Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Teleportasi


"Mas Zain, yakin?" tanyaku justru tak yakin.


"Ngarep banget!"


Seketika pintu ditutup tepat di depan hidungku, qodarulloh gak mancung-mancung amat, aman meski Zain menutupnya tanpa konfirmasi. Jantung nih, yang gak aman, manja pingin dielus. Sudahlah, banyakin stok sabar aja. Semakin Zain dingin semakin menggemaskan.


"Mas Zain, aku keluar sebentar ya?" teriakku dari tempatku berdiri, setelah mendapat jawaban kata 'ya' aku segera melenggang keluar menuju ruangan perawat.


"Sus, boleh nanya?" Aku mengawali percakapan dengan seorang perawat yang tengah membaca lembar diagnosa pasien.


"Ada apa, Mbak? jawabnya ramah. Wanita yang memakai seragam perawat dengan hijab yang tersemat bros berbentuk hati berwarna ungu ini kuperkirakan adalah seorang Army.


Ia yang semula duduk, kini berdiri melebihi tinggi badanku, sedikit. Mungkin beda tujuh sampai sepuluh senti dariku. Bibirnya yang berwarna merah muda karena lipglos ia tarik ke belakang membentuk lengkungan tipis.


"Dokter yang keluar dari kamar suami saya beberapa menit lalu, apa dia Dokter yang menangani suami saya, Sus?" tanyaku hati-hati, agar tidak terlihat mencurigakan saat menggali information.


"Bukan Mbak, Dokter yang menangani suami Mbak, Dokter Bagus, Dokter spesialis ortopedi. Yang keluar dari kamar suami Mbak, Dokter Wanda, beliau Dokter spesialis saraf."


"Ooh." Setelah kalimat 'oh' ku, kepanikan segera melanda, apa saraf Zain juga terganggu, hingga mendapatkan penanganan dari spesialis saraf.


"Cedera suami saya parah ya, Sus? Sampai harus ditangani Dokter saraf juga?"


"Gak kok, Mbak," ucapnya masih ramah disertai senyum yang menawan. "Suami Mbak hanya mengalami dislokasi bahu aja. Beberapa pekan juga akan kembali normal."


"Alhamdulillah," ucapku penuh sukur, kemudian menyapukan kedua telapak tangan pada wajah.


Akhirnya aku lega setelah mendengar Zain hanya mengalami dislokasi bahu ringan. Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali ke ruang rawatnya Zain, dengan berbagai pertanyaan tentang Dokter Wanda yang notabenenya ibunya Tasya.


Tujuan utama mengunjungi ruang perawat, awalnya bukan untuk mencari informasi tentang cedera yang Zain alami. Entah mengapa aku malah jadi gagal fokus setelah mendengar nama Zain disebut.


Akan tetapi, bertanya lebih tentang Dokter Wanda sepertinya tidak etis, kalo tidak dijawab setidaknya aku pasti dapat tatapan aneh. Mencari tahu lewat Zain pun, bukan ide yang bagus, mengingat ekspresinya yang biasa saja, seolah tidak terjadi percakapan apa pun. Antara dia dan Dokter yang disebutnya tante.


"Dari mana?"


Baru saja menyembulkan sebagian badan, Zain sudah mencecar pertanyaan dengan sorot mata tajamnya. Satu tangan yang tidak ia gendong, dimasukan ke dalam saku celana seragam pasien. Sedangkan dinding ia gunakan untuk bersandar, dengan satu kaki disilangkan di depan kaki lainnya.


"Lagi pemotretan?" tanyaku kelepasan melihat ekspresi dinginnya yang memporak porandakan jiwa. Zain mengerutkan kening, mengikuti arah mataku yang tengah menatap posenya.


"Ada yang salah?" Setelah memusatkan tatapannya padaku, ia kembali bertanya.


"Savage," pujiku memberikan dua ibu jari menghadap ke atas.


"Savage, palamu!" bisiknya di telingaku, lalu seenaknya melangkah mendahului.


Ya Allah, bahkan cercaannya membuatku mabuk, pingin gigit pipi chubby-nya.


"Kamu dari mana?" Zain mengulang pertanyaan tanpa menoleh ke belakang.


"Cuci mata," jawabku asal, benar-benar ngasal, tapi kembali mendapat tatapan elang Zain yang tiba-tiba menolah ke arahku saat berjalan mengekorinya.


Aku malu-malu kambing ditatap demikian oleh Zain, tak sadar hingga kakiku pun bergerak dengan sendirinya.


🍀🍀🍀


["Aku carikan detective handal buatmu."] Melda kembali membalas pesanku dengan emot lengan kekar tiga biji.


Melda mendukungku, mengungkap rahasia di balik kisah antara Zain dan Tasya, ditambah perkataan Dokter Wanda sebagai ibunya Tasya yang menurutku mencurigakan. Putrinya telah menikah tapi ia ingin Zain meluruskan kesalah pahaman.


["Oke."] Aku pun kembali menjawab chat Melda setelah memberi emot acungan ibu jari.


"Lagi ngapain?"


Aku yang tengah berdiri di balkon, tersentak mendengar suara Zain yang tiba-tiba ada di belakangku. Matanya menelisik pada tanganku yang bergegas menyembunyikan handpone ke dalam saku. Zain baca chatku gak ya? Di tengah kegugupan, aku masih sempat memikirkan hal tersebut.


"Bisa gak sih, Mas Zain, gak terus-terusan menguji kesehatan jantungku. Gimana kalo tiba-tiba menggelinding ke lantai?" Protesku dengan bibir meruncing.


"Kamu nyembunyiin apa dariku?"


"Gak usah bohong, aku tau kok."


"Tau apa?" jawabku dengan jantung berdebar.


"Kamu lagi ...."


Zain menggantung ucapannya, membuat tenggorokanku mendadak kering. Bahkan saliva tak bisa kutelan.


"Lagi menatap fotoku?" Zain menjawab penuh percaya diri seperti biasa, hanya saja, menurutku aneh setelah masuk Rumah Sakit.


"Mas Zain, baik-baik saja?"


Kutempelkan punggung tanganku di keningnya sambil membacakan ayat kursi, mungkin saja ada sesuatu yang menempel padanya setelah Zain menolong seorang anak kecil.


🍀🍀🍀


"Sengaja ya, biar bisa tidur satu ruangan denganku."


Pukul 21: 13 Zain masih saja uring-uringan, padahal Dokternya sendiri yang melarang pulang, tapi Zain tetap menuduhku mencari kesempatan.


Aku yang tengah mengupas apel berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan-lahan. Zain terus menarik ulur perasaanku kadang perhatian, kadang menyebalkan.


Apel beserta piringnya kuletakan ke atas nakas, meraih tangan Zain dan mencium punggung tangannya. "Do'ain ya?"


Zain menaikan satu alis karena ulahku.


"Semoga selamat sampai tujuan," lanjutku kemudian.


"Mau pulang?"


"Iya. Biar gak terus dikambing hitamkan."


"Pulang sendiri?"


"Iya."


"Dah malam loh!"


"Gak takut!"


"Dengan hantu?"


Aku membayangkan lorong Rumah Sakit yang langang dan sepi. Segera kugelengkan kepala untuk mengusir adegan drama suster ngesot.


"Mas Zain maunya gitu kan? Gak mau tidur satu ruangan denganku. Assalamualaikum." Pamitku lalu berbalik arah.


"Apa lagi, Mas? Mas Zain gak perlu nahan-nahan aku kek gitu, keputusanku dah bulat. Aku mau pulang." ucapku setelah merasakan Zain menarik ujung pasmina yang kukenakan.


"Gak usah kayak anak kecil deh, labil banget. Tadi gak mau satu ruangan sama aku, setelah aku mau pulang ditahan. Nyesel, sekarang?" monologku penuh percaya diri.


Jarum jam terkecil semakin berdetak ke arah kanan, aku tak mendengar Zain membalas ucapanku atau pun melepaskan kain pasminaku. Inisiatif, aku menoleh kebelakang. Zain tengah berusaha keras menahan tawa. Satu tangan masih di gendongnya dengan tangan lain menutup mulut. Ternyata ujung pasminaku nyangkut pada besi penyangga bad. Aish ....


Aku menggigit bibir bawah, memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangan dengan erat. Seseorang, bisa turunkan sekring listrik sebentar?


"Gak usah pulang, aku tidak yakin kamu nyampe rumah, dengan tingkat kehaluanmu itu!"


"Anggap saja besi bed itu mewakiliku untuk menahanmu." ucapannya berlanjut, membuatku semakin malu saja.


Beneran ada ilmu teleportasi gak sih, biar aku bisa langsung nyampe kamarku.



Sedikit visual Zain Habibi.