OB Milyader ( Menantu Sampah)

OB Milyader ( Menantu Sampah)
part 65


Seribu satu cara Kelvin berupaya membujuk Klara agar mau memaafkan dirinya. Sangat sulit merayu wanita yang sedang hamil, tapi akhirnya Kelvin berhasil mendapatkan maaf dari istrinya.


Setelah pertengkaran itu, Kelvin baru bisa memeluk istrinya setelah didiamkan Klara Selama beberapa hari. Sebelumnya Kelvin tak bisa menyentuh Klara, memeluk dan mencium istrinya sendiri pun tak bisa. Kelvin benar-benar di buat menderita secara batin oleh Klara.


Setiap pagi, saat bangun lebih awal Klara selalu berdiri di balkon menikmati udara pagi sambil menunggu Kelvin bangun.


Sebuah pelukan hangat menyelimuti tubuh Klara. Kelvin yang baru bangun langsung menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang, tak lupa ciu*man hangat menempel di pipinya.


"Pagi sayang" sapa Kelvin dengan suara khas bangun tidur, dengan rambut yang masih berantakan.


"Mas Kelvin sudah bangun? ini kan baru jam enam pagi." Klara membalikan tubuhnya dan menghadap sang suami, mengalungkan kedua tangannya di leher Kelvin sambil memberikan senyuman manis di pagi hari.


"Banyak pekerjaan yang menunggu, dan mas juga harus ke bandara." jelas Kelvin seperti biasa.


"Bandara? siapa yang datang? apa kakek kembali?"


"Bukan kakek, tapi tamu penting yang akan datang di pesta. Sayang, lusa kita akan mengadakan pesta baby shower dan akan mengundang seluruh kerabat dan keluaga terdekat. Mas juga sudah konsultasi dengan dokter Anabel, kalau pesta baby shower di adakan di usia kandunganmu yang sekarang.


"Apa itu perlu? Bukankah di awal kehamilan mas tak menginginkan orang lain tahu tentang kehamilanku tapi kenapa sekarang malah mas sendiri yang mengumumkannya."


"Situasinya sudah berbeda, dan mas punya alasan sendiri yang tak perlu kamu tahu, yang terpenting kamu dan anak-anak kita baik-baik saja."


"Oya, nanti sopir anak mengantarkan ke butik Ra, untuk fitting baju yang akan kamu kenakan nanti untuk pesta."


"Ya baiklah, lebih baik mas sekarang cepat mandi, mas bau." Usir Klara.


Saat sarapan pagi, Klara sengaja memancing Aura mengenai baby shower yang di rencanakan Kelvin.


"Mas, lusa kan kita akan mengadakan pesta baby shower untuk menyambut anak-anak kita, aku ingin mas memberikan kado yang spesial buat istrimu yang sudah rela mengandung anakmu." Ucap Klara dengan manja.


"Tentu saja, mas sudah siapkan hadiah yang spesial untuk kamu."


"Aku juga mau, hadiah dari kakak, karena aku juga sedang hamil." Saut Aura yang terpancing omongan Klara.


"Ohhh, aku hampir lupa, nanti aku akan belikan hadiah juga buat kamu."


"Tapi aku maunya hadiahnya sama seperti yang kakak berikan pada kak Klara."


"Tidak bisa mas, aku tidak mau hadiah ku di samakan dengan Aura, dia adikmu bukan istri keduamu yang harus bersikap adil. Jika dia ingin yang spesial, carikan dia suami agar suaminya yang membelikan untuknya." Saut Klara dengan kesal.


"Sudah-sudah, jangan berdebat lagi. Aku harus pergi sekarang. Oya sayang, jangan lupa nanti fitting bajunya ya, sopir sudah aku kasih tahu alamatnya." Kelvin pun pamit dan mengecup kening Klara sebelum berangkat.


"Tunggu Aura! kenapa kamu buru-buru kembali ke kamar, ada urusan yang belum selesai antara kita berdua."


"Apa yang ingin kamu selesaikan lagi, apa kamu belum puas dengan tadi." Jawab aura dengan ketus.


"Aku hanya ingin mengingatkan kamu, bahwa kamu tak akan pernah bisa menyingkirkan aku dari kehidupan mas Kelvin dan perlu ingat kamu itu adiknya bukan ibunya, jadi jangan pernah berharap perhatian lebih dari mas Kelvin." Dengan tegas Klara menantang permainan yang sedang di mainkan Aura, dan Klara pun yakin akan menemukan seseorang yang berada di belakang Aura.


Lily menghampiri klara yang masih kesal dengan sikap Aura yang terus saja mencari masalah dengannya.


"Nyonya, jangan terlalu dipikirkan sikapnya non Aura." Ucap Lily sambil memijat kedua pundak Klara.


"Maaf nyonya sebelumnya, tapi tolong jangan di sampaikan pada tuan Kelvin karena saya tidak punya bukti yang kuat untuk mengatakan pada tuan. Sebenarnya... sebenarnya non Aura tidak hamil."


"Apa bi..." Klara benar-benat terkejut, sontak langsung berdiri menghadap Lily.


"Katakan sekali lagi bi."


"Non Aura tidak hamil, bibi gak sengaja melihat non Aura melepas sesuatu yang melilit di perutnya, seperti sebuah bantalan yang tipis." Jelas Lily dengan tergagap.


Klara benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Aura yang dengan tegangan membohongi kakak dan juga papanya.


*****


Sudah hampir setengah jam Kelvin dan Akas menunggu pesawat landing, sedang membawa orang yang ditunggu Kelvin.


Tak lama seorang wanita muda datang menghampiri Kelvin dengan menarik koper berwarna silver miliknya.


"Maaf apakah ini pak Kelvin?" tanya Anita yang menghampiri Kelvin dan Kelvin pun mengiyakannya.


"Perkenalkan saya dokter Anita." Anita mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri pada Kelvin dan Akas.


Akas berbisik di telinga Kelvin," Ternyata dokter Anita sama cantiknya dengan istrimu."


"Saya Kelvin dan asisten saya Akas. Terimakasih sudah mau datang memenuhi undangan saya, dan saya harap anda bisa betah tinggal di sini selama satu Minggu."


Anita tertawa mendengar ucapan Kelvin, "Ini tanah kelahiran saya, mana mungkin saya tidak betah di sini, selain memenuhi undangan anda saja juga ingin mengunjungi keluarga saya yang ada di kota ini juga."


"Baiklah, kita lanjutkan obrolannya di perjalanan menuju hotel." Kelvin pun membawa Anita meninggalkan Bandara menuju hotel yang merupakan fasilitas yang diberikan Kelvin Selama tinggal di Indonesia dalam waktu satu Minggu.


Sepanjang perjalanan Anita bercerita panjang lebar tentang kehidupannya di masa lalu, namun tak sedikitpun Anita menceritakan tentang adiknya yaitu Klara.


"Apa kamu tak punya saudaran kandung gitu?" tanya Akas yang penasaran karena sama sekali tak di ungkitnya.


"Saudara..." Anita terdiam sesaat, "Aku punya seorang adik perempuan tapi dia sangat membenciku, karena aku meninggalkannya. Mungkin saat ini kebenciannya padaku semakin dalam setelah orang tua kami meninggal aku tak pernah memberi kabar apapun padanya sampai sekarang." Tak terasa air mata lolos begitu saja dari mata Anita.


"Apa kamu menyesal atau kau ingin minta maaf padanya?" tanya Kelvin yang penasaran.


"Aku benar-benar menyesal, aku ingin menemuinya dan minta maaf padanya, bahkan aku rela menerima hukum apapun asalkan dia mau memaafkan aku. Kebenciannya padaku karena semua itu ulahku sendiri dan kini aku benar-benar menyesal. Aaahhh... kenapa jadi curhat. Maaf pak Kelvin bukan maksud saya buat cerita masa lalu, pak Kelvin sih yang mancing segala." Anita segera menghapus air matanya dan menyerang perasaannya.


Mereka pun mengantarkan Anita ke hotel untuk dirinya istirahat dan Kelvin serta Akas kembali ke kantor.


_TBC


...Maaf updatenya terlambat lagi, terlalu sibuk dengan RL sampai lupa gak update. Makasih yang masih setia menunggu dan masih mau baca...


...🙏🙏🙏...


✔️ jangan lupa tinggalkan jejak