
"Kenapa tidak membangunkanku?"
Aku protes pada Zain, yang tengah mematut diri di depan cermin.
Waktu menunjukan pukul 06:45, aku bergegas menuruni ranjang dan masuk ke kamar mandi, segera mengambil wudhu untuk melakukan sholat subuh.
Rasulullah juga pernah mengalami hal serupa, melewatkan waktu shubuh karena ketiduran pada waktu safar (melakukan perjalanan) dengan para sahabatnya. Hadis shahihnya diriwayatkan Imam Bukhori nomor 595.
"Sudah mendekati waktu shubuh, kenapa tidur lagi?" Zain menyalahkanku setelah aku menyelesaikan kewajibanku yang tertunda.
"Aku menunggumu keluar kamar mandi, hingga ketiduran," jawabku tanpa memperhatikan lawan bicara, sibuk merapikan mukena yang baru saja kupakai.
"Mama, papa sudah pulang, mereka menitip salam untukmu."
"Waallaikumussalam."
"Kok, pagi banget pulangnya? Aku kira mereka akan menginap lagi di sini!" Aku berjalan menghampiri Zain yang berdiri di depan almari. Nampaknya ia tengah bingung memilih dasi.
"Mau cari kesempatan, jika ada mama?!" Zain membulatkan matanya sempurna, aku memfokuskan pandangan mencari dasi yang cocok dengan kemeja yang dikenakan Zain.
"Lebih tepatnya, memberi kesempatan," ucapku, lalu menunjuk satu dasi bermotif garis.
"Aku bantu memakaikannya!" pintaku setengah memohon. Zain mengangguk meluluskan keinginanku.
"Ucapanku semalam serius, aku akan mengembalikan uangmu, dan surat perjanjian itu, aku akan membuangnya. Aku tidak memerlukan perjanjian di atas kertas untuk melakukan semua ini. Tanggung jawabku pada Allah, lebih dari cukup untuk berdamai dengan takdir," ucapku yang tengah bingung memposisikan bagian ujung lebih besar atau kecil yang seharusnya ada di atas.
Dengan jarak yang begitu dekat, aku bisa melihat gelagat aneh yang ditunjukan Zain. Keraguan terlihat dari netranya yang melihat ke atas.
"Pakai saja uangnya, aku sudah memberikannya untukmu. Kapan kamu akan menyelesaikan dasinya, btw?"
Aku tersenyum ketika bertatap dengan manik mata milik Zain. Sebelumnya aku telah melihat vidio cara mengenakan dasi, tapi entah mengapa praktek tak semudah teori.
Pada akhirnya tanganku ditepis, Zain mengenakan sendiri sembari menjelaskan step by step cara mengenakan dasi dengan benar. Aku janji pada diri sendiri, besok pasti bisa melakukannya dengan baik.
"Kenapa Mas Zain berbohong padaku? Rendi, tidak menerima telepon darimu, saat malam setelah akad?"
"Hari ini tidak ada pertanyaan lagi!"
"Kalau begitu, jawab untuk esok hari!"
Zain mengenakan jasnya, sedangkan aku berinisiatif mengambil tas yang ada di atas meja. Sekilas kupandangi laci yang tertutup rapat bahkan mungkin terkunci.
Saat Zain keluar kamar, aku segera mengikuti langkah di belakangnya, dengan membawakan tasnya. Hal yang baru pertama kali kulakukan.
"Tidak sarapan?" ucapku, ketika Zain tidak mengarah ke meja makan melainkan ke luar rumah.
"Sudah, bareng mama dan papa. Mama melarangku membangunkanmu sebelumnya."
"Setidaknya bangunkan aku untuk sholat shubuh." Diam-diam aku mengerucutkan bibir, Zain tak mungkin melihatku, dia lebih tertarik menatap jam tangan di pergelangannya.
"Lain kali!"
Aku menatap wajah Zain yang memutar tubuhnya menghadapku setelah berada di teras depan rumah, mencoba mencerna maksud ucapan lain kalinya. Apa Zain berharap aku selalu bangun kesiangan?
"Lain kali, aku akan membangunkanmu sebelum sholat shubuh," imbuhnya lagi, yang ternyata menjeda ucapannya. Seolah mengerti apa yang tengah aku pikirkan.
Aku menundukan kepala menekuri lantai, setelah Zain memergokiku yang tengah menatap bibirnya saat berbicara. Bahkan aku sempat mundur satu langkah karena gerakan tangan Zain yang tiba-tiba.
Aku salah menduga, kukira Zain akan menjentikan jarinya di keningku. Ternyata Zain menarik baju yang kukenakan hingga tubuhku tertarik, mendekat padanya tanpa jarak.
Aku merasakan tangannya yang melingkari pinggulku dengan lembut, kemudian ....
CUP....
Demi apa? Jantungku bergejolak hebat. Ketika Zain mendaratkan ciuman di keningku. Membuatku mengedipkan mata beberapa kali.
"Pindahkan semua barangmu dari kamarku, siang ini juga," bisiknya lirih di telingaku, setelah memberi harapan Zain membuat euforiaku mendadak menguap.
"Apa ini akting?" tanyaku tanpa energi. Zain hanya tersenyum, dengan seenaknya menyentuh pipiku. Aku membeku, untuk kesekian kalinya aku ragu pada diriku sendiri. Apa aku bisa memasuki hati Zain?
Seharusnya aku tidak melupakan isi dalam perjanjian. Aku juga harus bersikap wajar, jika Zain melakukan hal ini lagi. Ya Allah ... berilah hamba kesabaran tanpa batas.
Setelah berpamitan dan mengucapkan kata sayang, Zain memasuki mobilnya, aku melambaikan tangan padanya hingga mobil yang dikendarainya menghilang dalam jarak pandang.
"Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, hai, begitulah kata para pujangga. Aduhai, begitulah kata para pujangga."
Bu Endang si tetangga sebelah bersenandung dengan menggoyangkan pinggulnya, sambil menyirami pepohonan di taman depan rumahnya.
"Assalamualaikum, Bu." Aku memberi salam setelah berdiri di depan pagar pembatas pekarangan. Raut wajah kesalku, ku sembunyikan di balik senyum yang merekah, setelah bu Endang menjawab salamku dan menggoda, dengan cie ciee nya.
"Semakin lama diperhatikan, kamu semakin mirip dengan Tasya," ujarnya yang membuatku tertawa, siapa sih yang gak mau di mirip-miripin sama cewek cantik macam kak Tasya.
"Beneran!" Bu Endang terdengar begitu serius. Ucapannya seperti penghibur untukku.
"Kemarin, bilang, aku mirip masa mudanya Bu Endang, sekarang mirip kak Tasya. Kita kembar tiga, dong!" candaku yang membuatnya tertawa.
"Kembaran kita, yang satu lagi aneh," ucapan bu Endang membuatku penasaran.
"Aneh kenapa Bu?"
"Tasya sepertinya bukan manusia, tapi bidadari."
Kami kembali tertawa karena lelucon bu Endang. Namun dalam hati, aku menangis, memikirkan Zain lagi, Zain terus, always Zain. Duniaku jungkir balik karena Zain.
Setelah perbincangan dan canda tawa yang unfaedah dengan bu Endang usai, aku kembali ke dalam rumah. Mengisi energi dengan sarapan, jauh lebih penting saat ini. Karena untuk terlihat baik-baik saja membutuhkan asupan karbohidrat, protein, dan vitamin yang seimbang. Empat sehat, Zain sempurna.
"Aaaaa ...."
Secepat kilat aku berlari ke luar setelah mendengar teriakan dari rumah sebelah. Sepertinya bu Endang pun melakukan hal yang sama, terbukti saat kami saling pandang, kemudian bergegas menuju rumah kak Tasya yang tengah menangis, di depan sebuah box.
Jelas saja kak Tasya sangat ketakutan, dari dalam box tersebut muncul seekor ular. Aku membantu kak Tasya berdiri dan menenangkannya, sedangkan bu Endang, dengan berani memukulkan tongkat pada kepala si ular hingga tak bernyawa.
"Kak Tasya tau, siapa pengirimnya?" tanyaku setelah kak Tasya tenang.
Dia hanya menggelengkan kepala, wajahnya masih nampak pucat karena kejadian itu. Aku hanya berinisiatif menggenggam tangannya, hingga sebuah pemandangan terasa ikut menamparku. Pergelangan tangan kak Tasya ....
Ini tidak mungkin!