
Untuk kali pertama Klara mengalami morning sickness, setelah usia kehamilannya yang memasuki beberapa Minggu.
Kelvin yang baru tertidur beberapa jam terbangun saat mendengar Klara sedang mual-mual di kamar mandi.
"Kamu gak papa sayang." tanyanya sambil menggosok punggung Klara. Klara yang menggeleng, walau air matanya terus saja mengalir, karena rasa yang tak nyaman di perutnya.
Kelvin mengendong Klara kembali keranjang untuk beristirahat. Sebelumnya dokter sudah menyarankan agar menjaga baik-baik ibu dan anak yang ada didalam kandungan, karena memiliki resiko keguguran yang tinggi akibat usia Klara yang masih belum pas untuk hamil.
"Mas, kenapa mas pulangnya larut malam dan aku hubungi gak bisa? apa mas habis berkelahi? lihatlah wajah mas Kelvin memar dan tercium bau darah."
Kelvin tak bisa menyembunyikan memar di wajah yang semakin membiru, "Ini urusan lelaki, masih hal yang wajar."
Klara menghela nafas, tak menyadari betapa kuatirnya Klara setiap Kelvin tak kunjung pulang.
"Istirahatlah, nanti kalau sudah baikkan baru boleh keluar dari kamar. Oya, nanti temui kakek dan papa, mereka pasti senang melihat menantunya cantik dan baik hati seperti kamu."
"Memangnya mereka kapan datang, kok mas baru kasih tahu, soal kakek dan papa mertua dan selama ini mereka tinggal di mana? dan kenapa mas gak pernah kenalkan aku dengan papa dan kakek." protes Klara.
"Mereka sudah ada di sini." jelas Kelvin.
"Di sini. Kapan Meraka datang?" tanya Klara terkejut.
"Kemarin, Karena menungguku mereka sampai tidur di teras." Jelas Kelvin dan beranjak membersihkan diri.
"Kemarin, kenapa aku tak tahu ya? jika aku tahu mana mungkin aku membiarkan sempai mereka tidur di luar." Klara terus berfikir, sampai ia melewatkan momen kedatangan kakek dan papa mertuanya.
Akhirnya Klara pun ingat dengan kedua lelaki tua yang ia usir Kemarin sore." Jangan-jangan yang aku usir Kemarin itu kakek dan papa mertua dan mereka mau memecatku." Klara pun bergegas turun dari ranjang, dan tak memperdulikan kondisinya, segera keluar untuk mencari mereka berdua.
"Mau kemana sayang." tegur Kelvin yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mau minta maaf." saut Klara sambil berlalu mencari keberadaan papa mertuanya, Kelvin segera menyusul, kuatir apa yang akan di lakukan istrinya.
Klara mendapati Casandro yang sedang bersantai di teras sambil membaca koran pagi. Klara segera menghampiri dan berdiri di depan Casandro. Casandro yang terkejut pun menatap Klara.
Tiba-tiba saja Klara bersimpuh dan langsung memeluk kaki kakek Casandro.
"Kakek, maafkan cucu menantu ini yang sudah tidak sopan mengusir kakek kemaren sore dan tutur kata cucumu ini yang tidak sopan. Klara mohon kek, jangan pecat Klara jadi cucu menantu." Klara berkali-kali mengucapkan kata-kata yang sama untuk meminta maaf.
Canasdro tak berkata apa-apa, ia juga bingung dengan kata-kata yang keluar dari mulut Klara jika wanita yang sedang memeluk kakinya dan memohon adalah cucu menantu.
"Tunggu dulu, apa kamu bilang tadi? kamu cucu menantu? apa kamu istrinya Kelvin?" tanya balik Casandro dan Klara. mengangguk.
Kelvin terkejut dengan dirinya yang di jadikan sasaran atas kesalahan pahaman antara menantu dan kelak.
Klara bangkit berdiri dan menghampiri Kelvin yang sedang menyandarkan tubuhnya di sisi pintu. Klara menarik tangannya dan membawa Kelvin menghampiri Casandro yang tak bisa berkata apa-apa.
Klara memaksa Kelvin untuk bersimpuh di depan kakeknya sama seperti dirinya, dan Kelvin pun menurut walau tak tahu apa yang ingin dilakukan Klara.
"Kek, Aku dan mas Kelvin sekarang bersimpuh di depan kakek, kami mohon belas kasih kakek untuk tidak memecatku sebagai menantu dan merestui hubungan kami, karena sebentar lagi kami akan memberikan cicit buat kakek. Kami mohon kek, mau kan memaafkan kesalahan pahaman kemarin sore." Kelvi menatap istrinya yang begitu serius ingin minta maaf pada kakeknya.
Casandro menatap kedua cucunya berulang kali, sebelum tertawa begitu lepas menyaksikan drama di pagi hari.
"Kelvin, baru kali ini kakek melihat dan benar-benar ini sebuah kejutan, kamu rela bersimpuh di depan kakek hanya karena seorang wanita. Mimpi apa aku semalam, bisa menyaksikan cucuku sendiri menepis egonya dengan meminta maaf."
"Maafkan aku kek, jika selama ini aku sudah sering membuat kakek marah dan tak pernah mau minta maaf atas kesalahan-kesalahan masa lalu. Restui kami kek, agar keluarga kecil kami bisa hidup bahagia." Kelvin sungguh berbeda, apa yang di ucapkannya keluar dari harinya dan membuat Casandro terenyuh.
"Sudah-sudah, ayo cepat berdiri, sikap kalian berlebihan, aku ini kakek yang baik hati di tambah kabar gembira dari kalian, jadi mana mungkin aku marah." Casandro memegang kedua tangan Klara dan mengajaknya berdiri.
"Selamat datang, dan menjadi bagian dari keluarga Casandro. terimakasih sudah mau menjadi pendamping cucuku. Kakek doakan kalian selalu bahagia, kakek berharap kalian bisa memiliki beberapa penerus untuk mempertahankan keturunan Casandro. Kerena saat ini hanya Kelvin keturunan terakhir dari keluarga Casandro." Casandro mengecup kening Klara sebagai bentuk rasa sayang seorang kakek pada cucunya.
"Klara janji kek, akan selalu menemani mas Kelvin dalam suka mau pun duka, dan akan melahirkan keturunan untuk keluarga Casandro. Berarti kakek sudah memaafkan aku?"
"Tentu saja sayang." Casandro pun memeluk Kelvin dan Klara bersamaan. Kebahagiaan terpancar di wajah Casandro.
"Kek, dimana papa? aku juga harus minta maaf padanya." tanya Klara
"Papa Alexo, mungkin sedang bersama putrinya." jelas Casandro. Membuat raut wajah Kelvin berubah begitu juga dengan Klara, yang paham dengan perasaan Kelvin saat ini.
Klara menggegam tangan Kelvin dan mengajaknya untuk menemui papanya dan meminta maaf.
"Mas harus bisa hadapi kenyataan, cepat atau lambat ini pasti akan terjadi. Semarah apapun papa, mas harus terima dan hadapi dengan lapang dada."
"Masalah apapun di perusahaan,atau masalah dengan orang lain aku bisa menghadapinya, tapi jika harus berhadapan dengan keluargaku sendiri aku tak bisa. Aku terlalu lemah dan tak sanggup mendengar amarah dari keluarga ku sendiri. Aku belum siap Klara, aku belum siap menerima amukan papa, karena aku yang sudah gagal menjadi seorang kakak." Ucap Kelvin lalu melepas genggaman klara dan memilih pergi karena ia belum siap untuk menghadapi papanya saat ini.
"Mas, mas jangan pergi. Jangan lari dari masalah. Aku akan selalu ada di samping mas dan kita hadapi semuanya bersama." ucap Klara namun Kelvin terlahir pergi.
Klara menatap Alexo tanpa ekspresi dan ternyata sedari tadi berdiri dianak tangga dan mendengar apa yang dikatakan Kelvin.
_Tbc
✔️ jangan lupa tinggalkan jejak.