
Setelah melihat secara langsung kejadian yang menimpa ayahku sepuluh tahun silam, kini aku menjadi seorang Hemophobia. Ketakutanku melihat darah membuatku selalu menghindar setiap kali melihat cairan berwarna merah itu, tapi kali ini aku kembali disebuah kamar rumah sakit karena hal yang sama.
"Apa orang itu mati?" Kutanyakan pada pria yang menatapku dengan iba. Aku begitu cemas dengan keadaan pengendara motor yang terlihat seperti kurir pengantar makanan beberapa waktu lalu.
"Hanya luka kecil di kakinya. Dia sudah pulang bersama dengan keluarganya. Saya di sini, justru karena kamu yang pingsan hampir satu jam setelah kecelakaan itu." Sang pria menjelaskan dengan tenang dan penuh kewibawaan.
"Alhamdulillah," ucapku penuh rasa sukur. "Apa kamu akan menuntutku?"
Sudut bibir sang pria sedikit terangkat, membuat sebuah lengkungan senyum yang menghiasi wajah tampannya, seraya menggelengkan kepala pelan.
"Terimakasih." Aku begitu lega melihat ekspresi pria di hadapanku, tak ayal, senyuman di wajahnya juga membuatku ikut menyunggingkan senyum.
"Justru saya yang harus meminta maaf padamu, karena kecerobohan karyawan saya yang membuatmu jadi begini."
"Aku yang salah, aku yang berhenti di tengah jalan." Aku menjelaskan pada sang pria karena wajahnya terlihat begitu menyesal.
Perlahan sang pria merogoh saku tuxedo yang ia kenakan, mengambil sebuah dompet kulit, kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam, dilapisi warna gold pada bagian tepi kartu.
"Adam Wijaya Kusuma." Kulafazdkan nama yang tertulis dalam kartu nama setelah sang pria memberikannya padaku.
Perlahan pria yang kini kuketahui bernama Adam tersebut mengulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh Zain. Aku dan Adam kompak mengernyitkan dahi saat Zain yang menerima uluran tangan tersebut.
"Zain. Dia istriku, Rayya."
DEG....
Darahku berdesir saat Zain mengenalkanku sebagai istrinya di hadapan pria asing. Pingin nangis terharu tapi ragu, mungkin Zain kesambet.
"Apaan sih!" Zain menepis tanganku saat kucoba menempelkan punggung tanganku di keningnya. Fix, aku yang pingsan Zain yang demam.
"Jika terjadi sesuatu padamu, tolong jangan sungkan untuk menghubungi nomor yang tertera di kartu itu," ucap Adam dengan senyum yang makin menambah aura ketampanan dan kewibawaan. Aku hanya mengangguk pelan melihat keramahan Adam.
"Jika terjadi sesuatu aku yang akan mengurusnya, istriku adalah tanggung jawabku." Zain menatap Adam seperti seorang rival. Apa Zain, cemburu?
Jika Zain begitu cemburu pada pria lain yang ramah pada istrinya, kenapa Zain harus mengancamku dengan pasal 368 KUHP. Hal yang membuatku begitu pusing, siapa Zain sebenarnya? Siapa, yang alter ego, siapa.
"Baiklah, kalo begitu saya segera pamit. Semoga kamu cepat membaik." Setelah selesai dengan ucapannya, sang pria lalu membungkukkan badannya yang tegap, sembari berlalu meninggalkan ruangan, di mana kini aku dan Zain berada.
Setelah kepergian CEO sebuah restoran yang berpusat di ibu kota tersebut menghilang di balik pintu. Tidak ku siakan momen yang meninggalkan aku dan Zain hanya berdua saja. Tunggu ... dari awal memang kami selalu berdua. Ish tenor, teror, eh eror.
"Tunggu!" Aku menahan tangan Zain, sebelum melangkah menjauhi tempat di mana ia berdiri. "Siapa nama orang yang begitu baik, kalau di depan orang lain. Lalu, siapa nama orang yang begitu jahat saat kita hanya berdua, bahkan tega mengancam memasukanku ke dalam penjara?"
Zain mengangkat sebelah alisnya, aku tau, ia pasti akan mencari alasan untuk menutupi alter egonya. Tapi aku juga tidak akan menyerah begitu saja, meski Zain tidak memberitahuku dengan lisannya aku pasti akan tau dengan cara yang lain.
TAK....
"Aw." Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Tapi yang namanya disentil dengan jari di kening itu, ya tetap perih, meski sudah dipersiapkan bagaimanapun juga.
"Kalo kamu sudah sembuh, sebaiknya kita pulang." Zain melepas tanganku yang melingkar pada pergelangan tangannya dengan paksa.
"Jawab dulu!" rengekku pada Zain yang yang masih berdiri di samping ranjang tempatku bersimpuh pada pria ramah sebelumnya.
"Kebanyakan nonton drama. Cepat keluar, aku benci rumah sakit." Zain bermonolog seraya melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Apa kamu lapar?" tanya Zain disela langkah kami menuju ke parkiran.
Aku hanya menggelengkan kepala untuk pertanyaan Zain. Sebagai seorang suami, Zain memang melakukan kewajibannya secara lahiriyah. Kepedulian dan perhatiannya seolah menjebakku, aku sungguh ingin menjadi seorang istri yang baik tanpa embel-embel apapun.
"Zain?" Kulafazdkan namanya dengan menunduk setelah kami masuk ke dalam mobil.
"Kamu pusing?" Hanya suaranya yang bisa kudengar, karna aku begitu ragu untuk menatap wajahnya.
"Tidak. Aku ingin mengatakan sesuatu," ucapku masih dengan menatap jariku yang memainkan ujung hijab.
"Apa?"
"Aku ingin ke toilet." Setelah beberapa saat terdiam, tiba-tiba aku mendapat keberanian.
Segera kuangkat daguku, menatap kearah Zain yang terlihat sedang menunggu ucapanku. Tanpa menunggu jawaban Zain, aku kembali turun dari dalam mobil. Berlari ke sembarang arah, toilet adalah sebuah pengalihan saja.
Setelah beberapa saat berlari, aku menghentikan langkahku pada sebuah bangku kayu yang terletak pada taman di dekat rumah sakit. Sepertinya sudah lama terabaikan, rapuh. Sama seperti hatiku, yang terabaikan karna Zain tak pernah menganggapku.
Aku memilih duduk disalah satu ujung bangku dengan mengatur napasku yang begitu ngos-ngosan. Aku tidak mengira tiba-tiba aku memiliki kekuatan setelah pingsan.
Sebelumnya aku ingin mengungkapkan bahwa aku tidak jadi meminta uang karna kesepakatan. Aku ingin kembali pada niatan awalku menikah dengan Zain. Aku ingin menjalani rumah tanggaku sebagai ladang amal.
"Aku haus," gumamku pada diri sendiri sambil mengipasi wajahku dengan kelima jari tangan.
Tiba-tiba ada sebuah botol mineral datang menghampiriku dari arah samping. Ah ... seperti surga, baru bergumam langsung tersedia.
"Terima ...."
Aku menoleh kearah datangnya botol, ternyata botol air mineral itu tidak datang dengan sendirinya, ia datang dengan seseorang yang berwajah tampan sambil mengulum senyum. Zain, pria di sampingku adalah Zain.
"Kasih," ucapku kemudian setelah menelan saliva dengan susah payah.
Setelah membuka tutupnya, Zain langsung menyerahkan botol itu ke tanganku. Rasanya aku ingin menolak, dehidrasi yang tadi berada di ambang batas kini telah lenyap bersama datangnya pria tampan yang ingin kupanggil dengan sebutan sayang, eh.
"Aku baru tau, orang habis pingsan bisa lari," ucap Zain setelah memberikan air mineral padaku.
"Sama," jawabku sambil mengangguk mantap.
"Tidak bisa ya? Tidak membuatku khawatir sedikit saja!" Sarkas Zain setelah duduk di ujung bangku yang lainnya.
Aku sangat terharu dengan apa yang diucapkan Zain barusan. apa Zain mengkhawatirkan ku? Maaf, aku terlalu berburuk sangka.
Aku tak sanggup lagi menahan euforiaku, aku segera bangkit untuk menatap wajah pria di belakangku. Namun ....
BRUGH....
Saat aku berbalik, Zain malah terjerembab di tanah. Aku melupakan hal yang begitu penting, bahwa aku dan Zain saling duduk di ujung bangku.
Ya elah .....