
"Assalamualaikum."
"Waallaikumussalam."
Zain dan wanita yang memakai jas berwarna putih menjawab salamku bersamaan. Jika dilihat dari pakaian dan stetoskop yang menyembul dari sakunya, aku memastikan ia adalah seorang dokter. Tapi apa hubungannya dengan Zain dan Tasya? Mengapa dokter membahas masa lalu si pasien.
"Tante, dia istriku."
Wanita yang berdiri di hadapan Zain nampak terkejut, raut wajahnya menggambarkan ekpresi yang sama saat pertama kali melihatku pada waktu menjawab salam.
"Kamu sudah menikah?!" Tatapan wanita yang Zain sapa dengan sebutan tante, terarah pada Zain kemudian padaku bergantian. Zain mengangguk pelan untuk memastikan jawabannya.
Aku menyambut uluran tangannya, mencium punggung tangan dengan khidmat sebagai penghormatan kepada yang lebih tua. Matanya berkaca-kaca saat menatapku, kemudian membelai wajahku layaknya seorang ibu.
"Kamu sangat cantik." Pujinya seraya tersenyum. "Siapa namamu?"
"Rayya, Tante." jawabku singkat.
Ada apa dengan dokter satu ini, apakah jantungnya bermasalah? Kenapa begitu sering terkejut. Apa, ada yang salah dengan namaku?
"Siapa nama lengkapmu?" Ia terus melontarkan pertanyaan.
"Kenapa Tante?!" Aku yang penasaran dengan ekspresi terkejut di wajahnya, balik bertanya.
Wanita yang masih menggenggam tanganku, menggeleng pelan. "Kamu mengingatkanku pada putriku." Terlihat ia menarik napas dalam, lalu menghembuskan perlahan.
Mendengar ucapannya, aku jadi teringat pada sosok bu Endang sebelumnya. "Apa Anda, ibunya Tasya?!" cecarku pada wanita tersebut.
Ia memberi jawaban dengan mengangguk, kembali mengelus pipiku lembut sebelum akhirnya berpamitan padaku dan Zain lalu ke luar dari ruang rawat.
"Menikah denganku, karena aku mirip mantan?!" Aku berjalan mendekati ranjang tempat Zain berbaring, sambil melipat tangan di depan dada. Kemudian duduk di tepi, tepat di bawah kakinya.
Meski aku tau tujuan Zain menikahiku, tetap saja aku merasa cemburu. Aku terpilih karena wajahku mirip wanita yang pernah mengisi hatinya. Zain pun tak mengelak dengan tuduhanku, ia malah mengangkat satu sudut bibirnya membentuk lengkungan mengejek.
"Satu sama!" balasnya yang membuatku bingung.
"Kamu menikahiku juga dengan alasan yang sama. Karena aku mirip idol K-Pop yang fotonya kamu jadikan wallpaper hp." ucapnya seolah menuduhku penuh dengan dosa. Jelas saja aku jadi kelimpungan dengan tuduhannya.
"Kamu memeriksa hp-ku?!" tukasku menyembunyikan rasa gugup di balik amarah.
"Kamu yang sering ngasih hp-mu padaku! Pura-pura lupa?!"
Kini aku yang tidak bisa mengelak. Menundukkan pandangan, begitu malu menatap wajah suamiku. Salahku, kenapa masih menggunakan foto-foto itu sebagai penghias layar handphone setelah bersuami.
"Sini!"
Perlahan tapi pasti, aku mengikuti instruksi tangan Zain agar aku mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Berikan hp-mu." Tangannya menengadah ke arahku, menanti benda yang ia minta berpindah ke tangannya.
Aku melongo menatap layar handphone-ku setelah Zain mengembalikannya lagi, tatapanku beralih antara layar dan Zain.
"Suamimu lebih tampan, dari gambar-gambar lainnya di hp-mu," ujarnya memberikan senyum, foto wajahnya kini memenuhi layar benda di tanganku. Zain, bisa narsis juga. Jadi pingin tak bikin bucin.
Zain semakin memperumit teka-teki, ia yang sering tersenyum, bahkan, tak ragu untuk menertawakanku bebeda dengan penuturan mama. Zain juga bukan tipikal pria introvert seperti yang diungkapkan Rendi. Satu lagi, wajahnya tak menampakan emosi apa pun saat wanita tadi meminta Zain memaafkan Tasya. Aku mumet, serius.
"Kenapa dengan wajahmu?"
"A-aku hanya sedang berpikir, bagaimana kamu bisa terluka?" jawabku tergagap, saat tahu Zain sedari tadi memperhatikanku.
"Aku dan Randi akan meeting di luar kantor dengan klien, tiba-tiba ada anak kecil yang berlari mengejar bola ke tengah jalan. Aku reflek aja, berguling dikit, saat menyelamatkan anak itu dari bemper mobil yang akan menciumnya, dan ... beginilah." Zain mengendikan bahu.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali saat mendengarkan Zain berbicara. Mudahnya ia menceritakan kisah heroiknya padaku hanya dengan sedikit pancingan.
"Kemana ibunya?! Kenapa membiarkan anaknya bermain bola di tepi jalan? Jika kelak aku memiliki anak, aku tak akan melepas tangannya sedikit pun!" cercaku tajam.
"Memang anak siapa yang akan kamu jaga?!"
"Anak kita!" jawabku tanpa berpikir.
"Ish." Zain mencebik, aku menanggapi dengan membentuk huruf v menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
Zain memperhatikanku dengan seksama saat aku sibuk meraba saku, kukeluarkan tanganku dari dalamnya setelah menempelkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk hati kecil, ala-ala sebuah drama.
TAK...
Aku mengaduh setelah Zain menanggapi aksiku dengan sentilan jari di kening. Gak pernah menghargai orang lagi berusaha. Nasib bucin sepihak.
"Mama sama papa, sudah tau Mas Zain di sini?"
"Gak, dan gak usah di kasih tau!"
Aku mengernyitkan alis, mendengar ucapannya.
"Kenapa?!"
"Kita pulang sore ini juga, aku gak betah lama-lama di sini!"
"Mana ada orang yang betah tinggal di Rumah Sakit? Setidaknya, kasih kabar sama mama dan papa biar mereka gak cemas," ujarku memberi masukkan.
"Justru gak usah kasih kabar ke mereka, biar gak ikutan cemas."
"Orang tuamu berhak tau keadaanmu." Aku tetep kekeh dengan pendapatku.
"Biarkan mereka berpikir kalo aku baik-baik saja, tak perlu merepotkan mereka lagi setelah aku dewasa, mereka sudah repot mengurusku waktu kecil."
Aku terharu dengan pemikirannya barusan, tidak cocok juga dengan cerita mama yang mengatakan Zain depresi hingga mau mencelakakan dirinya sendiri hanya karna seorang wanita.
"Apa, Mas Zain, pernah mencoba bunuh diri?" tanyaku dengan sangat hati-hati.
Yang ditanya terkejut, matanya membola. Sepertinya ia paham dari mana asal cerita itu.
"Gak lah, aku juga masih punya iman. Gak usah dengerin kata mama."
Aku kembali bernafas dengan baik, sebelumnya seperti tercekat. Zain mengklarifikasi meski belum lengkap.
"Mama cerita seperti itu, pasti ada pemicunya." Aku mencoba mengorek informasi lain.
"Aku mengurung diri di kamar bukan untuk bunuh diri. Aku hanya ingin menjernihkan pikiran, mama sama papa aja yang membesar-besarkan masalah." Intonasinya meninggi, menandakan Zain tersulut emosi. Zain pun sama, suka membesarkan masalah. Sudah tidak perlu ragu lagi, Zain identik dengan cara berpikir dari kedua orang tuanya.Tapi bukan Rayya, jika menyerah di tengah jalan.
"Bukan di kamar, tapi di pinggir tebing."
Zain kembali dikejutkan pertanyaanku, ia diam, seolah sedang merangkai kejadian yang mama ceritakan padaku.
"Terpleset," ucapnya singkat. Membuatku tak puas mendengar jawabannya. Ia menangkap sorot mataku yang dipenuhi harapan agar ia menceritakan dengan detail.
"Bisa bantu aku ke kamar mandi?"
Ah, ngeles aja, tadi juga gak manja, ke kamar mandi sendiri tanpa bantuan Rendi. Jadi bikin aku salah peluk orang, mana lebih ganteng lagi yang dipeluk. Untung Rendi gak marah.
"Mau bantu gak? Malah ngelamun!"
"Iya sayang. Istri soleha selalu siap untukmu," ucapku percaya diri maksimal. Tinggal lihat apa yang akan diperbuat Zain, setelah aku menyebut ia dengan mesra.
"Aku geli dipanggil sayang olehmu." Zain malah bergidik ngeri. Tentu saja aku mulai kebal dengan sikapnya.
Orang yang meminta bantuan malah jalan cepat mendahuluiku, lagian kakinya gak papa, kenapa minta bantuan segala.
"Rayya! Sini!"
Baru saja hendak melamun, aku dikejutkan suara Zain. Dengan sigap aku berlari ke arahnya yang telah memasuki kamar mandi.
"Aku tidak bisa melepas celanaku dengan satu tangan."
Aku bingung menentukan pilihan, diajak traveling nih.
Mau gak ya?
Otakku penuh emot ibu jari dan jari telunjuk di bawah mulut dan menaikan satu alis. Disusul emot mulut terbuka dengan tangan menutupi mata tapi sedikit ngintip.