Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Fix, Patah hati


"Kesepakatan?"


Di ruang butik yang dikelola Imelda aku duduk di sofa, sambil mengatur degup jantung yang bergemuruh, mengetahui Zain telah membohongiku dari awal.


Imelda tak kalah terkejutnya dariku saat ini. Aku rasa tidak akan ada satu orang pun yang menginginkan kisah pernikahan mereka di awali dengan sebuah kesepakatan.


"Kenapa kalian mempermainkan pernikahan yang sakral?" jerit Imelda yang langsung kuhadiahkan bantal sofa ke arah wajahnya.


"Kamu lebih suka aku di penjara?" cibirku pada Imelda yang tengah merapikan anak rambut di dahinya yang terkena lemparan bantal.


"Ya, gak gitu juga! Emang gak bisa, dibicarakan dulu?" ucapnya begitu enteng, memang mudah meremehkan keputusan orang lain, jika tak mengalami situasi serupa.


"Kalau bisa dibicarakan, gak akan begini," sungutku kesal, kadang berbagi dengan sahabat sendiri memang tidak mengurangi bebanku bahkan sebaliknya. Sia-sia.


"Ya udah sih, terima takdir aja. Apa kurangnya Zain, good looking, good rekening. Aku juga mau!" ujarnya sambil cengengesan.


"Mau jadi pelakor, dalam rumah tangga sahabat sendiri?"


Aku dan Melda serempak menoleh ke sumber suara. Safira, kakak Melda beranjak dari kursi panasnya dan mendekati kami, ternyata diam-diam ia mendengarkan perbincangan antara aku dan adiknya.


"Kalo bisa, menikah itu cukup sekali seumur hidup. Makanya sebelum menikah itu, kita harus tau luar dalam pasangan kita. Masa penjajakan itu penting!" Safira mengemukakan pendapatnya yang jelas berbeda dari prinsipku.


"Lamanya pacaran tidak menjamin hubungan berakhir bahagia. Mba buktinya, cuma bertahan satu bulan terus jadi janda. Padahal pacaran lima tahun, kaya kredit motor!" Sekarang Melda yang menyerang kakaknya sendiri.


"Beda cerita! Rico memang orang yang breng**k." Safira bersungut kesal, nampak dari tangannya yang mengepal erat. Mungkin ia mengingat kejadian tiga tahun lalu yang membuat warga kampung heboh, karena perselingkuhan suami dengan asisten rumah tangganya.


"Kamu beneran dapet uang?" Melda kembali bertanya, dan aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Berapa?" Sang kakak ikut kepo, amarah yang menyelimuti wajahnya, seketika teralihkan oleh rasa keingintahuannya.


"Tiga milyar."


Sontak kedua kakak beradik di hadapanku menutup mulut mereka dengan sepuluh jari, raut keterkejutan nampak dari mata mereka yang membola.


"Apa Zain sangat kaya?" ujar Safira yang kini meletakan kedua siku di atas meja untuk menopang dagunya.


"Keluarganya kaya tujuh turunan?" Melda ikut menimpali dan mendekatkan tubuhnya ke arahku yang dibatasi meja.


"Gak juga!"


"Terus?" Melda dan Safira menjawab hampir bersamaan.


"Itu usaha Zain sendiri, dia tuh pinter, otaknya encer kalau soal teknologi. Aplikasi yang kalian pakai sekarang tuh hasil kerja Zain." Aku menjelaskan seperti yang Rendi katakan padaku, sebelum aku pamit meninggalkan kantor dan berujung di butik ini.


"Setelah itu kalian akan bercerai?" ucap Safira berapi-api.


"Jangan!" Melda melambaikan tangannya ke wajahku. "Lebih baik kamu ikuti saja kemauan Zain menjadi istri palsunya. Dari pada kamu cuma dapet buahnya, mending miliki pohonnya sekalian."


Aku memijat pelipis, setelah mendengar Melda menyuarakan hatinya yang tak jauh-jauh dari masalah keuangan.


"Aku istri sahnya!" Aku geram juga dengan pola pikir sahabat yang terus menjomblo, demi mendapatkan pria good rekening.


"Setelah menerima uang itu Zain pasti berfikir kamu materialistis. Artinya, Zain juga menganggapmu setuju dengan kesepakatan sebagai istri palsu," ucapan Melda kali ini membuatku kembali menyadari keputusanku yang gegabah saat itu.


"Itu yang kusesali." Aku menunduk menekuri lantai yang kupijak.


"Sabar, sayang." Safira menepuk pundakku pelan, meskipun hanya menjalani rumah tangga selama satu bulan, aku yakin Safira memahami ketulusanku sebagai seorang istri.


"Apa Zain memiliki wanita lain?" ucapan Safira berhasil membuatku menoleh padanya, dan aku mengendikkan bahu sebagai jawaban tidak tahu.


"Menurutku keinginan Zain mencurigakan, terlebih lagi Zain mengancam setelah akad, dia hanya menginginkanmu untuk menutupi wanita simpanannya. Seharusnya, kamu buka saja foto yang ada di laci mejanya Zain." Kembali Safira dengan argumennya.


"Jika wanita dalam foto adalah simpanan Zain, aku siap membantumu menyelidikinya. Kita eksekusi bersama pelakor tersebut," ucapan Melda seperti sangat meyakinkan.


"Terimakasih, kalian itu, teman rasa bisikan syaitan."


"Ya elah, survei membuktikan. Jika seorang pria masih menyimpan foto kebersamaannya dengan wanita lain setelah menikah, itu patut dicurigai. Kamu bisa menjadikan kisah pernikahanku sebagai pelajaran." Kini Safira kembali menggoyahkan imanku.


"Kemana?" tanya mereka kompak, setelah melihatku berdiri.


"Istikharah."


🍀🍀🍀🍀🍀


"Gak punya niat minta maaf atau menjelaskan sesuatu padaku, gitu?"


Di teras belakang yang akhir-akhir ini menjadi tempat favorit Zain nongkrong, aku menyejajarkan duduk kami menatap tunas-tunas pohon yang baru kutanam sore tadi.


Zain menoleh ke arahku yang masih menatapnya, tak ada niatan untuk memutus pandangan meski Zain menatap begitu tajam.


"Gak," ucapnya lalu menatap taman bunga, tanpa bunga kembali.


"Aku boleh nanya?" Kini aku yang memutar posisi dudukku sembilan puluh derajat, sehingga menghadap Zain.


"Gak."


Belum nanya udah dijutekin duluan, dasar nasib punya suami kulkas.


"Boleh cerita?"


"Gak."


"Tentang, seorang wanita."


"Gak."


"Yang melingkarkan tangannya, pada pinggang seorang pria."


"Lancang!"


Aku sedikit tersentak ketika Zain tiba-tiba meninggikan suaranya. "Iya kan? Memang wanita yang lancang!"


"Kamu!" Zain kembali menoleh ke arahku.


"Kok aku?" Aku tidak terima dengan tuduhan lancangnya.


"Sudah pernah kukatakan, jangan menyentuh privasiku! Kenapa kamu melewati batas!" Wajahnya terlihat sangat murka. Baru kali ini aku melihat Zain semarah ini hanya karena sebuah foto.


"Kamu yang nyuruh aku masuk ke kamarmu!"


"Aku menyuruhmu mengambil berkas, bukan berarti kamu bisa melihat dengan bebas apa saja yang ada di kamarku!"


"Kalau aku tidak boleh melihat kamarmu, apa kamu pikir aku bisa mencari berkas dengan menutup mata?" Aku berkilah membela diri, mungkin ada baiknya sedikit su'udzon tentang foto di dalam laci seperti saran Safira dan Melda.


"Kan bisa mengambil berkas saja tanpa menyentuh apapun!"


Aku menggeser posisi dudukku ke belakang, menjauhi Zain. Bisa saja Zain kehilangan kendali atas jari-jarinya, dan menjentikkannya di jidat ini. "Itu yang aku lakukan."


"Bohong! Kalau cuma mengambil berkas kenapa melihat foto yang sudah kusimpan di laci?"


"Aku tidak melihatnya! Aku tidak melihat wajahnya."


Setelah aku mengkonfirmasi bahwa aku tidak melihat foto itu, Zain menghela napas. Mungkin menghela napas lega karena aku tidak melihat wajah gadis dalam foto, hanya melihat tato di tangan gadis tersebut yang berinisial Z. Kemungkinan besar inisial nama Zain.


Jika mereka couple, Zain pasti membuat inisal nama gadis itu di bagian tubuhnya. Aku bisa mengumpulkan informasi siapa gadis itu, jika aku tau namanya.


"Apa dia kekasihmu, yang membuatmu melarangku menyukaimu?"


Zain terkejut mendengar pertanyaanku, dia hanya menatapku tanpa berbicara sepatah kata pun. Fix aku patah hati.


"Seharusnya kamu menikahinya jika hatimu hanya untuknya. Tak perlu mengorbankan hati lain, yang tak tahu apapun tentang masa lalumu."