
Waktu menunjukan jam makan siang, tapi aku hanya makan sendirian. Entah kemana perginya Zain Habibi setelah mandi tadi pagi. Di kota ini aku sebatang kara, hanya Zain yang kupunya. Keluarga mertua memang ada, tapi aku tidak berani keluar rumah tanpa izin dari suami.
Aku hanya bisa mondar-mandir dari kamar ke ruang tamu lalu kembali lagi ke kamar. Padahal sholat sudah, murojaah juga sudah, tapi hati ini belum juga tenang sebelum melihat Zain kembali ke rumah. Hadeuh ... hatiku terasa sakit. Sakit yang sudah akut. Sakit rindu.
Aku segera berlari ke ruang tamu setelah mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Benar saja, Zain sudah berada di depan pintu setelah aku sedikit mengintip dari balik tirai jendela.
Aku mengambil posisi duduk sesantai mungkin dibalik meja yang sempat kutabrak, agar tak terlihat begitu cemas menunggunya. Tidak lupa kubuka sebuah majalah sebagai pelengkap sandiwara.
"Kebalik," ucap Zain setelah memasuki rumah, kemudian duduk santai di sofa.
Pantas saja posisi dudukku tidak nyaman. Dengan sekuat tenaga aku memutar meja yang ada di depanku agar tidak terbalik seperti yang diucapkan Zain.
Zain beranjak dari duduknya, mendekat ke arahku kemudian meraih majalah yang sedang kupegang. Ternyata Zain membenarkan posisi majalah yang tadi kubaca.
Astaga dragon ... ternyata majalah? Sia-sia energi yang kugunakan untuk memutar meja. "Aku sudah biasa baca buku seperti ini," kilahku menghindari malu, kemudian kuletakan majalah pada meja.
Zain meletakan punggung tangannya di keningku, tak berapa lama menarik tangannya kembali. Namun sorot matanya tak beranjak dari menatapku, membuatku jadi salah tingkah ditatap sedemikian intens.
"Kenapa?" tanyaku penasaran dengan tatapan itu.
"Ayo ikut," ucapnya lalu meraih tanganku dan menuntunku ke luar rumah.
"Kemana?" ujarku seraya mengikuti langkahnya.
"Otakmu sepertinya geser, kita ke psikiater."
Aish ... kuhentakan tanganku hingga genggaman terlepas. Dia pikir aku tidak waras, hinggga mengajakku ke psikiater?
"Ayo ikut saja."
Kembali tangan ini diseretnya mendekati mobil, membukakan pintu dan memaksaku untuk duduk di jok depan. Sungguh keterlaluan jika Zain benar-benar melakukan itu.
"Otaku gak geser, orang gak ada otaknya," ucapku setelah Zain duduk di balik setir.
"Lebih aman jika ditangani sejak dini." Zain berujar sambil menyalakan mesin mobil. Tidak butuh waktu yang lama mobil pun melesat meninggalkan pekarangan rumah.
Aku hanya diam membisu, memikirkan segala cara agar bisa kabur dari cengkeraman psikiater nanti. Saat ini tidak memungkinkan untuk mengakui pada Zain, bahwa aku begitu gugup karena menunggunya pulang. Bisa berabeh.
Setelah beberapa saat berkendara, mobil berhenti pada sebuah bangunan berlantai dua, bertuliskan pusat layanan psikologi. Bisakah Zain tidak menganggap semua hal itu serius?
"Keluar!" Perintah Zain setelah mobil berhenti beberapa detik. Aku hanya menggeleng, tidak ingin memasuki tempat itu.
Kuketuk kepalaku sambil memejamkan mata, amit-amit. Aku masih punya iman, masih punya Tuhan, aku bisa menghamparkan sajadah untuk mengadu kepadanya.
Aku masih tidak percaya Zain benar-benar membawaku ke psikiater. Aku pingin nangis, punya suami gini amat. Ya Allah beri hamba ketabahan.
Tiba-tiba kaca mobil diketuk dari luar, seseorang yang memakai seragam security berdiri menunggu kaca mobil diturunkan.
"Maaf pak, jangan parkir disini. Masuk ke dalam saja, ada parkiran di bagian dalam." Sang security menegur dengan ramah.
"Zain!" Aku menggelengkan kepala berharap Zain memahami kode dariku, bahwa aku benar-benar tidak ingin memasuki tempat tersebut. Zain hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Eotokke.
Alhamdulillah ... Zain melajukan mobilnya lurus, tidak jadi berbelok kearah bangunan dua lantai tersebut. Akan tetapi entah kemana kini Zain melajukan kendaraannya, aku tidak peduli yang penting tidak membawaku ke psikiater.
Setelah prank konyol yang dilakukan Zain, kini ia membawaku kelantai paling atas sebuah mall besar di kota ini, apalagi tujuannya kalo bukan kulineran. Tau aja perut ini lapar setelah banyak menghabiskan energi untuk berpikir yang menjadi sia-sia.
"Rend." Zain menyebut nama seseorang dan melambaikan tangan ke arah jam enam, setelah menyantap makanannya. Aku pun mengikuti kemana arah mata Zain tertuju.
Seorang pria memakai setelan jas berwarna navy, menghampiri meja kami dan langsung duduk di samping Zain sebelum dipersilahkan. Tanpa rasa canggung sedikitpun, sang pria mengambil kentang goreng di piring Zain, kemudian langsung memasukan ke dalam mulutnya.
"Hai." Sapa sang pria seraya mengangkat tangannya ke arahku, aku langsung celingak-celinguk mencari seseorang yang disapanya.
"Aku menyapamu," ujar pria yang terus mengambil kentang goreng untuk di masukan ke mulutnya. Dari caranya berjalan kupikir dia cowok yang cool, tapi ternyata ... entahlah, di luar ekspektasi.
"Namaku Rayya, bukan hai." Aku memperjelas panggilanku pada pria yang lebih tampan dari pria yang di sebelahnya. Bayangkan saja, jika Zain mirip Min Yoongi maka pria itu setingkat lebih tampan, Kim Seok Jin.
Melihat mereka berdua serasa aku sedang berada dia acara fanmeeting BTS. Sayang cuman ada dua member, semoga yang lainya segera bermunculan. Astaghfirullah ... aku menundukkan pandangan setelah menyadadari suatu hal, aku khilaf, yang satu tidak halal untuk dipandang.
"Aku Rendi." Pria itu memperkenalkan diri dan menggantung tangannya di atas meja. Aku melirik Zain yang hanya diam saja saat pria yang mengenalkan dirinya bernama Rendi mengulurkan tangan.
"Maaf. Aku tidak menjabat tangan pria yang bukan mahram," ucapku sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.
Randi mengalihkan tangannya mengambil kentang kembali, mungkin pria ini terlalu kelaparan. Nampak wajah kedua pria di hadapanku begitu terkejut mendengar apa yang aku ucapkan. Apakah Zain juga tidak tau tentang hal ini. Issh ... aku kecewa, suamiku tak tau apapun tentangku.
"Apa itu mahram?" Rendi tiba-tiba menanyakan hal tersebut, benarkah mereka tidak tahu?
"Dalam syariat islam, mahram adalah orang yang tidak bisa dinikahi selamanya karena sebab persusuan, saudara karena meminun susu dari ibu yang sama. Keturunan karena saudara satu darah dan karena hubungan pernikahan." Aku menjawab dengan singkat, semoga bisa Rendi pahami.
"Ooh ... jadi kamu dan Zain jadi mahram karena kalian menikah?"
Aku mengangguk menanggapi ucapan Rendi.
"Wahh." Rendi menepuk bahu Zain. "Beruntung lu bro, cuman lu yang bisa berjabat tangan dengannya. Jangan sampe lepas, biar jadi mahrammu selamanya."
"Aamiin. Semoga sampe jannah." Aku menjawab antusias tapi Zain hanya diam saja. Issh ....
Setelah kuingat kembali sepertinya nama Rendi tidak begitu asing, ah ... aku menjentikan jari di depan mukaku. Sontak hal itu membuat kedua pria di hadapanku memperhatikan.
"Kak Rendi!"
"Ya."
"Di hari pernikahanku, Zain menelpon kak Rendi untuk memanggil penga ...."
Hap ... Aku reflek menangkap kentang goreng yang Zain lontarkan ke arahku hingga tidak sempat melanjutkan ucapanku.
Ih ... Rese ...