
Haruskah kubuka sebagian foto yang terlipat?
Ah ... itu privasi suamiku, kewajibanku sebagai istri hanya mematuhinya selama itu tidak bertentangan dengan aturan yang ditetapkan Allah.
Dasar utama sebuah rumah tangga adalah saling percaya, tidak akan nyaman sebuah rumah untuk ditinggali jika di dalamnya tidak adanya kepercayaan.
Mungkin saja foto itu adalah bagian dari masa lalu Zain, yang tidak perlu aku ketahui demi menjaga hati dari berburuk sangka. Karena kita harus menatap ke depan, jika terus menengok ke belakang mungkin leher juga akan menjadi kaku.
"Ke alamat ini pak," pintaku pada driver taksi online sambil memperlihatkan alamat yang tertera di layar handphone.
Taksi pun melaju menembus jalanan ibu kota yang sudah mulai lengang, karena bukan lagi jam sibuk masuk kantor atau pun sekolah. Hanya butuh waktu lima belas menit seperti yang Zain inginkan, aku pun telah berdiri di pos keamanan perusahaan yang baru ku ketahui berbasis star up.
"Mari Bu, saya antar ke ruangan pak Zain," perintah security agar aku mengikuti langkahnya.
Suasana kantor begitu tenang, dengan beberapa karyawan yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Gedung kantor yang cukup besar menurutku, jika melihat jumlah karyawan yang masih terhitung puluhan.
"Ini ruangan pak Zain, Bu. Maaf saya permisi untuk kembali ke depan," pamitnya setelah mengantarku pada sebuah ruangan berdinding kaca yang dilapisi sandblast buram agar tak terlalu tembus pandang.
"Trimakasih pak ... Anto." Aku terbata membaca nametag yang menempel pada seragam yang ia kenakan. Sang punya nama hanya tersenyum, lalu mengangguk pelan sebelum meninggalkanku yang masih berdiri terpaku.
Saat aku masih ragu untuk memegang handle pintu ruangan yang bertuliskan Chief Executive Officer, pintu itu terbuka dari arah sebaliknya. Seorang pria yang nampak sangat berwibawa, mengenakan jas berwarna hitam dan dasi motif salur dengan warna senada, berdiri di hadapanku seraya melihat ke arah jam tangan yang melingkari pergelangannya.
"Kamu membuatku menunda meeting selama sepuluh menit," gerutu Zain yang nampak sangat berbeda dari sebelumnya saat masih di rumah.
Aku tak mampu berkata-kata untuk membalas ucapan Zain yang menyalahkanku. Aku begitu terpesona dengan kewibawaannya yang baru pertama kali kulihat.
"Tunggu di dalam. Jangan pergi sebelum aku kembali!" titah Zain setelah mengambil berkas di tanganku.
Kupandangi punggung tegap yang kian menjauh dariku hingga hilang di balik ruangan bertuliskan meeting room. Sebelum aku memasuki ruang kerja suamiku, aku sempat melihat beberapa karyawan yang saling berbisik. Aku merasa diri ini menjadi pusat perhatian sejenak, semoga tidak terjadi ain karena mata jahat mereka.
Tidak ada yang spesial dari ruangan yang kuperkirakan sebesar 5 x 5 m², hanya ada satu set meja kerja, satu set sofa berwarna khaki dan sebuah kabinet buku yang didekorasi gaya minimalis.
Tanganku tertarik mengambil buku bersampul biru muda bergambar payung berjudul hujan. Novel karya Tere Liye terselip di antara puluhan berkas yang tidak menarik bagiku. Mungkinkah Zain membaca novel seperti ini?
"Hai?" Suara seorang pria menggema di ruangan, bersamaan dengan derit pintu saat terbuka.
Aku menoleh ke arah Rendi yang kini tengah berjalan semakin mendekat ke meja. Kedua tangannya dipenuhi plastik, jika boleh kutebak, isinya adalah menu makan siang.
"Assalamualaikum." Aku menyapa Rendi yang masih fokus pada plastik-plastik di tangannya.
"Waallaikumsalam," jawabnya sambil melempar senyum setelah semua plastik mendarat sempurna di atas meja.
Aku yang semula berdiri di depan rak buku, bejalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Mau kemana? Kita bisa makan siang bersama," ujar Rendi saat aku membuka pintu.
"Iya. Aku hanya ingin membuka pintu saja." Kemudian aku benar-benar membiarkan pintu di hadapanku terbuka lebar.
"Apa kamu merasa terlalu panas? Kita bisa menurunkan suhu AC agar lebih dingin. Tidak perlu membuka pintu dengan lebar," usulnya yang kutanggapi dengan senyum.
"Aku lebih suka seperti ini, supaya tidak terjadi kesalah pahaman."
"Zain tidak akan salah paham, dia percaya padaku."
"Aku yang tidak percaya padamu!"
"Hah?" Rendi menoleh padaku yang sedang mengambil langkah menuju sofa, di seberang sofa yang tengah didudukinya.
Sepertinya Rendi tidak paham kemana arah pembicaraanku. Zain mungkin saja memang begitu percaya pada sahabatnya, tapi aku tidak percaya pada bisikan syaitan yang setiap saat akan menjerumuskan ke lembah dosa.
Memang tidak sepantasnya dua insan yang bukan mahram berada dalam satu ruangan. Apalagi dengan keindahan yang Allah titipkan pada wajah pria di depanku yang siap menggoda iman.
"Kenapa? Kamu tidak suka? Aku akan pesankan makanan kesukaanmu." Rendi menunjukan kelebihan lainnya yang diberikan Allah. Baik dan perhatian.
"Aku suka semua makanan." Aku berusaha mencairkan suasana dengan senyuman, lalu mengambil satu cup jus mangga di atas meja.
"Manisnya," ucap Rendi saat menatapku yang sedang menyeruput juz. Mata kami saling bertemu sesaat, lalu kutundukan seiring rasa sesal karena sempat mengagumi pria tampan selain suamiku.
"Asam. Mungkin ini juz mangga muda," kataku lalu meletakan cup ke atas meja.
"Bukan juz nya," ujarnya, kemudian menyandarkan punggungnya pada punggung sofa.
"Lalu?" Aku penasaran dengan arti tatapannya.
"Lupakan."
"Ih, curang. Sudah bikin penasaran."
Kutampakkan wajah kesal namun Rendi menanggapi dengan terkekeh. Sedetik kemudian, aku kembali mengingat pertanyaan yang belum sempat kulanjutkan karena tepotong ulah Zain saat pertemuan sebelumnya dengan Rendi.
"Jika aku tidak menyanggupi kesepakatan, apakah kalian benar-benar membuatku masuk penjara?"
"Kesepakatan apa?" tanya Rendi seolah tidak tau apapun.
"Sesaat setelah akad, ah tidak. Saat malam setelah akad Zain meneleponmu dan memintamu memanggil pengacara dan pers, untuk menggugatku di depan media jika aku tidak menyetujui kesepakatan. Apa itu sudah direncanakan sebelumnya?"
Aku bicara dengan antusias tapi Rendi hanya menggendikan bahu. Benarkah Rendi tidak tau apapun? Lalu siapa orang yang Zain sebut dengan 'Rend' malam itu?
Aku mencoba mencari jawaban dalam mata Rendi, matanya nampak terlihat bingung dengan apa yang baru ku'ucapkan. Tak ada raut kebohongan di garis wajahnya yang begitu tegas.
"Apa Zain punya teman lain yang biasa dipanggil Rend?"
"Zain tidak punya teman selain aku. Zain adalah tipe pria introvert, tidak mudah menyesuaikan diri dengan orang baru."
Rendi menjelaskan yang menurutku berbeda dengan Zain yang beberapa hari ini tinggal satu atap denganku. Dengan kepribadian yang Zain perlihatkan padaku, tidak ada sedikit pun kesan bahwa Zain seorang yang introvert. Aku ataukah Rendi yang tidak mengenal Zain?
"Apa kamu tidak tau tentang kesepakatan Zain denganku?" ucapku kembali menginterogasi.
"Kesepakatan apa?" Rendi tak kalah penasarannya denganku.
"Sudah, lupakan," tukasku sambil mengibaskan tangan.
"Balas Dendam?"
"Gak! Dosa! Cara terbaik untuk balas dendam adalah memaafkan." Akan tetapi tangan ini mengepal dengan erat, hingga nampak buku-buku jari yang memucat tanpa aliran darah.
Jika Rendi tidak tau apapun, berarti Zain merencanakan ini sendirian. Aku tidak akan memaafkan Zain.
"Ain adalah pandangan kagum atau takjub disertai dengan rasa iri dengki dari seseorang yang memiliki tabiat buruk yang mengakibatkan adanya bahaya pada orang yang dilihatnya."