
Ponsel Kelvin berdering, tepat saat sampai halaman mansion dan itu dari Anita.
"Kamu duluan masuk sayang, mas mau angkat panggilan dulu, nanti mas menyusul." suruh Kelvin dan Klara pun menurut.
Saat kembali Klara melupakan perbuatan yang sudah ia lakukan terhadap Aura dan bisa jadi Aura akan balas dendam pada Klara.
Baru beberapa langkah Klara masuk, tepatnya sudah sampai ruang tamu. Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Klara lalu mendorong tubuhnya. Klara yang tak siap dengan serangan mendadak dari Aura, membuat klara langsung terjatuh dan kepalanya membentur sisi meja hingga terluka dan mengeluarkan darah segar.
"Nyonya Klara." Lily berteriak karena terkejut dan langsung mendekap tubuh klara. Klara merintih kesakitan di area kepala dan juga perut akibat hentakan saat dirinya terjatuh.
"Jangan pura-pura Klara, kamu itu wanita licik. Kamu kan yang sengaja mencampur obat pencuci perut di dalam minuman, dan kamu juga dengan sengaja menyuruh bi Lily untuk mengunci kamarku dari luar agar aku tidak bisa kemana-mana."
"Apa yang nona lakukan, nyonya Klara sedang kesakitan." Bi Lily yang kalut dan kuatir dengan keadaan klara, berani membentak Aura dengan tegas.
"Biarkan saja, ini pelajaran buat wanita yang hanya menginginkan harta kak Kelvin."
Kelvin yang baru saja masuk, bola matanya langsung melebar saat mendapati istrinya yang sedang meringis kesakitan serta darah segar yang keluar dari kening Klara. Ponsel yang sedari tadi ada di tangannya langsung lolos begitu saja dan langsung hancur saat bersentuhan dengan lantai.
"Klara..." Kelvin langsung berlari menghampiri dengan penuh kepanikan.
"Klara, kamu kenapa sayang..." Kelvin langsung mendekap Klara, yang saat itu masih sadar.
"Maafkan aku mas..." Klara pun langsung pingsan.
"Klara bangun, jangan tinggalkan aku." wajah Kelvin diselimuti ketakutan yang teramat melihat istrinya yang tak berdaya.
Kelvin menoleh kearah Aura yang sedari tadi masih tetap berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada dengan acuhnya tak perduli dengan iparnya yang terluka.
Melihat kelakuan Aura Kelvin menjadi geram, matanya memerah menahan kemarahan yang memuncak.
Plakkk...
Tak segan-segan Kelvin menampar Aura cukup keras.
"Kak..., apa yang kakak lakukan, kenapa kakak menamparku." Air mata Aura mengalir dari sudut mata dan memegangi pipinya yang panas karena tamparan.
"Ini pelajaran yang pantas untuk kamu yang tidak bisa menghargai aku sebagai kakak dan juga pemimpin di rumah ini dan juga sebagai pelajaran atas semua kebohongan yang sudah kamu lakukan. Sudah aku katakan sebelum kamu menginjakkan kaki di rumah ini, bahwa seluruh rumah ini di kelilingi cctv yang memantau aktivitas kalian selama di rumah. Dan aku benar-benar terkejut dengan sikapmu yang tak sepolos wajahmu. Kamu pikir selama ini aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan dan kebohongan- kebohongan yang sudah kamu tebarkan. Aku diam karena aku masih memandang kamu sebagai adik, tapi kali ini tidak lagi." Ucap Kelvin dengan tegas.
"Kak maafkan aku, maafkan Kesalahanku, aku khilaf, aku hanya ingin mendapatkan perhatian lebih dari kakak. Aku mohon maafkan aku." Aura bersimpuh dan memeluk kaki Kelvin, memohon agar mendapatkan maaf dari sang kakak.
"Lepaskan..." Kelvin mendorong tubuh Aura menjauh darinya. Kelvin terlalu jijik dengan air mata palsu yang selalu di jadikan senjata Aura.
"Kamu tak tak pantas mendapat maaf dariku lagi Aura. Lebih baik sekarang kamu keluar dari rumah ini dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi, jangan pernah menganggap aku ini sebagai kakak kamu lagi, aku malu punya adik yang tidak punya otak seperti kamu, mencelakai orang lain hanya untuk mendapatkan perhatian dariku." bentak Kelvin saat mengusir Aura. Tangan Kelvin menunjuk ke arah pintu dan meminta Aura segera keluar dan meninggalkan rumah.
"Kak, kenapa kamu tega mengusirku, aku ini adik kakak, kita satu ayah. Seharusnya kakak lebih membelaku ketimbang dia yang hanya menginginkan harta kakak."
"Tutup mulutmu dan segera pergi, Aku tak perduli walau kita satu ayah, siapapun yang sudah berani mengganggu apalagi mencelakai istriku tak perduli itu adikku, akan ku pastikan hancur. " Kemarahan Kelvin sudah sampai di ubun-ubun, dan sudah tidak bisa di turunkan dengan cara apapun.
Setelah Aura pergi, Kelvin berusaha kembali mengontrol emosi, diusap wajahnya dengan menggunakan kedua tangan, sebelum kembali fokus pada istrinya yang sempat terabaikan.
Kelvin menghampiri istrinya dan langsung membopong tubuhnya dan segera melarikannya ke rumah sakit.
*****rumah sakit*****
Sesampainya di rumah sakit, Klara langsung mendapatkan pertolongan medis dan dokter Anabel yang langsung menanganinya.
Kelvin sangat cemas dengan istri dan juga anak yang ada dalam kandungan istrinya.
Tak henti-hentinya Kelvin terus mondar-mandir berharap semua baik-baik saja.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya salah satu perawat keluar untuk memanggil Kelvin. Segera saja Kelvin mengikuti perawat tersebut dan melihat istrinya yang masih terbaring.
"Bagaimana dok dengan istri saya? apa dia baik-baik saja?" tanya Kelvin pada dokter Anabel.
Dokter tersebut tak menjawab, ia hanya meminta Kelvin melihat layar monitor untuk melihat kondisi janin yang ada di dalam kandungan Klara.
Secara awam semuanya baik-baik saja, namun dokter Anabel menjelaskan sesuatu yang menandakan keadaan janin sedang tidak baik.
Dilayar monitor, janin yang ada didalam kandungan Klara terlihat jelas dengan USG 5D, namun yang menjadi masalah salah satu di antara ke tiga janin meninggal dunia dalam kandungan.
"Kenapa dok? kenapa ini bisa terjadi Kenapa putriku bisa meninggal, apa kerena kejadian tadi dok." Kelvin benar-benar syok saat dokter menjelaskan putri yang masih ada dalam kandungan sudah tidak bernyawa dan karena usia kandungan Klara yang sudah besar tidak ada jalan lain selain menunggu sepuluh Minggu lagi, agar bisa melakukan operasi sesar dan kedua bayi yang masih hidup kan lahir dalam kondisi prematur.
"Sepertinya, janin nyonya Klara sudah meninggal beberapa hari yang lalu."
"Berarti bukan karena kejadian tadi dok."
"Bukan. Untuk saat ini nyonya Klara harus mendapat pengawasan medis untuk memantau kondisi ibu dan janin sampai waktunya tiba untuk di lahirkan. Oya bagaimana dengan calon pendonor untuk nyonya Klara?"
"Sudah ada dok, kakaknya sudah mendonorkan darahnya untuk persiapan jika dibutuhkan Klara."
"Syukurlah kalau begitu."
"Saya mohon dok, tolong jangan katakan apapun pada istri saya mengenai kondisi janinnya, sampai waktunya tiba untuk persalinan."
"Baik pak, sesuai permintaan bapak."
Kelvin pun menemani sang istri yang belum terbangun.
Kelvin meletakan tangannya di atas perut sang istri lalu sambil mengusapnya.
"Maafkan papa sayang, kalian harus kehilangan saudari kalian." Tak terasa air mata lolos begitu saja dan mengalir begitu saji di pipi. Kelvin merasa sedih karena harus kehilangan salah satu dari ketiga anaknya yang akan lahir....
✔️ jangan lupa tinggalkan jejak