Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Salah Tampar


"Aku dah berpikir akan dapat hukuman tambahan, ternyata benar-benar hukuman, ya, De!"


Zain menggerutu setelah aku mengatakan alasanku membuang bajunya karena aroma parfum Tasya menempel pada baju itu.


"Oh, Mas Zain masih mau bernostalgia dengan aroma parfum itu?" Aku membuang muka dari tatapan Zain, bibir pun mengerucut seperti Piramida.


Karena aroma parfum tersebut aku mendadak kehilangan mood. Aku sendiri tidak paham apa yang telah terjadi padaku, mungkin pengaruh hormon estrogen saat haid yang membuatku menjadi kekanakan. Untung saja stok sabar Zain tengah tinggi.


"Aku mandi dulu ya, deket sama kamu bawaanya gerah mulu," ujarnya kemudian bergegas mendekati lemari.


Aku yang awalnya hanya ingin memantau pergerakan Zain, tersulut emosi. Sebagian isi lemari menghambur keluar, saat Zain menarik handuk.


"Mas, kalo mau ambil handuk itu, diangkat yang ada di atasnya, baru ambil handuknya. Bukan langsung ditarik gitu. Kan jadi berantakan semuanya!"


"Maaf, nanti aku rapihkan lagi."


"Gak mungkin!" Aku marah tapi mendekat, "Kata nanti itu, artinya gak akan terjadi."


Segera kuambil baju-baju yang terjatuh ke lantai dan kembali merapihkannya satu-persatu.


"Astaga, De. Hari ini sepertinya aku banyak melakukan salah sama kamu. Maaf ya?" Tangannya dikalungkan pada leherku dari arah belakang sambil berbisik.


"Mau mandi, apa pelukan?" Intonasiku masih tinggi.


"Kalo pelukan sambil mandi, bisa gak, De?"


"Jangan ngadi-ngadi deh, Mas!"


"Setelah mandi jangan kebiasaan handuk ditaruh di atas kasur." Kembali kuperingatkan Zain.


"Aku lupa sekali aja, dibahasnya berkali-kali."


Suara ketukan pintu diperdengarkan dari arah depan. Aku yang tengah merapihkan baju sedikit menoleh ke arah Zain yang masih bergelayut di punggungku.


"Ada yang datang, Mas. Sebaiknya pake baju dulu, mandinya ditunda. Kita ke depan sama-sama."


"Siap! Tuan putri!" seloroh Zain, merapikan jarinya berbaris di pelipis.


"Kan aku pangerannya!" Setelah mengambil kaos berwarna hitam, segera kusodorkan pada Zain agar cepat ia kenakan.


*****


"Kak Tasya!" panggilku setelah pintu kubuka.Tasya tersenyum padaku, tapi tidak dengan suaminya.


"Masuk, Kak!"


Keduanya masuk, setelah pintu kubuka dengan lebar.


Zain yang tengah berdiri di belakangku beramah-tamah dengan menjabat tangan suami Tasya. Saat tangan itu hendak menangkap uluran tangan Tasya, aku mendahuluinya.


"Gak usah ganjen, Mas." Aku berbisik pada Zain. Ia hanya menggelengkan kepala, entah apa maksudnya.


"Kami kesini untuk meminta maaf atas kesalahpahaman tadi. Maafkan aku yang tersulut emosi saat itu." ucap pria yang duduk di sebelah Tasya memecah keheningan, yang beberapa saat sebelumnya begitu sunyi.


"Aku juga minta maaf." Tasya menangkupkan tangannya di depan dada. "Entah apa yang ada dalam pikiranku tadi hingga membuatku melakukan hal yang tak seharusnya."


Permintaan maaf Tasya, entah mengapa aku merasa tidak tulus. Waktu itu aku dan bu Endang ada di dekatnya lebih dulu. Mengapa malah memeluk Zain yang jelas baru mendekat. Lempar batu langsung lari, modus.


"De!"


Aku menoleh saat Zain mengguncang bahuku. "Iya!"


"Itu Ta__"


"Apa?"


Zain malah mengendikkan bahu.


"Masalah gigitan tadi, aku juga minta maaf. Ya ... Pak." Aku sedikit ragu menyebut nama panggilan untuk pria itu karena wajahnya terlihat begitu dewasa.


"Gak papa, rasa sakitnya sudah hilang. Mungkin hanya akan meninggalkan bekas saja sesudahnya." Sang pria tertawa, di balik wajahnya yang dingin ternyata pria ini nampak ramah.


"Sebagai tetangga, sepertinya kita belum saling mengenal satu sama lain. Namaku Ferdi, kalo wanita cantik di sampingku ini, kalian pasti sudah mengenalnya karena istriku memang lebih sering di rumah dibandingkan aku yang kadang harus bekerja di luar kota."


"Aku Zain, dan ini istriku Rayya." Zain memperkenalkan istrinya dengan lengan yang merangkul bahuku. Sejenak aku dan Zain saling pandang dan saling melempar senyum.


"Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik untuk kedepannya. Dan kesalahanpahaman seperti tadi siang tidak terulang kembali." Aku ikut menyuarakan hatiku yang getir.


Setelah mereka saling memperkenalkan diri, pembicaraan keduanya berlanjut hanya tentang perihal yang di sukai pria. Dari olahraga, otomotif hingga saling membanggakan kemajuan bisnis masing-masing. Seolah tak terjadi apa pun di antara keduanya siang tadi.


Kami sebagai para istri hanya diam dan sesekali saling melempar pandangan julid, hingga Tasya dan suaminya berpamitan pulang.


"Kapan-kapan kita bisa bermain futsal bersama." Ferdi menepuk bahu Zain, ini sudah ketiga kalinya ia berpamitan pulang.


"Oke. Siap!" Balas Zain dengan dua ibu jari menghadap ke atas.


Belum beranjak dari teras, ponsel suami Tasya kembali berdering. Kali ini dia menerima panggilan tersebut, tidak seperti sebelumnya yang selalu dia tolak karena begitu asik bercerita dengan Zain.


"Duduk dulu, Kak. Mungkin suamimu masih lama."


Tasya menerima ajakanku duduk di kursi teras sambil menunggu sang suami menyelesaikan pembicaraannya di telepon.


"Berapa umurmu, wajahmu terlihat begitu muda."


"Usianya masih 23, namun cara berpikirnya sangat dewasa. Itu daya tarik istriku yang mampu membuatku menyerahkan hatiku padanya." Zain yang tengah duduk di lengan kursi yang kududuki menjawab pertanyaan Tasya.


Aku sedikit menoleh ke arahnya, antara rasa haru dan ambigu, aku menatapnya yang tengah memamerkan senyum gummy-nya.


"Mungkin sangat terlambat, tapi aku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian."


"Terimakasih." Zain kembali menjawab ucapan wanita di depanku yang tengah menyembunyikan kecanggungan.


"Selamat juga untuk pernikahanmu. Mungkin jika lima tahun lalu kamu memberi undangan padaku, aku akan mengucapakannya lebih awal."


"Pernikahan kami dilangsungkan secara pribadi, tidak ada yang kami undang selain keluarga terdekat saja."


"Semoga pernikahan kalian langgeng hingga ke jannah." Aku segera membuka suara sebelum Zain semakin berbicara yang bisa menimbulkan sakit hati. Cubitan kecil kusisipkan di paha Zain agar ia tak kembali mengundang atmosfir yang menambah rasa canggung.


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di tepi pagar. Seorang wanita turun dari mobil itu, melangkah tergesa mendekati kami yang terpaksa berdiri mengikuti Tasya.


"Mba Lisa," ucap Tasya terlihat kaget.


Semakin jarak kami terkikis, wanita yang Tasya sebut dengan Lisa terlihat sangat marah. Jika wanita bernama Lisa tersebut tamu Tasya kenapa dia menghentikan mobilnya di depan rumahku.


Wanita tadi berhenti tepat di depanku dan Tasya. Setelah menatap foto di tangannya, tatapan beralih padaku dan Tasya kemudian.


PLAK....


Tanpa menjelaskan apa pun, wanita dengan rambut sebahu itu menampar pipi Tasya. Belum hilang rasa terkejutku, wanita itu kembali mengangkat tangannya. Tamparan kembali mendarat tepat di pipi kiri ... ku.


Ya Allah, ini perih sekali, memang apa salahku?


bersambung dulu ya ....