OB Milyader ( Menantu Sampah)

OB Milyader ( Menantu Sampah)
part 55


Selama beberapa hari, Klara sibuk dengan ujiannya bahkan ia lupa kalau sedang berbadan dua. Klara janji akan mengunjungi dokter jika ujiannya telah usai.


Pesan singkat terus-menerus di kirim Kelvin di sela rapatnya untuk mengingatkan agar segera mengunjungi dokter.


"Aaahhh, baru awal kehamilan, mas Kelvin sudah begitu ketat mengawasiku, bagaimana setelah beberapa bulan kedepan. Tapi tak papa, itu sebagai bukti kalau mas Kelvin benar-benar sayang denganku." gumam Klara sambil mengelus perutnya.


Klara pun segera mengunjungi rumah sakit untuk memeriksakan usia kehamilannya, namun sayang Kelvin tak bisa menemani untuk pemeriksaan pertama.


Rasa kecewa muncul di hati Klara begitu saja hingga membuatnya sedih dan ingin menangis.


Tak lama, giliran Klara pun tiba, saat ia berdiri dan hendak masuk ke ruangan, Kelvin tiba-tiba saja muncul dan menghampiri Klara.


"Tunggu, jangan biarkan aku melewatkan momen yang sudah aku tunggu-tunggu." dengan nafas yang sedikit memburu. Kelvin sengaja menunda metting di kantor agar bisa menemani istrinya di kehamilan pertama.


"Mas Kelvin, mas datang, aku kira mas tak akan menemaniku untuk pemeriksaan yang pertama." Klara terkejut, yang awalnya ada rasa kecewa berubah menjadi bahagia seketika saat di dapati kehadiran Kelvin.


"Mana mungkin aku lewatkan momen bahagia ini." Kelvin pun menemani Klara memeriksakan kandungannya. Sungguh bahagia bukan main saat Kelvin melihat embrio yang berada di dalam kantung rahim, walaupun masih kecil tapi Kelvin sudah puas bisa mengetahui perkembangan sang penerus.


****


Setelah beberapa hari, akhirnya Kiki secara perlahan sudah bisa membuat Aura mempercayai dirinya dan sudah bisa di ajak ngobrol dengan baik.


"Aura sudah waktunya berangkat, apa kamu sudah siap?" tanya Kiki dan Aura pun mengangguk. Aura segera meletakkan Buku diary miliknya di atas nakas dan segera mengikuti Kiki untuk pergi.


Sepintas dalam pandangan, Kiki memperhatikan buku diary yang baru saja di letakkan dan berfikir kemungkinan ada petunjuk yang diperlukan tanpa harus bertanya, agar tak mempengaruhi kesembuhan Aura.


"Kenapa berhenti?" tanya kiki yang mendapati Aura menghentikan langkahnya.


"Aku lupa tasku. Aku akan kembali ke kamar untuk mengambilnya sebentar." Aura pun berbalik dan melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Tunggu Aura, biar aku saja yang mengambilnya. kamu tunggu saja di mobil. Tasnya ada di atas nakas kan?" Kiki mengambil kesempatan untuk melihat isi diary Aura.


Setelah masuk kedalam kamar, dengan buru-buru Kiki memotret semua isi diary yang Aura tulis termasuk gambar-gambar yang di buat Aura. Kiki pun tak sempat membaca, ia pun hanya menyimpannya dalam memory sebelum keluar kamar Aura.


Kiki menemani Aura berkunjung ke psikiater untuk mengatasi trauma yang dialami Aura, dan perkembangannya luar biasa banyak kemajuan yang tentang kondisi Aura.


"Pak Kiki, saya ingin bicara sebentar dengan anda mengenai kondisi Aura." ucap psikiater itu.


"Iya, apa ada masalah dengan Aura?" tanya balik Kiki.


"Tidak, saya hanya menyarankan untuk membawa Aura periksa, karena dari pengamatan yang saya lihat dan dari cerita dan keluhannya, sepertinya Aura sedang hamil, dan ini bisa menjadi Masalah kembali pada mental Aura, saat dia tidak bisa menerima kenyataan sebenarnya." jelas psikiater itu.


"Apa, hamil? lalu apa yang harus saya lakukan."


"Beritahu keluarganya untuk mendukungnya dan mensupport Aura, agar kehamilannya tidak menggangu mentalnya."


Mereka pun segera kembali ke rumah dan Kiki sudah tidak sabar untuk menyampaikan hal besar yang harus Kelvin ketahui.


"Kita bicara di ruang kerja saja. Klara temani Aura dulu, aku akan bicara dengan Kiki sebentar.


Kiki segera melihatkan foto-foto hasil jepretan dari buku diary Aura kepada Kelvin.


"Saya yakin itu laki-laki yang sudah merusak Aura, dari tulisan yang di buatnya bisa memperkuat kalau itu orangnya."


Emosi Kelvin langsung memuncak saat melihat gambar yang di lukis Aura. "Secepatnya cari keberadaan laki-laki ini, dan tangkap dia, jangan biarkan dia lolos lagi, setelah menghancurkan Aura. Dengan tanganku sendiri aku kan menghancurkannya." kemarahan Kelvin memuncak dan tak sabar ingin menghajar laki-laki tersebut.


Setelah mendapatkan perintah dari Kelvin, Kiki langsung pergi dan melupakan apa yang sudah di sampaikan psikiater pada dirinya.


Tak butuh waktu lama untuk menemukan keberadaan laki-laki itu, dan ternyata selama ini laki-laki itu tak pernah kabur atau sembunyi, hanya saja, Kelvin yang tak mengenali wajahnya yang membuatnya tak bisa segera bertindak.


Dalam waktu dua puluh empat jam Kiki berhasil menemukan keberadaan laki-laki brengsek itu, dan dari pantauan laki-laki itu sedang berpesta.


"Mas Kelvin mau kemana?" tanya Klara saat mendapati penampilan Kelvin yang berbeda dan tengah bersiap-siap.


"Aku pergi sebentar, mas akan segera kembali."


Klara menahan lengannya, "jangan pergi mas." Klara melarang Kelvin untuk pergi, seakan ada firasat buruk yang akan terjadi.


"Aku hanya pergi sebentar, dan akan segera kembali. Jangan kuatir aku akan baik-baik saja." kelvin mengecup kening Klara dan memutuskan untuk tetap pergi.


Kelvin pergi bersama Akas, sedangkan Kiki sedang memantau kondisi dimana laki-laki itu berada.


Tak lama setelah Kelvin pergi, sebuah mobil hitam masuk ke halaman rumah. Dua laki-laki keluar dari dalam mobil dan Klara sama sekali tak mengenalnya.


Tanpa permisi kedua laki-laki itu masuk ke dalam rumah, namun di tahan Klara.


"Berhenti dan jangan langkahkan kaki kalian." kedua laki-laki itu menoleh ke arahnya yang sempat di abaikannya karena di kira Klara seorang pelayan.


Klara menghampiri keduanya dan berdiri di depannya, dengan mengacak pinggang dan menatap kedua lelaki yang jauh lebih tua darinya.


"Kalian siapa? dan apa kalian tak memiliki etika sopan santun? aku berdiri di depan dan kalian seenaknya nyelonong masuk ke ke dalam rumah tanpa permisi. Apa kalian anggap aku ini patung." Tanpa basa bisa Klara langsung memarahi, dan kedua lelaki itu hanya saling menatap heran dengan sikap Klara yang sudah berani menghentikan langkah keduanya.


"Ohhh, maafkan kami atas sikap kami yang tidak melihat keberadaan kamu. Beritahu Kelvin, kedatangan kami sekarang, atau aku pastikan kamu akan di pecat sekarang juga."


"Pecat. Siapa yang berani memecatku, kan aku tidak berkerja dan mas Kelvin pun tak kan bisa mengeluarkan aku diri sini. Lebih baik kalian saja keluar dari sini karena mas Kelvin tidak ada di rumah." Klara mengusir Kedua lelaki itu keluar rumah dan langsung membanting pintu, membiarkan dua lelaki itu menunggu di luar. Sedangkan security yang ada tak berani mengusir karena mengenal kedua orang tersebut.


"Siapa dia? kenapa Kelvin bisa pmemasukkan wanita gila itu ke dalam rumah?"


_TBC


✔️ jangan lupa tinggalkan jejak