
Sesampainya di kantor Kelvin langsung di hadapan 'kan dengan setumpuk berkas yang harus di tanda tangani. Perkembangan CS company yang semakin pesat, membuat Kelvin akan lebih sibuk akhir- akhir ini.
"Pak Kelvin, selama seminggu ke depan, bapak harus bisa jaga diri jangan lupa waktunya jam makan. Bapak harus bisa mengatur waktu saat bekerja." Ucap Akas seolah-olah ia akan pergi meninggalkan Kelvin, padahal ia hanya cuti selama dua Minggu untuk persiapan pernikahan dan juga honeymoon.
"Kau pikir aku ini anak kecil apa? aku tahu membagi waktu hanya karena kamu ada di sini itu menjadi tugasmu." Saut Kelvin sambil memeriksa dokumen penting.
"Sekarang pergi sana, bukankah ini sudah masuk hitungan cuti. Oya kalau keluar tolong sekalian panggilkan Sonia, Ganti pakaian saja hampir satu jam." Usir Kelvin
"Ya baiklah." Akas pun keluar ruangan dan berpapasan dengan Sonia yang baru saja kembali.
"Aaahhh kebetulan ketemu, biar aku gak repot nyari kamu. Cepat keruangan pak Kelvin dan berkas yang mau di bahas dengan kamu." ucap Akas sebelum melenggang pergi.
Sonia segera keruangan Kelvin yang sudah menunggu dirinya.
"Sonia, kemarilah aku ingin kamu jelaskan ini padaku." Panggil Kelvin dan meminta Sonia berdiri di sebelahnya. Sonia pun menghampiri dan berdiri di sampingnya lalu menjelaskan apa yang isi dokumen yang belum di mengerti Kelvin sebelum di tanda tanganinya. Sesekali Sonia menatap wajah Kelvin yang begitu serius memperhatikan penjelasannya. Bibir dan hidung yang indah membuat pemiliknya begitu tampan dan berkarisma. Ingin sekali Sonia memiliki dirinya seutuhnya, namun apa daya tak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan gadis muda.
Akhirnya setumpuk berkas pun selesai di tandatangani dan segera saja Sonia mengambilnya untuk dibawanya ke meja kerjanya untuk di cek lagi. Saat mengangkat berkas yang begitu berat tanpa sengaja kaki Sonia terpelecok karena heels yang di kenakan terlalu tinggi hingga sedikit kesusahan saat berjalan dengan membawa benan. Sonia pun terjatuh dan berkas yang ia bawa pun berhamburan.
"Sonia..." Ucap Kelvin yang terkejut dan spontan saat mendapati Sonia yang terjatuh. Kelvin segera menghampiri dan ingin membantunya Sinai berdiri kembali.
"Aaaauuuhhhh..." pekik Sonia sambil memegangi mata kakinya yang bengkak.
"Aku tidak bisa berdiri pak, ini terlalu sakit." rengek Sonia yang tak mampu berdiri.
Kelvin segera mengangkat tubuh Sonia dan membawanya ke sofa, ia nampak kuatir dengan Sonia yang nampak menahan sakit.
Kelvin mengangkat pelan-pelan kaki kiri Sonia yang keseleo ke atas pahanya dan membantunya melepaskan heels yang Sonia kenakan.
"Apa ini sakit?" Kelvin menyentuh mata kaki Sonia yang membengkak, Sonia pun mengangguk dan menitikkan air mata kerena tak tahan menahan rasa sakitnya.
"Kita bawa ke rumah sakit ya, biar di periksa takut ada cedera serius." ajak Kelvin namu di tolak Sonia
"Gak usah pak, ini gak terlalu parah hanya sakit saja. Mungkin dengan di urut bisa lebih baik." sautnya.
"Aku gak bisa meurut, yang ada akan semakin bengkak jika aku yang melakukannya." yang mengira Sonia memintanya untuk mengurut kakinya.
"OB di sini bisa meurut pak, apa bapak bisa panggil untuk membantuku." Tanpa berkata apapun, Kelvin segera memanggil OB yang dimaksud Sonia. Kelvin terlihat kuatir dengan Sonia hingga tak memperdulikan lagi dokumen yang masih berhamburan di lantai.
Segera saja OB yang di panggil Kelvin datang untuk membantu Sonia.
"Mbak Sonia kenapa?" tanya OB tersebut yang baru masuk.
"Kakiku keseleo, tolong bantu aku urutkan biar sakitnya berkurang." jawab Sonia.
"Iya- iya mbak, tapi tahan ya, ini pasti sakit." OB tersebut segera mengambil posisi duduk di dekat kaki Sonia sedangkan Kelvin duduk di samping Sonia.
Baru saja di sentuh kakinya, Sonia sudah kesakitan dan secara reflek memeluk Kelvin yang ada di sampingnya dengan erat dan Kelvin membalas pelukan Sonia dan berusaha menguatkannya walau Kelvin sedikit merinding setiap kali Sonia merintih kesakitan.
"Bagaimana sekarang, apa sudah lebih baik?" tanya Kelvin setelah usai di urut.
"Lebih baik, tapi masih sakit, sepertinya aku akan susah berjalan."
"Aku akan membantumu, kalau begitu aku akan membatalkan makan malam klien kita, karena tak mungkin aku datang seorang diri."
"Jangan pak, itu klien penting bapak, jangan kecewakan undangannya hanya karena aku. mungkin beberapa jam lagi akan lebih baik. Aku harap."
"Baiklah kau kalau begitu, kamu istirahat saja di sini aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu." Kelvin pun kembali ke meja kerjanya dan Sonia istirahat di sofa.
Setelah hampir satu jam Kelvin baru menyadari jika kemejanya terdapat noda darah yang terlihat dari pantulan layar laptop.
"Darah. darah siapa yang ada di kemejaku ini? Apa Sonia terluka?" Gumam Kelvin lalu kembali menghampiri Sonia yang terlelap dalam tidur setelah minum obat pereda rasa sakit.
Kelvin berjongkok di samping Sonia yang sedang tertidur dan memeriksa tangan Sonia dan ia dapati telapak tangannya tergores yang mungkin tak disadari Sonia sendiri, karena menahan rasa sakit di kakinya.
Segera Kelvin mengambil sapu tangan dari sakunya dan melilitkanya pada luka di telapak tangan Sonia.
Kelvin menyisihkan sedikit rambut yang terurai di wajah Sonia ke belakang telinganya dan tersenyum saat melihat wajah Sonia yang begitu manis saat tertidur.
Tak lama Sonia terbangun lalu menoleh ke arah meja kerja Kelvin, namun tak di dapati Kelvin. Ia pun bangun dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan kakinya ia letakkan di atas meja, walaupun terlihat tak sopan, Sonia tak perduli yang penting dia bisa duduk dengan nyaman.
Sonia terkejut saat mendapati tangannya di lilit sapu tangan milik Kelvin tapa disadari, "Pak Kelvin. Terimakasih pak." gumam Sonia sambil mengelus sapu tangan tersebut menggunakan kirinya sambil senyum-senyum sendiri.
"Kau sudah bangun Sonia?" tanya Kelvin yang mengejutkan Sonia. Kelvin membawa makanan di tangannya.
"Bapak dari mana?" tanya Sonia balik.
"Aku baru makan siang. Ini aku bawakan buat kamu, aku tahu kamu pasti lapar dan tidak mungkin kamu bisa pergi sendiri." lalu kembali duduk di samping Sonia.
Kelvin membuka makanan tersebut dan menyodorkan satu sendok nasi di depan mulut Sonia, " Buka mulutmu biar aku suapi, kamu pasti akan kesulitan jika harus menggunakan tangan kirimu."
"Terimakasih pak." Ucap Sonia sebelum membuka mulutnya dan menerima suapan dari Kelvin.
Dengan telaten Kelvin menyuapi Sonia sampai habis dan tak membiarkan Sonia menolaknya.
"Anak pintar." Kelvin mengusap pucuk rambut Sonia yang panjang, seperti sedang memuji anak kecil.
_TBC
...Satu bab khusus Mereka berduaπ€π€π€...
βοΈ Jangan lupa tinggalkan jejak
βοΈππππβ€οΈπ selalu di tunggu.