
Sepuluh menit berlalu Kelvin masih saja terdiam tak beranjak keluar dari dalam mobil saat sudah sampai di depan rumah Arumi. Kelvin mengingat ingat kembali beberapa kenangan yang masih tersimpan di memori.
Pertama kali, melihat senyum Arumi yang jarang sekali terukir di wajah cantiknya dan di saat pertama kali, Arumi memilih dirinya dan keluar meninggalkan kedua orang tuanya.
Namun semuanya telah berakhir, saat mereka resmi bercerai. Kini yang tersisa tinggal rasa sakit yang masih membekas di hati Kelvin, setiap kata-kata yang keluar dari seluruh keluarga Arumi seolah-olah olah menjadi duri yang menusuk di jantung.
Enam tahun Kelvin kehilangan jati diri dan selama enam tahun dirinya terus di hujat karena kasta yang berbeda.
'Menantu sampah' kata itu selalu keluar dari mulut Sukma dan Santoso, hanya karena dirinya bekerja sebagai seorang OB yang tak bisa menjadi menantu kebanggaan, berbeda dengan ketiga menantu wanita mereka yang memiliki karir bagus dan juga dari kalangan atas.
"Pak." Sonia menyadarkan Kelvin dari lamunannya, "Sampai kapan kita tetap di sini, acara sudah hampir selesai dan kita masih disini?"
Kelvin melirik jam yang ada di tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kelvin sengaja menunggu waktu yang tepat untuk masuk kembali ke rumah tersebut.
"Sudah waktunya, ayo keluar!" ucap Kelvin dan mereka pun keluar bersama. Tanpa diminta Sonia meraih lengan tangan Kelvin dan berjalan masuk kedalam.
Dalam hati Sonia, Ini adalah kesempatan langka dan tak mungkin akan terulang lagi, ia pun senyum-senyum sendiri.
"Papa..." Suara gadis kecil dari kejauhan yang memanggil Kelvin dengan sebutan papa itu berlari menghampiri.
Semua mata langsung tertuju pada pasangan yang baru masuk saja masuk, Mata Arumi tak luput dari pandangan untuk menatap laki-laki yang dipanggil Ayana dengan panggilan papa.
Kelvin menyambut Ayana dan langsung memeluknya erat, "Akhirnya papa datang, kalau papa tidak datang Ayana pasti akan menangis semalaman." ucap Ayana saat sudah berada di gendongan Kelvin.
"Oya? apa kabarmu nak." Kelvin mencium kening Ayana dengan penuh kasih sayang. Ayana memang bukan darah dagingnya, tapi Kelvin sudah menyayangi Ayana seperti anak kandungnya. Bahkan Kelvin sering menemui Ayana di sekolah, sebelum Ayana di jemput supir.
Semua orang begitu riuh membicarakan Kelvin, yang namanya sudah dikenal dimana-mana, Ketampanannya dan kemapanannya, membuat siapa saja menginginkan dirinya untuk jadi menantu.
Pembicaraan para tamu tak di hiraukan Kelvin, bahkan Sonia ikut diam tak bicara.
Arumi segera menghampiri untuk mengambil Ayana yang berada di gendongan Kelvin, sedangkan Jonathan menjadi gelisah, ia takut kalau-kalau bosnya itu membicarakan jabatan dirinya yang sudah di turunkan.
"Ayana, apa yang kamu lakukan, turun nak, dia bukan papamu. Papamu tidak akan datang sayang." Arumi mencoba membujuk Ayana agar kembali padanya.
"Mama, dia papanya Ayana."
"Maafkan aku tuan, Ayana sedikit nakal."
"Mama, apa mama tidak bisa melihat, ini papa Joni. Papa sering datang ke sekolah Arumi dan ngasih banyak hadiah, dan papa juga sudah janji pada Ayana untuk datang kesini." Arumi tercengang mendengar ucapan Ayana.
"Ayana turun, jangan bersikap begitu dengan tamu, dia bukan papamu. Papamu tidak akan datang, papamu itu laki-laki miskin yang meninggal kamu dengan ibumu karena tak bisa membiayai kalian. Sedangkan dia, dia seorang pengusaha besar yang sudah terkenal di seluruh penjuru kota. Lebih baik sekarang turun dan segera kamu pergi ke kamar dan jangan buat masalah di pesta pertunangan mamamu." Sukma memarahi Ayana, namun membuat gadis kecil itu menangis, namun bukannya menurut, Ayana mempererat pelukannya di leher Kelvin.
"Baiklah, kalau itu kemauan Ayana, papa akan segera beritahu mereka semuanya. "ucap Kelvin pelan sambil mencubit hidung Ayana.
"Eeeemmm." Kelvin berdehem, "Ar apa kamu sudah lupa denganku?" tanya Kelvin mendekati Arumi yang masih terdiri tak tak jauh darinya.
Kelvin menangkup wajah Arumi di hadapan semua orang, "Apa kamu sudah tak mengenali aku, yang sudah menemani kamu selama enam tahun terakhir ini dan yang selalu mendapatkan hinaan setiap saat oleh ayah dan ibumu."Arumi menatap wajah Kelvin dengan memperhatikan setiap inci wajah yang ada di hadapannya.
"Mas Joni." kata yang keluar dari mulut Arumi membuat keluarga besar Santoso terkejut.
"Kamu jangan bercanda Arumi. Mana mungkin tuan muda Kelvin ini Joni, mereka seperti langit dan bumi yang gak mungkin sama. Lihatlah tuan muda Kelvin ini pakaiannya sangatlah mahal sedang kan Joni pakaiannya saja beli di emperan pasar, mereka jelas berbeda." saut Sukma yang masih tak percaya.
"Arumi, jangan permalukan tamu kita ini, dia bukan orang sembarangan, jangan buat dia tersinggung dengan menyamakannya dengan si Joni laki-laki tak berguna itu." Saut Santoso tiba-tiba.
Ketiga kakak Arumi pun, melakukan hal sama, membandingkan antara Joni dan Kelvin.
"Apa kalian sudah selesai bicaranya?" tanya Kelvin yang sedari tadi masih diam saja, mendengar semua ucapan keluarga Arumi.
"Maafkan aku dan keluargaku tuan muda, bukan maksud kami membandingkan kamu dengan mantan menantu kami yang gak berguna itu. Kami hanya menyadarkan Arumi akan kata-katanya. Sekali lagi maaf."
"Jika yang dikatakan Arumi dan Ayana benar, bagaimana?" tanya Kelvin santai.
Semua orang terkejut dengan pernyataan Kelvin baru saja.
"Akas kemari, dan jelaskan pada mereka semua, Aku sedang tidak bersemangat untuk berbicara dengan orang-orang seperti mereka." panggil Kelvin. Akas pun segera muncul di antara para tamu yang hadir.
Akas menghampiri Kelvin dan mengeluarkan sebuah bukti yang untuk memperjelas kebenarannya.
Tak cuma keluarga Santoso yang tercengang semua tamu yang ada pun ikut terkejut dengan bukti yang di tunjukkan Akas.
"Dengan melihat ini apa kalian sekarang menyesal? menyia-nyiakan menantu kalian ini yang ternyata merupakan seorang pewaris tunggal pemilik CS company?"
"Tidak, ini tidak mungkin." Sukma syok dan hampir pingsan. Melihat semua bukti tentang menantunya.
"Pa, kita kehilangan permata pa." kata-kata yang keluar dari mulut Sukma.
Sonia maju menghampiri Arumi yang masih tak percaya, "Kenapa Arumi? apa kamu ikut syok seperti mamamu itu. Sayang sekali Arumi kau menyia-nyiakan suami seperti pak Kelvin ini, padahal dia adalah laki-laki idaman tapi kamu dan keluargamu campakkan dia begitu saja seperti sampah.
Kelvin masih diam saja ia hanya bicara seperlunya, Kelvin masih ingin melihat reaksi orang-orang yang menghinanya.