OB Milyader ( Menantu Sampah)

OB Milyader ( Menantu Sampah)
Diam


Setelah melepas keberangkatan Casandro dan Alexo, Kelvin membawa Aura dan Sonia menuju mansion barunya, yang memiliki letak strategis.


Kelvin tak mungkin membawa mereka kembali ke apartemen pribadinya yang hanya memiliki satu kamar. Selain itu dirinya juga harus kembali bekerja setelah beberapa waktu ia tinggalkan demi menemani sang kakek.


Marcel kini sudah di pecat dari perusahaan membuat Kelvin harus memegang kendali perusahan sendiri dengan posisi rangkap.


Selain jarak tempuh yang lebih dekat dengan kantor, mansion tersebut sudah di desain dengan sedemikian rupa untuk menyambut calon istrinya nanti.


Akas dan maya sudah menunggu kedatangan mereka di mansion. Setelah mendapat perintah Kelvin.


Setelah Akas mengetahui bahwa Maya tengah hamil anaknya. Akas lebih memperhatikan maya bahkan ia selalu meminta maya untuk berhati-hati tak segan Akas menggantikan pekerjaan Maya.


Maya merupakan desainer, keputusannya menjadi desainer sempat di tentang orang tuanya, namun akhirnya Maya mampu membuat orang tuanya percaya bahwa keputusannya adalah yang terbaik untuknya.


Kali ini Maya dan Akas harus berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua Maya, hal tersebut memang tak mudah, tapi jika Kelvin bisa membantu dengan kekuasaannya dapat di pasti kan orang tua Maya akan merestui.


Namun kali ini yang menjadi masalah mereka yakni Kelvin tidak mau membantu dengan alasan ia masih trauma berhadapan dengan masa lalu yang belum bisa ia lupakan dan hal itu selalu membuatnya demam.


Setelah menunggu cukup lama, Akhirnya Kelvin pun datang bersama dengan Aura dan Sonia mereka berdua kagum dengan mansion yang berdiri kokoh di depannya.


"Mulai sekarang kalian akan tinggal disini, cctv disini akan mengawasi kalian dua puluh empat jam, jadi jangan keluar masuk mansion ini dengan seenaknya." Jelas Kelvin dan kedua wanita yang ada di hadapannya hanya dapat mengangguk.


Kedatangan mereka bertiga di sambut langsung oleh Akas dan beberapa pelayan yang sudah dipekerjakan.


Kelvin berhenti di hadapan Akas dan Maya, "Sebenarnya aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan kalian berdua. Aku tidak kasihan dengan kalian tapi aku kasihan dengan calon bayi yang ada di perut Maya. Setelah makan malam, kalian berdua temui aku di ruang kerja, aku ingin bicara serius dengan kalian." Dengan tegas Kelvin menjelaskan. Mau tidak mau Kelvin ikut tersandung atas ulah mereka berdua, gara-gara membiarkan Meraka berdua saling dekat.


Secara kebetulan Sonia mendengar pembicaraan singkat mereka bertiga.


'Astaga, ternyata mereka berdua sudah... aku gak pernah menduga mereka bisa nekat seperti itu, padahal kalau dilihat-lihat hubungan mereka biasa-biasa aja.' Sofia menggelengkan kepala, lalu pergi menjauh tak ingin ikut campur dengan urusan mereka.


Sedangkan Aura, memilih pergi ke kamarnya yang sudah di tunjukan pelayan berdekatan dengan kamar Sonia sedangkan kamar utama di tempati Kelvin, lalu Akas menempati kamar tamu.


Kelvin yang terus menerus memeras otaknya untuk menghadapi semua masalah yang datang secara bertubi-tubi membuat kepalanya terasa sangat sangat sakit, namun tak ada yang mengetahuinya, ia pura-pura baik-baik saja dan berusaha menahan rasa sakit itu sendiri.


Pengaruh obat yang ia konsumsi selama bertahun-tahun hampir merusak saraf di otaknya. Kelvin segera melakukan terapi saat mengetahui obat yang ia konsumsi dapat menghapus memory ingatan dan berusaha untuk untuk pengembalian memory yang hilang walaupun efeknya sangat menyakitkan.


"Jika ini terus menerus terjadi padaku, aku tak bisa terus bekerja hingga tua, apa yang harus aku lakukan? aku harus memiliki keturunan untuk menjadi pewarisku kelak, Ya. Itu jalan apa yang harus aku lakukan, tapi kegagalanku berumah tangga membuatku trauma untuk menikah kedua kalinya."pikiran Kelvin berkecambuk untuk keputusan besar yang harus ia ambil, namun ia tak ingin orang lain tahu, terkadang diam lebih baik untuk sementara.


Terdengar kutukan pintu dari luar ruang kerja. Kelvin langsung memerintahkan untuk masuk dan ternyata Akas dan Maya. Mereka langsung masuk dan duduk di sofa berhadapan dengan Kelvin yang sedang menuang bir.


Kelvin terdiam, ia tak menunjukan reaksi apa-apa saat mendengar ucapan Akas.


"Maya, apa kamu benar-benar mencintai Akas. jika ya, aku akan membantu kalian, tapi jika kelak ada masalah dalam rumah tangga kalian jangan pernah libatkan aku. Sebenarnya aku sangat malu dengan kelakuan kalian, tapi sudahlah semua sudah terlanjur. Aku hanya ingin tahu reaksi tuan Baskara jika tahu anaknya sudah hamil di luar nikah."


"Ya, baiklah aku akan bicara dengan Tuan Baskara, demi kalian, aku akan kirim pesan padanya untuk bertemu, apa kalian sudah puas." ucap Kelvin dengan datar tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Sebenarnya Kelvin sangat takut jika Akas merasakan apa yang pernah dia rasakan, menjadi menantu yang tak di harapkan, itu sangat sakit sekali.


"Sekarang kalian keluar, aku ingin sendirian." usir Kelvin secara halus. Namun hal itu membuat Akas cemas. Tak seperti biasanya dia akan bersikap dingin seperti itu pada dirinya.


"Apa dia benar-benar marah denganku." gumam Akas sebelum meninggalkan kelvin, Maya menarik tangan Akas membawanya keluar meninggalkan Kelvin.


Dalam keadaan lelah, Kelvin kembali teringat pada Ayana gadis kecil yang selalu memberinya semangat disaat dirinya lelah dan letih, senyumnya yang indah selalu melapangkan dada, gadis kecil yang polos walaupun dulu ia tak bisa melihat, Ayana selalu tersenyum seakan kegelapan di matanya bukanlah sebuah penghalang untuk dirinya tetap tersenyum.


Kelvin memandangi foto Ayana yang menghiasi layar ponselnya.


"Papa merindukan kamu sayang, apa kamu juga merindukan papa."


Kelvin memutuskan akan mengunjungi Ayana, esok hari di jam pulang sekolah untuk melepas rindu pada putrinya.


Setelah cukup lama di ruang kerja, Kelvin pun keluar dan langsung mendapati Aura yang sedang makan seorang diri di meja makan.


Aura menghentikan aktivitas makannya saat matanya bertemu dengan mata Kelvin.


"Lanjutkan makannya." ucap Kelvin lalu melangkah melewati Aura menuju kulkas dan mengambil air dingin.


Saat sedang meneguk air mineral, mata kelvin melirik Aura yang sedang makan begitu lahap seperti orang yang sedang kelaparan.


"Apa kamu sangat lapar? hingga makan begitu terburu-buru." tegur Kelvin sambil duduk di kursi tak jauh dari Aura.


"Aku..."


"Tak perlu jelaskan, lanjutkan saja dan jangan terburu-buru, nanti tersedak." Kelvin mendorong botol air mineral yang ia ambil ke arah Aura, lalu ia meninggalkan Aura dan segera pergi ke kamar.


_TBC


✔jangan lupa tinggalkan jejak.