
Kebahagiaan di wajah tuan rumah tiba-tiba lenyap ketika membuka pintu dan yang dilihatnya bukan hanya aku yang berdiri di sana.
Aku hanya mengabarkan akan datang. Saat yang dijumpainya adalah rombongan, kurasa itu menjadi paket tersendiri yang membuat Dokter Wanda terkejut.
"Masuklah," titahnya yang diikuti kami semua berjalan di belakangnya.
Rumah yang benar-benar megah bak istana.
Apa motif Dokter Wanda menjadi orang ketiga di rumah ini. Haish! Sakitnya hati ini. Jika nanti yang kudengar adalah harta.
"Mas." Kutarik kemeja bagian punggung yang dikenakan mas Zain sehingga ia berhenti melangkah dan berbalik menghadapku.
"Kenapa, Dek?" tanya mas Zain.
"Kamu sakit? Wajahmu pucat." Ia panik kemudian.
Benarkah? Kutangkup wajahku sendiri dengan tangan sedingin es. Nervous. Benar-benar nervous.
"Pulang, yuk, Mas. Aku tidak bisa mendengar kenyataan."
Mas Zain ikut menangkupkan kedua tangannya di atas punggung tanganku.
"Kita harus dengar. Agar tahu, kita perlu mengulang akad atau tidak. Kamu sendiri yang bilang, kita harus memastikan dengan jelas nasab anak kita nanti. Mungkin harapanku dan tante Aira sama, tak perlu mengulang akad, jadi kita bisa langsung proses anak kita sepulang dari sini."
Mataku berkedip-kedip hanya mendengar mas Zain membicarakan proses anak.
Astaghfirullah. Otak ini mudah sekali jalan-jalan. Sebaiknya memang harus mempercepat jalan menuju ke sana.
"Mama senang melihat kalian romantis seperti ini."
Mama?
Ternyata Dokter Wanda berdiri di dekat kami yang kadang lupa ada penghuni lain di bumi. Segera mas Zain menurunkan tangannya. Lalu tersenyum manis padaku juga Dokter Wanda.
Rasanya canggung mendengar Dokter di hadapanku menyebut dirinya mama, bahkan dengan senyum yang manis.
"Rayya." Sang Dokter melafazdkan namaku, jaraknya denganku juga semakin mengecil. Seiring tangannya yang terulur menangkup wajahku seperti yang barusan di lakukan mas Zain. Mengecup keningku lama, kemudian dipeluknya tubuhku.
Dalam pelukan Dokter Wanda, mataku masih mengawasi mas Zain yang memberikan anggukan agar aku membalas pelukan itu.
"Maafkan mama, Sayang," rintihnya dengan suara terisak. Bahunya bergetar bersamaan dengan pelukan yang semakin erat kurasakan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Dok. Tapi ... dadaku terasa sesak, Dok."
Mas Zain yang tak pernah lepas dari tatapanku menepuk keningnya. Why, apa ada yang salah?
"Maaf, mama hanya merasa senang kamu mau memaafkan mama."
Akhirnya aku kembali bernapas dengan leluasa setelah pelukan dilepaskan.
"Mbak! Aku akan langsung saja pada tujuanku kemari?!"
Suara tante Aira menghentikan tangan Dokter Wanda yang hendak membelai wajahku. Keterkejutan nampak dari guratan wajahnya yang mulai keriput.
"Maaf Aira, aku hanya terbawa suasana." Wanita dengan gelar Dokter di hadapanku akhirnya hanya menuntun tanganku mendekati tante Aira. Membiarkanku duduk di seberang sofa yang di duduki tante Aira dan ia sendiri memilih tempat di sebelahku.
"Aku hanya ingin tahu siapa ayah biologis Rayya sebenarnya!" ucap tante Aira langsung to the point.
Dokter Wanda mengambil napas dan menghembuskannya. Beberapa kali hal itu ia lakukan sebelum bicara.
"Sepertinya tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Kita semua juga sudah dewasa di sini. Jadi akan aku katakan yang sebenarnya."
Sakit. Sangat sakit, mendengar nama pria asing didaulat sebagai mediator yang mengantarku ke dunia ini. Penyumbang gen terbesar dalam tubuhku.
Disaat orang lain di belahan bumi lain merasa bahagia setelah menemukan orang tua biologisnya. Namun tidak denganku. Mungkin aku sama kecewanya dengan kak Tasya jika mendengar semua ini.
"Mbak!" Tante Aira menjerit, bahkan bangkit dari duduknya.
"Kenapa kamu mengkhianati kakakku setelah semua yang ia lakukan untukmu. Bahkan bekerja keras memenuhi keinginanmu menjadi Dokter. Setelah apa yang ia lakukan ... tega kamu, Mbak!"
Tangisan tante Aira meledak, menyusul tangisku yang tertahan saat mendengar nama pria asing itu disebutkan untuk pertama kalinya.
"Aku hanya ingin punya anak Aira. Sama sepertimu yang melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Sayangnya, mas Aziz tidak bisa memberikannya padaku. Kakakmu infertil. Bahkan ia yang mendorongku untuk melakukan hal kotor ini."
Di depan mata kami semua. Tante Aira melayangkan tangannya pada pipi sang Dokter. Wanita yang begitu sabar dan lembut melakukan hal itu untuk pertama kalinya. Membuatku tertegun dan membatu beberapa detik.
"Setelah mengkhianati kakakku, sekarang kamu tega memfitnahnya juga? Iblis macam apa sebenarnya kamu, Wanda!"
"Ya, akulah si iblis itu. Iblis yang mencoba mengikhlaskan keinginanku untuk memiliki anak dan menerima keadaan kakakmu. Iblis yang tega menghancurkan rumah tangga sahabatnya sendiri dengan meniduri suaminya. Kalian selalu menyamakanku dengan iblis tanpa mau tahu siapa yang telah menjadikanku iblis."
Suara Dokter Wanda juga sama kerasnya dengan tante Aira. Membuat dadaku begitu nyeri untuk menyaksikan hal ini pertama kalinya.
Kenapa kedua orang dewasa ini menyelesaikan masalah dengan kekanakan. Bukankah intinya sudah di dapatkan, bahwa aku bukan anak ayah.
"Kakakmu yang merancang semua ini Aira, agar kami bisa mendapatkan bayi."
"Jangan menyalahkan kakakku untuk Zina yang kamu lakukan, mbak Wanda! Kakakku bukan orang bod*h dan kakakku juga memiliki uang jika kamu menginginkan bayi tabung."
"Kami ingin melakukan hal itu jika saja mas Aziz tidak mandul."
Disaat keduanya menangis, pada siapakah aku harus memberikan pelukan ini. Tante Aira atau Dokter Wanda?
"Pikirkan baik-baik Aira, siapa yang pergi menghindar di sini? Setelah memintaku tidur dengan pria lain dia berjanji untuk menjaga anak itu bersama. Namun apa yang terjadi padaku kini, setelah bayi itu lahir kalian pergi meninggalkanku begitu saja. Memisahkanku dengan putriku."
"Tak perlu banyak drama, Mbak. Jika sejak awal kakakku tahu itu bukan darah dagingnya, kenapa harus repot-repot mengurus bayi itu!"
Bak sebuah petir yang menggelegar di telingaku. Apa yang diucapkan tante Aira mampu menghanguskan jiwa dan ragaku.
"T-tante? Apa aku beban bagimu?"
"Rayya. Bukan begitu maksud tante, Sayang."
Tante yang sebelumnya kukagumi begitu tergopoh mendekatiku. Sebelum tubuhnya mencapaiku, mas Zain lebih dulu mendekap erat hatiku yang terluka karena ucapan tante Aira yang tak ingin kudengar.
Kenapa setiap orang dewasa melakukan kesalahan, selalu anak mereka yang dijadikan korban.
Suara tepuk tangan menginterupsi. Mata semua orang tertuju pada gadis di lantai atas yang membuat suara tersebut.
"Kisah yang epik," ucap sang gadis seraya menuruni anak tangga.
Namun, ada kesalahan saat gadis itu sampai di anak tangga yang ke lima. Ia tersandung kakinya sendiri. Membuat tubuh sintalnya jatuh sesuai irama anak tangga dan kepalanya membentur lantai dengan keras.
Aku menahan napas, melihat gadis tomboy berpakaian seksi itu tak bergerak. Lima detik kemudian ia terbangun, duduk dengan satu kaki ditekuk dan yang lainnya dibiarkan lurus. Menyentuh dahinya yang berdarah lalu mengumpat.
"********"
"Caca!" pekik Dokter Wanda dengan menutup mulutnya.
"Hai!"