Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Kecelakaan


"Rayya!" Zain terkejut saat aku mendaratkan sebuah kecupan di sebelah pipinya.


Tanpa ragu, langsung ku lingkarkan kedua tangan ke pinggangnya, meletakan kepala ini pada dada bidangnya dengan manja.


"Bukankah, ini lebih meyakinkan?" tanyaku sembari mendengar ritme jantungnya yang begitu menghentak.


Kurasakan Zain membalas pelukanku, sebelah tangan lainnya membelai kepalaku yang tertutup hijab. Dengan tangan itu pula, Zain menjauhkan kepalaku dari dadanya dengan memegang daguku.


Aku mendongak menatapnya, jantungku mendadak bergetar hebat, bersama dengan napas yang tidak bisa kulakukan dengan baik dan benar. Wajahku dan Zain ternyata sedekat ini, aku gagal fokus menatap bibir ranumnya, yang terasa semakin mendekat ke arahku.


"Tidak untuk ciuman bibir." Kugunakan telapak tanganku untuk menggagalkan aksinya.


"Suami istri, tidak berciuman di depan tetangga."


"Bukankah, harus terlihat meyakinkan?" Zain mengerutkan keningnya, seolah sedang berpikir keras.


"Kita bisa melakukannya saat berdua saja, di kamar!" ucapku ringan, seringan kapas yang dihembuskan angin. Alhasil, dapat hadiah toyoran dari Zain.


"Kurang-kurangi berpikiran mesum," bisiknya di telingaku setelah memberikan kecupan manis di kening.


Perempuan mana yang tidak akan traveling ke fantasi dewasa jika tengah di peluk oleh pria tampan. Bahkan aroma wangi parfum yang melekat di tubuhnya pun seakan memberi jalan ke sana.


"Sepertinya, aku akan terlambat masuk kantor, jika kamu terus memelukku seperti ini!" ucapnya terdengar tegas meski dengan suara yang lirih.


"Kita bisa berpelukkan lima menit lagi. Tidak ada yang berani memarahi bosnya, ketika datang terlambat!"


Zain terdengar menghela napas, tapi tetap membiarkanku dalam pelukannya. Entah mengapa aku merasa sangat nyaman dengan posisi ini. Meskipun sisi lain hatiku terasa sakit, karna Zain hanya menganggapnya sebuah drama.


"Aku benar-benar akan terlambat Rayya! Ini bukan masalah ada atau tidak ada yang berani memarahiku. Akan tetapi, aku sebagai pemimpin mereka juga harus memberi contoh yang baik."


Pelukan kulepaskan sambil mengerucutkan bibir, aku begitu menikmati peran sebagai seorang istri yang sangat merindukan suami saat harus berpisah untuk mencari nafkah.


"Jangan lupa makan!" Perhatiannya membuat candu bagiku. Kenapa Zain tidak melupakan dendam pada mantannya dan memulai awal kehidupan yang manis seperti ini, setiap hari.


Kuraih tangannya, kucium punggung dan telapak tangannya dengan khidmat. Mencari ridho Allah dari ridho suami. Juga terselip doa kepada sang pemilik hati, semoga Allah menyembuhkan hati suamiku dan menerimaku sebagai jalan hidupnya.


🍀🍀🍀


Matahari hampir meninggi di atas kepala, aku mengelap peluh yang bercucuran karena di tempa olehnya. Tidak memiliki rutinitas yang berarti, membuatku menekuni dunia baru. Menambah koleksi tanaman di belakang rumah agar Zain tidak bosan menatap tunas pohon yang itu-itu saja.


Drtt...


Dering handphone membuatku menghentikan aktifitas. Terpampang nama Zauji di layar, aku menyimpan nomor Zain dengan sebutan suamiku dalam bahasa arab. Segera kugeser ikon telepon berwarna hijau dan menjawab salam dari seberang yang ternyata suara Rendi.


"Rayya! Zain mengalami kecelakaan. Bisakah kamu segera datang, aku akan mengirim alamat Rumah Sakit melalui pesan."


Aku tidak bisa menjawab ucapan Rendi yang terus memanggil namaku. Mendengar Zain mengalami musibah, membuatku serasa tak bertulang. Aku jatuh terduduk karena kakiku begitu lemas. Dengan tangan gemetar aku membuka pesan dari nomor Zain yang di tulis oleh Rendi. Alamat sebuah Rumah Sakit telah ia kirimkan.


"Ya Allah, selamatkan suamiku."


Kalimat istighfar tak henti kuucapkan, bersama dengan deraian air mata, sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit. Aku bahkan tak menghiraukan baju yang kukenakan ternyata kotor terkena tanah. Aku hanya berpikir segera menemui Zain.


"Kemana arah tercepet menuju ruangan ini," tanyaku pada wanita berseragam resepsionis yang begitu ramah menyambutku.


Aku bergegas menuju lift yang resepsionis tunjukan sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Segera masuk kedalamnya meski suasana sedikit berhimpitan. Menunggu pintu lift terbuka di setiap lantai terasa waktu yang begitu lama bagiku.


Setelah lift terbuka di lantai empat, aku segera berlari mencari satu persatu ruangan seperti yang tertulis dalam pesan. Pada akhirnya aku berdiri di sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka, tanpa berpikir ulang aku segera masuk bahkan lupa mengucapkan salam.


"Mas Zain." Kulafazdkan nama pria yang tengah berdiri menatap ke arah jendela luar. Segera kupeluk dari arah belakang, bersamaan dengan ucapan syukur dari mulutku.


"Rayya! Kamu ngapain?"


Aku membuka mata saat merasa ada yang janggal, suara Zain terdengar dari arah yang berbeda. Zain tengah berdiri di depan pintu kamar mandi, matanya membulat sempurna. Lalu, siapa yang tengah aku peluk?


Segera kulepaskan pelukan beserta ucapan maaf karena sembarangan peluk orang. Setelah sang pria berbalik arah, kudapati wajahnya yang tengah mengulum senyum. Rendi menertawakan kecerobohanku.


"Maaf. Maaf Kak. Gak sengaja."


"Kamu tidak lelah, meminta maaf berulang kali?" tanya Rendi yang kusambut senyuman masam, merasa malu juga bersalah dalam waktu bersamaan.


Aku bersyukur yang aku takutkan tidak terjadi, bahu Zain hanya terkilir yang membuatnya harus memakai gips pada tangan kanannya. Selain itu tidak ada satupun yang kurang darinya, bahkan masih sama menawannya meski kini memakai seragam pasien.


"Kamu ke sini tanpa mandi?!" Zain mengarahkan matanya pada bajuku yang ternoda oleh tanah. Aku menunduk sedangkan Rendi masih dengan senyum-senyumnya.


"Aku terburu-buru datang kemari, aku tidak sempat mengganti bajuku. Aku takut terjadi hal buruk padamu." Setelah mendengar penjelasanku, tatapan Zain kini terarah pada Rendi.


"Karena istrimu sudah ada di sini, aku akan kembali ke kantor," ucapnya lalu melangkah ke luar dan menghilang di balik pintu.


"Lain kali dengarkan dulu informasi dengan seksama, jangan ambil kesimpulan sendiri. Kamu tidak malu, datang kemari menggunakan pakaian kotor seperti itu?!" terangnya seperti sedang presentasi.


"Maaf."


Drttt....


Suara dering handphone mengalihkan perhatian Zain dariku, aku pun melakukan hal sama. Mencari arah sumber suara.


"Rendi meninggalkan handponenya," keluh Zain mengiba.


Bagi orang penting seperti Zain dan Rendi, aku mengerti bahwa handpone adalah benda wajib yang harus selalu ada di sisinya.


"Mungkin kak Rendi belum jauh dari sini, biar aku antar padanya." Aku mengambil benda datar yang tergeletak di atas meja.


"Ganti bajumu dengan yang lebih bersih," perintahnya sebelum aku melangkah meninggalkan ruangan.


Aku berlari mencari Rendi, berharap masih bisa bertemu dengannya, tepat ketika ia tiba di parkiran aku memanggilnya dengan napas yang terengah-engah. Tanpa berbasa-basi kuberikan benda itu padanya. Aku tidak ingin meninggalkan Zain sendirian terlalu lama.


Sebelum kembali ke ruangan Zain, aku menyempatkan ke toko baju. Mengganti bajuku dengan yang lebih bersih seperti yang Zain perintahkan. Seorang istri memang harus menjaga penampilannya agar suami tidak dipandang rendah karena tampilan istri yang terlihat berantakan.


"Kalian hanya salah paham. Tolong maafkan Tasya."


Ku'urungkan niatku memasuki kamar rawat Zain, setelah mendengar suara seorang wanita dari dalam kamarnya.


Ya Allah ... apa ini?