OB Milyader ( Menantu Sampah)

OB Milyader ( Menantu Sampah)
Bertemu 3


Kenyataan terkadang memberikan sebuah kejutan tak terduga, seperti halnya yang Kelvin alami.


Kelvin sebenarnya tak berharap lebih tetang sosok papa kandungnya, namun ia tak memungkiri dalam hati kecilnya ia ingin bisa melihat sosok laki-laki yang memiliki ikatan darah dengannya, Siapa sangka takdir mempermainkan dirinya, orang yang selama ini sudah memberikan kasih sayang layaknya keluarga, mengayomi dan menguatkan dirinya tak lain adalah papa kandungnya yang sebenarnya.


Kelvin tak menunjukan ekspresi apapun di harapan kakek dan juga Alexo yang ternyata adalah papa kandungnya, bahkan ia melupakan bahwa dia sekarang memiliki seorang adik.


"Jon... " Panggil Alexo nama yang selalu ia panggil selama ini, namun Kelvin memilih untuk keluar dari ruangan. Kelvin duduk di bangku panjang, ia menunduk menyembunyikan wajahnya dan menutupi air mata yang telah jatuh dengan sendirinya.


Aura keluar dan berlutut di depan Kelvin. "Tuan, mungkin ini sangat sulit bagi tuan untuk menerima kenyataan kalau ayahku adalah ayah tuan juga. Aku mohon tuan, tolong maafkan kesalahan ayahku di masa lalu, ayah sudah mendapatkan balasan dengan menderita bertahun-tahun. Aku mohon tuan, maafkan ayahku agar ayah tak tertekan dengan penyesalannya." Aura memohon pada Kelvin untuk ayahnya.


Kelvin segera menghapus sisa air mata, dan memasang Aura yang sedang berlutut di hadapanannya.


"Apa yang kamu lakukan, kamu tidak perlu melakukan ini." Kelvin memegang kedua bahu Aura dan mendirikannya.


Kelvin langsung memeluk Aura dengan erat sambil mengusap rambut Aura yang masih menangis dalam pelukan Kelvin.


"Aku tidak membenci ayahmu, Kenyataan ini memang sangat sulit aku terima, karena seumur hidupku aku tak pernah melihat wajah papa kandungku yang sebenarnya dan saat ini aku tahu kebenarannya. Aku akan berusaha menerima semuanya dengan lapang dada untuk bisa menerima kamu dan ayahmu yang saat ini merupakan keluargaku." Kelvin melepas pelukannya lalu menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipi Aura.S


"Mulai sekarang panggil aku kakak, karena kamu adalah adikku." ucap Kelvin, membuat Aura menghentikan isak tangisnya dan menatap dengan lekat pria yang ada di depannya.


"Apa aku tidak salah dengar, untuk memanggilmu dengan panggilan kakak?" Kelvin mengangguk dan membuat sebuah ukiran senyum di bibir Aura.


"Aku tidak bisa membencimu, kerena kamu anak yang baik, Sedangkan dia, ahhh... maksudku papa, aku kan berusaha untuk membujuk diriku sendri agar bisa memaafkannya."


Dengan satu tarikan nafas, Kelvin kembali masuk dalam ruangan bersama Aura di belakangnya. Kelvin menghampiri Alexo yang sepertinya sedang menunggu sebuah jawaban yang akan di katakan Kelvin.


Alexo sudah pasrah dengan jawaban sekaligus alasannya.


"Kelvin, Papamu tidak sepenuhnya salah, jika mamamu masih ada, yang pantas di salahkan adalah mamamu, dia yang meninggalkan papamu dan memilih Mahendra penipu itu." Casandro mencoba menjelaskan pada Kelvin.


"Cukup kek, jangan jelaskan lagi. Aku tidak ingin mendengarkan apapun alasannya, bagiku dia tetap salah, Aku tidak bisa memaafkan nya begitu saja dan melupakan semua hari-hari yang hilang selama dua puluh delapan tahun tanpa kasih sayang seorang ayah kandung. Tapi bukan berarti aku membencinya seumur hidupku. Beri waktu aku agar aku bisa kompromi dengan hatiku untuk bisa segera memaafkannya. " Setelah memberi jawaban, kelvin pergi meninggalkan rumah sakit dan pergi tanpa tujuan.


Hatinya sangat kacau, jika dirinya seorang wanita mungkin akan melampiaskan semuanya dengan tangisan dan berteriak sekeras mungkin agar bisa lepas dari segala masalahnya. Namun dirinya adalah seorang lelaki yang tak ingin terlihat lemah di mata siapapun dan tak ingin mengadu masalah pada siapapun.


Setelah cukup lama Kelvin berkendara tanpa tujuan, ia pun memilih berhenti di salah satu clubs malam.


Saat masuk kelvin langsung menuju meja bartender dan memesan vodka. Kelvin meneguk beberapa sloki hingga membuatnya sedikit mabuk.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seorang wanita dari belakang.


"Apa urusanmu menanyakan apa yang aku lakukan. pergi dari sini dan jangan ganggu aku" Jawab Kelvin tanpa mencari tahu siapa yang bicara dengannya.


"Kelvin, jangan lampiaskan masalah mu dengan alkohol, itu tidak baik buat kesehatanmu." ucap Maya.


"Maya! kenapa kamu bisa ada di tempat ini?" tanya kelvin


"Aku membuntutimu. Aku tak sengaja melihat kamu di perjalanan dan sepertinya kamu sedang kacau makanya ya aku buntuti, aku kuatir kamu kenapa-Kenapa." jawab Maya lalu meneguk vodka yang ada dalam sloki yang di ambil dari tangan Kelvin.


Maya kembali menuang vodka di sloki dan mengulang untuk beberapa kali, namun Kelvin hanya melihat apa yang dilakukan Maya tanpa ada keinginan untuk menghentikannya.


Sekian sloki vodka yang Maya minum, akhirnya membuat maya menyerah dan tak mampu lagi meneguk satu sloki terakhir.


"Apa kamu tahu Kelvin, sudah lama aku menanti hari-hari ini, mendapat kebebasan dalam hidupku. Aku lelah... Aku tak bisa menjalani hidup dengan penuh tekanan dari orang tuaku. Aku ingin menjalani hidup sesuai pilihanku dan berumah tangga dengan orang yang aku cintai. Tapi sepertinya setelah aku keluar dari tempat ini, semua mimpiku akan sirna."


"Apa kamu tahu, setelah kau membatalkan perjodohan kita, papa memaksaku untuk menikah dengan laki-laki asing, aku tidak mau itu. Aku sudah terlanjur cinta dengan Akas asistenmu. Tolong aku Vin, tolong satukan aku dengan Akas, aku ingin bersamanya." Dalam kondisi mabuk Maya terus saja bicara tanpa henti, mengeluarkan semua masalah yang sedang di hadapi.


Kelvin tak berkata apapun pada Maya, menghadapi masalahnya sendiri saja dia sudah pusing ditambah lagi masalah Maya dan Akas yang akan menjadikan dirinya sebagai tumbal cinta mereka berdua.


Sloki terakhir Kelvin teguk, "Apa kalian benar-benar saling cinta, jika itu iya aku akan membantu kalain, tapi jika cinta kalian hanya untuk kesenangan semata, maaf aku tak bisa bantu."


"Kami benar-benar saling cinta, bahkan antara kami akan ada orang ketiga yang sudah menunggu." Ucap Maya dengan jujur.


"Kalian..." Kelvin menahan kekesalannya.


"Lebih baik kamu pulang sekarang dan temui aku besok, Kita cari jalan keluarnya." Kelvin menarik Maya keluar dari clubs.


"Bawa nona kalian pulang segera." perintah Kelvin pada supir dan salah satu bodyguard Maya.


Maya menatap Kelvin dengan sayu, lalu segera masuk ke mobil dan segera pergi.


"Akas, kenapa kamu menambah masalah ku lagi." gumam Kelvin dengan geram. Ia pun segera menghubungi Akas untuk menemui dirinya. Kelvin sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran pada asisten sekaligus sahabatnya yang sudah kelewatan batas.


Tangan Kelvin sudah sangat gatal ingin segera menghajar Akas mengunakan tangannya sendiri, sebelum orang tua Maya yang melakukannya.


-


_TBC


βœ”jangan lupa tinggalkan jejak


βœ”β€πŸ”–πŸŽπŸ“πŸ‘ ditunggu