
"Davan, serahkan wanita itu, agar papa bisa segera menyelesaikan tugas papa. " Ucap laki-laki itu secara tiba-tiba yang mengejutkan, saat memergoki Davan turun dari atas atap.
"Tidak. Aku tidak akan menyerahkannya." Ternyata Brandon, papa Davan mengetahui jika Klara berada di tangan Davan.
"Dasar anak b*odoh. Kenapa kamu nekat menghalangi pekerjaan papa. Jika papa tidak bisa melenyapkannya, citra papa sebagai pembunuh bayaran akan tercoreng."
"Apa yang papa banggakan dengan menjadi pembunuh, sadar papa, hentikan perbuatan papa. Jika papa sampai menyentuh gadis itu sedikit saja, akan ku pastikan papa akan menyesal."
"Apa gunanya kamu menolongnya, jika orang terdekatnya ingin melenyapkannya."
Sebuah tamparan mendapat dipipi dengan keras mendarat di pipi Davan.
"Jangan pernah ikut campur urusan papa. Baiklah papa beri satu tawaran bagus, serahkan wanita itu dan kamu bisa menikmati kebebasan yang kamu mau." Bujuknya, Tamun keputusan Davan sudah bulat, untuk menyelamatkan klara dari kekejaman papanya.
Davan segera berlari, ia tahu apa yang akan di lakukan papanya jika dirinya menolak.
Pintu dimana Klara di kurung ada yang ingin mendobraknya dari luar dengan paksa. Klara nampak ketakutan dan dia yakin itu bukan Davan.
Saat pintu terbuka, anak buah Brandon tidak mendapati Klara.
"Berhenti sebentar, aku sudah capek." klara berhenti dan mengatur nafas yang ngos-ngosan. Ternyata sebelum anak buah Brandon berhasil mendobrak pintu, Davan lebih dulu berhasil membawa Klara keluar.
"Kita harus segera pergi dari sini, jika tidak mereka pasti akan segera menemukan kita. Ayo, aku yakin kamu pasti bisa." Davan menggandeng tangan Klara dan mengajaknya terus berlari melewati semak belukar yang rimbun karena tempatnya yang terpencil.
Rumah terpencil yang di tinggali Brandon dan juga Davan merupakan rumah eksekusi untuk penculikan dan menjadi saksi bisu korban yang berjatuhan di tangan Brandon.
Brandon adalah seorang pembunuh bayaran yang memiliki sebutan dewa iblis, karena dengan keji menghabisi para korbannya tanpa ampun.
Seseorang membayar Brandon untuk melenyapkan calon pewaris Casandro. Seseorang yang menginginkan kehancuran Casandro secara perlahan.
Hujan deras tiba-tiba saja turun, maksa mereka untuk mencari tempat berteduh.
Klara mulai kedinginan, baju tipis yang ia kenakan di tambah basah membuat Klara menggigil kedinginan.
"Aku sudah gak kuat. Aku kedinginan." Bibir Klara mulai pucat dan bergetar.
"Kamu harus kuat, aku yakin seseorang membaca pesan yang ku kirim dan segera mencari mu." Klara tak mampu lagi bertanya.
******
Hujan pun mengguyur kota, Kelvin terus memikirkan kondisi istrinya, kebenarannya.
Setelah apa yang terjadi, Kelvin selalu siaga setiap ada panggilan ataupun pesan singkat di ponselnya, ia tak pernah mengabaikannya lagi.
Kali ini panggilan dari Reza dengan membawa kabar yang membangkitkan semangat Kelvin untuk mencari kembali keberadaan istrinya.
Bersama dengan Reza, Akas, dan juga dirinya, segera berangkat menuju tempat sesuai petunjuk yang diberikan melalui pesan singkat yang di terima Reza.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan pesan dari istriku, sedangkan aku sendiri tidak mendapatkannya. Seharusnya dia mengabari aku bukan kamu."
"Mana aku tahu, hanya saja penulisannya sedikit berantakan seperti terburu-buru." Reza menunjukkan pesan singkat dari nomor Klara. Kelvin langsung membacanya.
"Ini bukan istriku yang mengirim. Klara punya ciri khas di setiap pesanannya." Kelvin yakin jika itu bukan istrinya yang mengirim pesan.
"Apa ini jebakan?" Tanya Akas secara tiba-tiba.
"Jangan berfikir negatif dulu, siapa tahu yang mengirim pesan ini orang yang ingin menyelamatkan Klara. Ya itu bisa jadi, yang terpenting kita harus siaga."
Hujan deras terus di terobos, segera sesuatu sudah di persiapkan, hingga mereka tiba di tempat sesuai petunjuk pesan.
"Apa kalian yakin ini tepatnya? kenapa aku ragu-ragu ya? di tambah hujan lebat seperti ini, tak mungkin Klara ada di sekitar tempat ini." Keraguan Akas semakin meningkat karena sekeliling yang sangat sunyi.
Kelvin beberapa kali menghubungi nomor Klara namun tak ada yang di angkat.
Tak selang berapa lama beberapa mobil berhenti tak jauh dari tempat Akas menghentikan mobilnya.
Orang-orang bermantel masuk kedalam hutan dengan membawa senjata dan menyebar.
****
Davan memeluk erat tubuh Klara yang kedinginan, "Kamu harus bertahan, kita harus segera keluar dari tempat ini anak buah papa pasti sedang mengejar kita."
"Aku sudah tidak kuat, biarkan saja mereka membunuhku, aku sudah tidak sanggup untuk berlari lagi." Klara menitikkan air matanya, tak menyangka hidupnya akan berakhir tragis bersama anaknya.
"Jangan pernah katakan itu, aku benci dengan orang yang mudah menyerah." Davan yang sudah merasa tak aman, menggendong Klara di punggungnya dan menerjang hujan yang lebat serta Guntur yang menggelegar.
Dengan sekuat tenaga, Davan menggendong Klara. Bukan tanpa alasan Davan mati-matian menyelamatkan Klara. Penyesalan membuat Davan tak ingin melihat lagi ada orang yang di bunuh papanya.
"Jika kamu kamu selamat, aku punya satu permintaan padamu." Ucap Davan agar Klara terus terjaga dan tidak memejamkan mata.
"Katakan, apa permintaanmu?"
"Aku ingin salah satu anakmu jika itu lelaki, berikan namaku padanya, agar kamu selalu ingat, aku pernah berjuang menolongmu."
"Hanya itu? setelah kita keluar dari tempat ini, ikutlah bersamaku, aku akan meminta mas Kelvin memberikan pekerjaan padamu. Suamiku itu punya perusahaan besar dan banyak cabangnya dimana-mana, dia pasti gak keberatan untuk menempatkan kamu di salah satu perusahaannya."
Saat hampir sampai di tepi jalan. Beberapa orang menodongkan senjata ke arah Davan dan Klara, tanpa Davan ketahui sebelumnya, mereka sudah mengelilingi keduanya.
"Serahkan wanita itu Davan dan kau akan selamat." Brandon menodongkan senjatanya ke arah putranya itu.
"Sudah ku katakan, sampai kapanpun tak akan ku biarkan lagi papa membunuh."
"Davan, turunkan aku. mereka menginginkan aku."
"Tidak akan ku biarkan, siapapun berani menyakiti kamu termasuk dewa iblis ini. Bahkan jika aku harus mati sekalipun aku akan tetap melindungi kamu." Davan kekeh untuk melindungi Klara, walaupun pestol Brandon sudah mengarah tepat di kepala Davan.
"Jangan keras kepala Davan, jangan biarkan papa melakukan ini."
"Lakukan pa, aku tak takut. Aku juga sudah lelah melihat semuanya dengan senang hati aku mati di tangan papa." Dengan menggendong Klara Davan memejamkan mata. Setidaknya walaupun Davan mati, dia akan tenang karena sudah berjuang menyelamatkan Klara.
Klara mempererat pelukannya, ia juga sudah siapa jika harus mati di bawah hujan lebat, setidaknya suaminya tidak mengetahui kematiannya, atau dia akan sangat sedih jika mati di depan suaminya.
Brandon yang sudah dibutakan matanya dengan amarah, menarik pelatuk pistol dan bersiap mengarahkannya tepat di kepala Davan.
Sepersekian detik, salah satu peluru menerobos keluar melalui moncong pestol hingga terdengar suara tembakan yang mengejutkan.
Dorrrrr......
_TBC....
✔️ jangan lupa tinggalkan jejak.