Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Rumit


Aku menggigit bibir bawahku, suasana begitu hening di dalam taksi yang kami naiki. Aku dan Zain menghadap ke luar jendela di sebelah kami masing-masing. Entah apa yang ada dalam pikiran Zain, hingga tiba-tiba menciumku ketika melihat Tasya keluar dari rumahnya. Padahal sudah pernah kuberi tahu, pasangan suami-istri tidak akan melakukan hal itu di depan tetangganya.


"Maaf," ucapnya terdengar menyesel, tapi tak kuhiraukan. Berapa kali pun Zain mengucapkan kata maaf, takan membuat bibirku kembali perawan.


"Sini, biar kuambil lagi bekas bibirku!"


Kupejamkan mata seiring rahang yang mengeras dan gigi gemelutuk. Bagaimana aku tidak murka, Zain menganggap remeh hal yang begitu sensitif bagiku.


Saat tangannya menyentuh pundakku, aku segera berbalik dan hendak melayangkan pukulan padanya, namun dengan sigap tangan ini ia cekal hanya dengan satu tangan.


PLAK...


Tanganku yang lainnya berhasil menepuk bibir lancangnya. Bukannya Zain merasa kesakitan tapi malah tergelak dengan masih menahan satu tanganku. Aku semakin naik pitam, bahkan tak peduli dengan sang supir yang tengah mencuri pandang dari kaca spion dan ....


Sang supir mengerem mendadak, alhasil, aku yang tanpa persiapan akan hal itu, langsung menubruk Zain dengan pendaratan bibir yang sempurna di pipinya. Aish ....


"Maaf Mas, Mbak. Tiba-tiba ada kucing menyebrang," tukasnya membela diri. Sedangkan aku kembali membetulkan posisi dudukku setelah Zain melepaskan tangannya. Tak lupa lirikan kecil kuhadiahkan karena kecerobohannya.


"Nanti kubayar dobel, pak!"


Ciih ....


***


"Terimakasih, pak," ucap Zain pada sang sopir setelah membayar dua kali lipat tarif yang tertera pada argo taksi. Zain benar-benar melakukannya.


"Kan sudah balas dendam tadi, kok masih cemberut?"


Setelah perginya taksi, Zain menggodaku yang tengah cosplay sebagai patung dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Maaf," ucapnya untuk yang entah keberapa kali. Aku tetap bergeming.


"Lagian cuma nempel aja, ngapa cemberutnya nyampe ngalahin bibir bebek. Apa jangan-jangan ...."


Zain menggantung ucapannya, terpaksa mataku menatap wajahnya yang nampak seolah sedang berpikir.


"Kamu kecewa ya, karena cuma nempel aja?"


Aku membolakan mata, Zain tertawa lepas karena ocehannya sendiri.


"Nanti aku kasih lebih," bisiknya di telingaku setelah memangkas jarak.


Segera kucubit pinggangnya yang membuat Zain meringis menahan sakit, tapi setelah kulepaskan tanganku dari pinggangnya ia kembali tertawa. Aku hanya bisa berdiri mematung.


"Mau ikut, apa aku tinggal?" selorohnya sambil berjalan.


"Selamat pagi, Pak, Bu?" Sapa pak Anto ramah ketika Zain berjalan melewati pos penjagaan yang di ekori olehku.


Zain menjawab salam yang diucapkan oleh pak Anto, Satpam yang tengah berjaga. Dengan terpaksa aku berlari setelah menjawab salam yang sama, untuk mengejar ketertinggalan langkahku dari Zain.


"Waktu Mas Zain, menolong si anak kecil. Kepala Mas Zain terantuk batu?"


Setelah langkah kami sejajar, Zain meraih tanganku dan menggenggamnya. Kenapa juga, aku harus mengambil sisi ini? Mau di hempaskan, tak mungkin juga, demi menjaga kewibawaan atasan di depan para karyawan.


"Emang kenapa?" tanyanya sembari menoleh ke sisiku.


"Perasaan kamu aja kali?" jawaban Zain membuatku mengingat ucapan saat membantunya memilih pakaian tadi pagi. Bisa-bisanya Zain dengan mudah mengembalikan kalimat itu.


"Setiap kali masuk kantor, kini kulkas dua pintu tak lagi sedingin dulu. Suasana kantor jadi ikut ceria karena senyumannya."


Ekor mataku menangkap segerombolan karyawan yang tengah kulewati, bisa-bisanya mereka menggunjing bosnya sendiri tepat di depan mukanya.


Genggaman semakin dipererat oleh Zain, menatapku dengan sebuah senyum yang menghiasi wajahnya. Sepertinya Zain sama sekali tidak merasa terganggu dengan apa yang mereka gunjingkan.


"Itu karena dia menemukan tempat penyaluran yang tepat." Suara seorang pria menimpali dengan lirih, namun masih sempat kudengar. Membuat kerongkongan ini terasa tercekat karena sulit menelan saliva.


Sebelum memasuki ruangan bertuliskan Chief Executive Officer, Zain sempat melayangkan senyuman padaku. Diih ... apaan. Senyum-senyum mulu, stres nih orang. Segera aku membuang muka.


"Kamu tunggu sebentar ya, Sayang. Aku harus memeriksa beberapa dokumen, baru setelahnya kita ke rumah mama."


Aku membeku mendengar kalimat sapaannya 'sayang?' Apa aku tak salah dengar? Atau lidah Zain yang tergelincir? Tapi ....


"Ke rumah, mama?!" Aku mengulangi kalimat terakhir yang diucapkan Zain.


"Tadi pagi, mama juga menelepon. Mama rindu dengan menantunya. Bahkan, mama lupa menanyakan kabar anaknya sendiri." Zain berujar setelah menghempaskan diri di atas kursi kerjanya.


"Apa kamu senang telah merebut perhatian kedua orang tuaku?" imbuhnya kemudian, tapi tak nampak sebuah kecemburuan setelah ucapan terakhirnya.


Aku menghirup udara sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-paru, mencoba merelakan rencana hari ini yang berantakan total. Kujamah ponsel pintarku setelah aku duduk di sofa. Sekilas kulirik Zain yang tengah fokus dengan lembaran kertas sambil memegangi keningnya.


["Assalamualaikum, pak Jamil. Sepertinya kita tidak bisa bertemu hari ini."]


Segera kutekan gambar pesawat kertas untuk mengirim pesan yang telah kuketik. Centang dua berwarna biru, terlihat di pojok kanan atas Detective writing.


["Oke, mbak. Gak apa! Laporan saya kirim bentuk tulisan saja ya, mbak."]


["Oke!"] Balasku singkat. Menunggu Detective writing, kembali mata ini melirik ke arah Zain yang tengah mengetuk-ngetuk pena yang ada di tangannya ke meja.


["Bu Wanda bukanlah ibu kandung Tasya. Ia menikahi ayahnya ketika Tasya telah remaja, sebelumnya, bu Wanda hanya simpanan ayahnya. Mereka menikah setelah ibu kandungnya meninggal."]


Aku mengernyitkan dahi setelah membaca pesan yang dikirimkan pak Jamil, terlalu pelik kisah yang manjadi background kehidupan wanita yang pernah mengisi hati Zain.


Di sisi lain, aku merasa kagum dengan sosok bu Wanda. Sebagai seorang ibu sambung, kurasa bu Wanda cukup perhatian dengan putrinya, terbukti ia mau meluruskan kesalah pahaman putrinya dengan Zain. Terlepas dari masa lalunya yang hanya sebagai simpanan.


["Tasya menikah hanya untuk jaminan hutang ayahnya yang bangkrut karena ditipu oleh sahabatnya sendiri. Lebih mirisnya lagi, mbak! Tasya hanyalah istri kedua."] Pak Jamil mengirim pesan dengan emot berderai air mata sebanyak tiga biji.


Detective macam apa yang membawa serta perasaannya dalam sebuah misi.


Aku menghela napas, seolah aku ikut merasakan kesedihan yang telah di alami Tasya. Allah memberikan ujian yang begitu berat pada perempuan cantik yang katanya mirip denganku.


["Bu Wanda juga memiliki anak dari hubungan gelapnya bersama ayahnya Tasya. Akan tetapi, anaknya hilang di bawa oleh suami sahnya bu Wanda saat itu. Yang artinya, bu Wanda dan ayahnya Tasya selingkuh ketika mereka sama-sama masih memiliki pasangan."]


Aish ... rumit, mirip sinetron ikan terbang, yang backsound-nya kumenangis membayangkan.


["Sekian laporan untuk hari ini. Saya akan kembali bertugas."] Pesan pamungkas yang dikirim pak Jamil ku balas 'oke' hanya dalam hati.


Saat aku kembali menoleh ke arah Zain berada, ternyata ia tengah memperhatikanku yang kini tengah berkaca-kaca karena pesan pak Jamil. Segera kuseka mataku dengan punggung tangan sebelum drama berpelukan seperti Teletubbies terjadi.


"Lihat apa?" Zain mengambil handphone di tanganku tanpa persetujuan, menatap layar dengan memundurkan garis bibirnya.