Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Tega, kamu mas!


"Maksudmu apa, Adam! Mengapa memprovokasi Rayya dengan ucapan seperti itu?!"


"Bukan apa-apa, Tan. Kami hanya mem--"


Ucapanku terpotong karena pergerakan tangan bang Adam, menyentuh lenganku.


Dari caranya menatapku, ia ingin mengatakan bahwa akan menjelaskan pada tante Aira.


"Bang Adam, pulang saja. Aku bisa menjelaskan sendiri pada tante Aira." Kusingkirkan tangan bang Adam dariku.


"Kamu yakin?"


"Hm," ucapku menganggukan kepala.


Pada akhirnya bang Adam menurut. Ia segera memasuki mobilnya setelah berpamitan kembali pada tante Aira.


*****


Bismillah.


Meski masih ada keraguan, kucoba memberitahu tante Aira. Tidak mungkin menutupi hal ini hingga berlarut-larut.


Selembar kertas yang sebelumnya kutangisi, kini berada di tangan tante Aira dan suaminya. Wajah keduanya tetap datar, tidak nampak terkejut sepertiku pada saat melihatnya pertama kali.


"Kenapa mau dibohongi dengan selembar kertas seperti ini?" Kertas itu dirobek menjadi beberapa bagian oleh tante Aira.


Ternyata isi dalam kertas itu sungguh nyata. Aku benar-benar putri yang hilang itu.


Itulah sebabnya tante Aira menghindari Dokter Wanda waktu bertemu di Rumah Sakit. Seandainya reaksi tante Aira biasa saja, aku masih bisa meragukan tulisan yang diketik manusia.


"Apa yang harus kulakukan, Tante? Apa aku tidak perlu mengakui ibu kandungku setelah aku tahu jika beliau masih ada?" Pandangan mata ini tertuju pada potongan kertas yang terserak di lantai.


Janjiku untuk memfoto dan mengirim lewat pesan pada mas Zain belum tertunaikan. Suamiku juga harus tahu siapa aku sebenarnya.


"Kamu kenapa, Rayya? Apa kamu percaya dengan omong kosong seperti itu?"


"Tante Aira sendiri yang mengajariku untuk memaafkan kesalahan orang lain, bukan membalas mereka dengan perlakuan yang serupa. Setelah aku tahu siapa Dokter Wanda, apa aku juga harus mengabaikannya?"


"Rayya, tante ... tante ...." Tante Aira menjadi tergagap. Sedetik kemudian air matanya luruh di bahu sang suami.


Begitupun denganku. Entah sudah keberapa kali aku terisak setelah mengetahui kebenaran yang tak pernah terduga.


Kukumpulkan kembali tiap potongan kertas itu. Membawanya ke dalam kamar untuk kusatukan menggunakan perekat.


"Rayya!" Tante Aira muncul dari balik pintu.


Kusambut tante Aira dengan senyuman setelah menyembunyikan kertas pembawa masalah itu di bawah bantal.


"Apa kamu akan membenciku setelah menemukan ibumu?" tanyanya setelah duduk tepat di sampingku.


Aku tahu apa yang menjadi kekhawatirannya kini. Aku tak perlu membenci siapa pun di sini. Meskipun aku tahu Dokter Wanda adalah ibuku, tapi tak merubah perasaanku pada wanita yang telah berjuang membesarkanku hingga seperti ini.


"Tan, kenapa harus mengkhawatirkan hal itu?" Tanganku kuletakkan di atas punggung tangannya. Hatiku mencelus melihatnya berlinang air mata.


"Apa pun yang terjadi di masa lalu, aku tidak akan mencari tahu siapa yang salah dan yang benar. Biarlah semua itu menjadi rahasia kalian. Aku akan berbakti pada ibu kandungku sesuai yang diajarkan agama kita. Tante Aira tetaplah Tante terbaik untukku, takan ada yang bisa menggeser posisi Tante Aira di hatiku, meskipun itu ibu kandungku sendiri."


"Maafkan tante, Rayya. Tante tidak menyadari kamu tumbuh dengan sangat baik dan dewasa. Tante hanya takut kehilanganmu."


Kuseka bulir bening yang menganak sungai di wajah cantik tante Aira. Ada yang menggelitik hatiku dari ucapannya.


"Tan, emang aku mau kemana sampai Tante takut kehilanganku? Tante lupa, saat menitipkan aku dengan mas Zain? Nanti pun sama, aku akan kembali ke rumah suamiku."


"Dulu tante tertawa lebar saat menyerahkanku pada mas Zain. Padahal mas Zain waktu itu orang asing?" Kenangku.


Bagiku dulu mas Zain adalah orang sing yang menyebalkan. Meskipun kini situasinya berbeda. Hatiku justru merasa hangat hanya dengan menyebut namanya.


"Tante gak usah khawatir, karena setelah ini aku juga akan kembali ke rumah suamiku, bukan ke tempat Dokter Wanda. Dan rumah ini, tetap akan menjadi tujuanku ketika aku merindukan keluargaku." Kutegaskan hal itu.


Ditariknya tanganku agar jarak kami makin dekat dan bisa saling memeluk.


"Apa Zain sudah tahu tentang ini?"


"Belum Tante. Tadi mas Zain bilang ada meeting dengan investor, aku tidak mau membebani pikiran mas Zain dengan berita seperti ini dulu. Mungkin nanti aku akan kasih tahu."


"Rayya-ku sudah menjadi dewasa sekarang. Sebaiknya kamu cepat memberitahu suamimu!"


Aku mengangguk seiring pelukan diurai dariku. Setelah mendaratkan ciuman di pipi kiri dan kananku seperti yang selalu tante Aira lakukan ketika aku kecil dulu, tante Aira kembali meninggalkanku sendiri di kamar.


*****


"Assalamualaikum."


"Waallaikumussalam," jawab semua penghuni rumah, tak terkecuali Gea, pada pria yang baru menjejakkan kakinya di rumah tante Aira.


Dua pekan berhasil terlewati dengan menciptakan segunung rindu. Ingin kupeluk dia yang sudah curi-curi pandang meski tengah bicara dengan om Rahman.


Setelah perbincangan yang membuatku harus menunggu waktu tambahan selama dua setengah jam, akhirnya aku diberi kesempatan untuk membawa suamiku ke dalam kamar. Dengan menarik lengan kemejanya disebabkan mahram untuk kami gugur karena salah akad.


"Dek, kenapa gak tanganku aja yang digenggam. Kok malah kek jijik gitu, aku bau ya?"


Aku memang belum memberi tahu tentangku yang memiliki ibu baru. Aku tidak mau fokus pada tendernya terbagi untuk memikirkan tentang kami yang tak bisa saling peluk seperti sebelumnya.


"Duduk, Mas!" titahku diturutinya.


"Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan," perintahku lagi, sambil memperagakannya sendiri. Aku berdiri dua jengkal dari tempatnya duduk. Takut diri ini khilaf tiba-tiba nyosor bibirnya yang mulai mengerucut.


"Apaan sih, Dek. Emang mau lahiran?" tolaknya dengan dahi berkerut.


"Gak sih, cuma khawatir Mas Zain jadi shock aja." Aku menyodorkan kertas yang penuh tambalan pada mas Zain. Diterimanya dan dibaca dengan seksama olehnya.


"Kamu adiknya Tasya?!"


Kan beneran shock, tadi gak nurut sih. Disuruh tarik napas dulu gak percaya. Padahal ada hal lain lagi yang lebih mengejutkan.


"Paham maksudnya gak, Mas?"


"Iya. Tasya pernah cerita, ibunya jadi sering sakit-sakitan karena memikirkan papanya yang main curang sama tante Wanda, sahabat ibunya, hingga mereka memiliki anak haram dari hubungan terlarang itu. Ternyata anak itu ...."


"Kenapa gak diterusin ngomongnya?" Aku membalik badan ke arah lain. Kupikir mas Zain yang akan terkejut karena setatus pernikahan kami yang berubah dari kaca mata agama. Ternyata aku yang dibuatnya terkejut dengan sisipan kata anak haram.


Tega kamu, Mas, ngomong kayak gitu. Emangnya aku minta terlahir dengan keadaan seperti ini?


"Lanjutkan aja, Mas. Gak papa. Kenapa berhenti?"


"Dek, maaf, bukan maksudku ngomong kaya gitu."


"Mas Zain sekarang jijik sama aku, karena aku anak yang tak diinginkan?"


"Enggak lah, Dek! Setiap anak yang terlahir tidak bisa memilih orang tuanya dan tidak bisa menolak, mereka ada karena ikatan suci atau diluar ikatan tersebut."


Secepat yang tak pernah kuduga, kepala ini di benamkan pada dadanya. Hingga hangat tubuhnya menyelusup ke dalam hatiku.


Eh, tunggu dulu. Ini siapa yang tengah mencari kesempatan dengan berpelukan, ya?