakan tujuannya kemari. Rupanya si abang malah menoleh ke kanan lalu ke kiri seolah tengah mencari sesuatu.


"Kita duduk di sana, boleh?"


Jari telunjuknya mengarah pada gubuk kecil yang biasanya di gunakan para petani untuk istirahat sejenak sambil menyantap bekal mereka.


"Jika tidak boleh?"


"Jika tidak boleh, aku akan tetap ke sana!" ucapnya memaksa, dengan mengambil langkah panjang mendekati gubuk yang sebelumnya ditunjuk.


Aku mengekori langkahnya meski tak mengambil langkah panjang sepertinya.


Banyak pertanyaan muncul tentang apa yang membawa pria itu hingga sejauh ini untuk bicara denganku. Namun, sedikit pun tak bisa kuterka apa tujuan kedatangannya.


"Ada apa, Bang?"


"Duduklah, kita mungkin akan bicara banyak!"


Kuikuti ajakannya untuk duduk. Dari tadi mengulur pembicaraan terus, sebetulnya apa yang hendak dibicarakan.


"Gimana, kabarnya Zain?"


Aku sedikit memproses ucapannya sebelum menjawab saat menanyakan kabar dari suamiku.


"Baik, Bang! Kenapa?"


"Kukira kamu di sini bersama suamimu. Ternyata sendiri, kalian baik-baik saja kan?"


"Iya," jawabku. "Langsung ke intinya aja, Bang. Aku udah penasaran dari tadi!"


Yang didesak untuk bicara mengambil ancang-ancang dengan menarik napas dan membuangnya perlahan hingga beberapa kali. Seberat apa sih topik pembicaraan yang akan dibahas?


"Desa ini indah, ya?"


"Astaghfirullah, Bang. Anak orang sudah tegang, malah ngomongin desa!"


"Biasanya yang tegang duluan itu, cowok."


Selain dapat hadiah mata yang melotot dariku juga dapat tamparan pada lengan. Yang reflek ia elus berulang karena cukup keras aku melakukannya.


Kok mikirnya malah jadi, nganu! Meskipun aku masih belum terjamah, tapi aku tidak sepolos itu.


"Gimana kabar Dokter Wanda?" Akhirnya aku yang berinisiatif melemparkan pertanyaan, karena kedatangannya ternyata tak seserius yang kukira.


"Mama, sangat baik. Apalagi setelah mendapat kabar baik yang selama ini dia tunggu."


"Oh, ya. Aku ikut senang mendengarnya. Kabar apa?" Aku begitu antusias mendengar berita yang dibawa pria yang fokus menatap hamparan padi yang menguning.


"Mama menemukan putrinya yang hilang." Nada bicaranya terdengar begitu bahagia.


Meskipun bang Adam hanya anak angkat, tapi dia begitu peduli pada Dokter Wanda. Di balik musibah hilangnya putri sang Dokter, Allah mengganti dengan anak yang berbakti sepertinya.


"MasyaAlloh. Sampaikan ucapan selamatku pada Dokter Wanda, ya, Bang!" Aku benar-benar ikut merasa senang dengan kabar putrinya Dokter Wanda ditemukan.


"Kamu bisa sampaikan sendiri jika bertemu dengan mama, nanti." Bang Adam menoleh padaku sehingga ia bisa melihatku yang mengangguk antusias.


"Ada kabar menyedihkan juga."


Dia bilang kabar menyedihkan, tapi raut wajahnya tetap sama, tak menampakkan kesedihan tersebut.


"Kenapa, Bang?" Aku sedikit penasaran.


"Tasya bercerai dengan suaminya!"


"Apuaah! Why! Kok, bisa!"


Mungkin reaksiku berlebihan, tapi ... kok bisa sih?


Kak Tasya ... aish, kenapa?


Suaminya begitu sayang padanya. Malam itu juga bilang akan mempertahankan kak Tasya dari pada istri pertamanya. Kenapa jadi plot twist, gini.


"Rayya! Kamu gak papa?" Bang Adam baru menampakan kecemasan ketika melihatku cemas. Jelas aku papa, Bang!


"Gak, papa, Bang! Sedikit terkejut saja. Baru satu pekan aku di sini, ternyata dunia sudah banyak berubah. Gimana kabarnya, sekarang?"


Aku ngangguk-ngangguk paham. Tidak akan mudah melepaskan orang yang sudah membersamai kita selama ini.


Ah, jadi makin rindu, mas Zain.


"Kalian masih tinggal satu atap?" Kutanyakan lagi tentang wanita yang kemarin mendengar alasan mas Zain menikahiku.


Oh, please. Berpikirlah positif wahai otak.


"Ya. Rumah yang ditinggali Tasya, merupakan aset istri pertamanya Ferdi. Tentu saja istrinya mengambil semua hak atasnya, tanpa meninggalkan apa pun untuk Tasya!"


Kenapa Ferdi tidak menepati janjinya pada kak Tasya. Kenapa uang selalu mengalahkan cinta. Kini di benakku banyak pertanyaan, kenapa.


"Memang sepekan bisa digunakan untuk menceraikan seseorang?"


"Apa pun bisa, jika uang sudah bicara!"


Uang lagi. Ternyata uang bisa membeli segalanya juga bisa menghancurkan segalanya. Termasuk ikatan suci pernikahan.


Mas Ferdi, kenapa kamu jadi pecundang yang dikalahkan oleh uang!


Gemas sekali dengan orang-orang yang berpikir bahwa uang itu segalanya. Termasuk mas Zain ... dulu.


"Oke, betewe. Bang Adam tahu alamatku di sini dari siapa?"


Sengaja kualihkan pembicaraan pada hal lain. Membahas tentang uang hanya akan membahayakan kesehatan jantung dan paru-paru.


"Siapa lagi jika bukan, Emil."


Kembali lagi membicarakan eksistensi, uang.


"Kamu juga pernah menggunakan jasanya untuk mencari tahu tentang, Tasya, kan?"


Eeh ....


Apa maksud bang Adam dengan menaikan sebelah alisnya?


Detective oppa, ternyata gak profesional. Identitas klien bisa bocor kayak gini.


"Bang Emil, ngadu?" Kutatap bang Adam dengan tajam.


"Gak!"


"Kok, bang Adam, tahu!"


"Kamu yang ngasih, tahu."


"Kapan?"


"Barusan!"


Aish ... jebakan Betmen.


"Jika dipikirkan, kamu tidak akan mengenal Emil jika tidak menggunakan jasanya. Hal itu pula yang membuatku menyimpulkan sesuatu tentang ...." Ah, kebiasaan ucapannya digantung.


"Jadi, bukan bang Emil, yang ngasih tahu?"


Bang Adam mantap menggeleng.


"Terus, bang Adam, menyimpulkan tentang apa?"


Pria ini benar-benar pandai membuatku penasaran.


"Tentang kemiripanmu dengan Tasya!"


"Lalu?"


"Lalu membawa sedotan bekas minummu ke laboratorium untuk dicek dengan DNA mama!"


Tunggu, tunggu. Aku belum paham maksudnya. Kenapa kemiripanku dengan Tasya bisa berujung dengan sedotan bekas minum dan DNA, Dokter Wanda?


Ternyata saat otakku masih memproses ucapan bang Adam, ia telah menyiapkan sesuatu dalam amplop berwarna coklat muda. Disodorkannya benda tersebut ke pangkuanku.


"Apa ini, Bang?" Kupandangi amplop dalam pangkuanku yang masih ragu untuk kusentuh.


"Alasan kenapa aku berada di sini!" ucapannya membuatku menoleh padanya dengan banyak tanda tanya.


Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menyentuh benda tersebut. Mengeluarkan isinya yang berupa selembar kertas putih dengan angka-angka sebagai simbol rumus tertentu yang aku sendiri tak paham.


Namaku dan nama Dokter Wanda bersisian. Dengan angka-angka yang mendekati sama. Pada paragraf sebelum akhir, terdapat angka dengan akurasi 99,999998%.


Ini pasti bohong, iya, kan? Gak, mungkin!


"Siapa yang bikin lelucon seperti ini, Bang?"