OB Milyader ( Menantu Sampah)

OB Milyader ( Menantu Sampah)
part 58


Semalaman klara duduk menunggu Kelvin pulang, semenjak Kelvin pergi, sampai larut malam belum kembali. Berkali-kali Klara menghubungi namun tak satu panggilan pun di angkatnya, membuat Klara semakin cemas dan kuatir, takut sesuatu terjadi padanya.


"Kamu ada dimana mas? kenapa kamu tak memberi kabar." Klara begitu gelisah, ia takut sesuatu terjadi padanya.


Tak lama Alexo keluar dari kamarnya dan mendapati klara masih di ruang tamu. Alexo pun menghampiri untuk menanyakan apa yang dilakukan Klara.


"Nak, ini sudah malam. Kenapa belum tidur? apa yang kamu kerjakan." Tanya Alexo, ia sudah mengetahui jika Klara adalah menantunya.


"Papa." Klara yang terkejut langsung menoleh ke arah datangnya Alexo.


"Nungguin mas Kelvin pa. Sejak pagi tadi sampai sekarang belum pulang." jelas Klara.


"Apa sudah tanya Akas atau temannya yang lain?"


"Sudah pa, tapi gak ada yang tahu. mereka juga sedang nyari mas Kelvin tapi belum ada yang ngabarin. Papa sudah malam kok belum tidur, papa kan belum terlalu sehat." Klara menghampiri dan duduk di samping Alexo.


"Eeeemmm, mungkin dia sedang lari dari masalah. Padahal aku pun tak akan menyalahkan dia."


"Pa. bagaimana dengan Aura? mental Aura saat ini belum stabil, walaupun dia sudah mulai bisa menerima kenyataan, Klara takut Aura tidak bisa menerima kehadiran janin yang saat ini berada di rahimnya."


"Itu yang sedang papa pikirkan. Janin itu tidak bersalah, papa akan menerimanya sebagai cucu papa juga. Sudahlah biar papa yang memikirkannya, yang penting Aura baik-baik saja." Alexo pun beranjak berdiri dari sofa.


"Sampaikan pada Kelvin. Papa tidak marah padanya, dia sudah menjaga Aura semampu dia." Alexo meninggalkan Klara yang masih ingin menunggu Kelvin.


Klara yang sudah tak mampu untuk menunggu, tertidur di sofa.


Dini hari Kelvin baru datang, dengan tubuh bau alkohol bercampur dengan parfum yang menusuk penciuman Klara. Ternyata Kelvin menghabiskan harinya di apartemennya ditemani alkohol sepanjang hari.


"Dari mana mas?"Tanya Klara yang terbangun saat dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka, Klara menunjukkan ekspresi marah dengan sikap Kelvin.


"Aku..."


Plaaakkk....


Kali pertamanya, Klara berani menampar Kelvin, "Beginikah cara mas menghadapi masalah. Terlalu kekanak-kanakan." Klara pun meninggalkan Kelvin dan kembali ke kamar. Kelvin masih diam terpaku sambil memegang pipinya yang mendapatkan tamparan diri Klara.


****


Seperti sebelumnya, Klara mengalami morning sickness dan Kelvin pun terbangun dan menghampiri.


"Gak usah pedulikan aku mas, lebih baik lanjutkan tidurmu." Klara menepis tangan Kelvin.


"Kamu kenapa sayang. Maaf kalau mas ada salah. Katakan dimana letak Kesalahan mas, agar mas tak mengulanginya lagi."


"Mas ingin tahu, salah mas dimana? baik aku akan beritahu. Apa mas tak menganggapku sebagai seorang istri, sampai mas gak ada waktu memberi kabar padaku, Sesibuk itukah aktivitas mas sampai mas tak bisa menyempatkan waktu barang satu menit untuk memberi kabar. Aku takut mas, aku takut orang-orang yang aku sayangi pergi dari rumah dan tidak kembali lagi. Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku dan aku pun tak ingin kehilangan mas. Apa mas tahu, setiap malam aku selalu menunggu ke pulangan mas, aku menunggu mas pulang baik-baik saja. Mas bilang, mas sudah beberapa kali mengalami kecelakaan, itu sebabnya aku tidak bisa tidur setiap mas tak memberi kabar." Klara menumpahkan semuanya pada suaminya, agar Kelvin tahu betapa kuatirnya dirinya setiap saat.


Kelvin menarik Klara dalam pelukannya, Kelvin memeluk erat sang istri" maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Aku tidak mau kehilangan mas. Aku cuma minta kabar mas dimanapun mas berada, agar aku tak kuatir, apa itu salah.".


"Tidak sayang, mas yang salah. mas janji tidak akan mengulanginya lagi. Maaf kalau selama ini mas masih mementingkan ego mas dan tak menyadari ada seseorang yang selalu menunggu mas di rumah. Apa kamu mau memberi mas kesempatan."


"


Klara pun menghapus air matanya dan menatap suaminya mencari kejujuran dalam dirinya, "Baik aku akan beri satu kesempatan tapi dengan satu syarat."


"Syarat? apa syaratnya?"


"Kan ada bibi. Minta buatkan bi Lily ya mas gak bisa masak."


"Gak mau, maunya mas yang buatin sekarang dan jangan minta bantuan bi Lily" Klara mendorong Kelvin keluar.


"Baiklah, tapi jangan protes kalau gak enak."


Kelvin pun mengalah dan segera menuju ke dapur untuk masak sarapan spesial untuk Klara.


Di dapur ada bi Lily dan yang lain sedang menyiapkan sarapan, karena masih terlalu pagi jadi sarapan belum siap.


"Tuan Kelvin, kenapa pagi-pagi ada di sini? apa butuh sesuatu? biar bibi buatkan." tanya Lily.


"Gak bi, aku mau masak."


"Jangan tuan, biarkan kami yang masak. Mana mungkin kami membiarkan tuan masak di dapur. sarapan sebentar lagi siap." cegah Lily.


"Jangan mencegahku. Aku mau masak buat anakku, dia ingin mencicipi masakan Papanya." Kelvin memasang celemek dan bersiap untuk masak.


Mendengar penjelasan Kelvin, bi Lily dan yang lain mundur agar Kelvin lebih leluasa untuk memasak.


Entah bumbu apa saja yang di masukkan Kelvin untuk membuat nasi goreng. Kelvin tak mau bertanya pada bi Lily sesuai perintah Klara. Bi Lily sesekali menegur tapi Kelvin menyuruhnya diam.


Setelah matang, Kelvin pun meminta bi Lily mencicipinya dan menilai masakannya sebelum diberikan pada istrinya.


Bi Lily mencicipinya namun ia menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana bi rasanya?" tanya Kelvin


"Tuan apa tuan, maaf sebelumnya, tapi ini rasanya nano-nano. Asin, pedas, terlalu manis dan sedikit pahit karena sedikit gosong. Tuan bisa mencicipinya kalau penilaian saya salah."


"Apa." Kelvin pun menyuap satu sendok dan langsung di semburkannya.


"Ini nasi goreng atau apa, gak enak sekali." Kelvin ingin membuangnya namun tangannya di tahan Klara.


"Kenapa mau di buang mas? kan mas dah capek-capek masak. Berikan padaku, aku sudah lapar." Klara ingin mengambil piring yang ada di tangan Kelvin.


" Mas buatkan yang baru ya, masakan mas yang ini gagal, bisa bikin sakit perut." cegah Kelvin dan masih menahannya di tangan Kelvin.


"Aku maunya itu mas jangan di buang." Klara masih ngotot dan Kelvin pun juga ngotot tak mau memberikannya.


"Kalau mas gak mau berikan, aku gak akan sarapan sekalian." ancam Klara lalu pergi dengan menangis.


"Klara, ini gak enak, mas akan buatkan yang baru." Kelvin masih ingin membujuk namun Klara terlanjur marah.


Pagi-pagi drama besar sudah di buat oleh pasangan suami istri, dan yang lain hanya menjadi penonton saja.


"Tuan, daripada nyonya ngambek, berikan saja itu biar nanti nyonya yang mencicipinya, mungkin nyonya hanya kepengen saja, bawaan bayi, tak mungkin di habiskan." Saran Lily.


"Begitu ya bi, mungkin bawaan ibu hamil ya bi, baiklah, setidaknya aku sudah berusaha." Kelvin pun tak jadi membuang nasi goreng buatannya tersebut.


_TBC


✔️Jangan lupa tinggalkan jejak