
Akhirnya klara bisa menghirup aroma wangi kamarnya yang khas, setelah beberapa hari tak dapat tidur nyenyak.
Sesampainya di rumah, yang ada dalam pikiran Klara hanyalah Aura yang sudah kembali dalam keadaan baik-baik saja. Tanda tanya terpintas dipikiran Klara, bagaimana Aura bisa selamat sedangkan dirinya yang membuntuti malah terjebak dalam keadaan yang tidak seharusnya.
Namun Klara tak ingin buru-buru bertanya, yang terpenting semua baik-baik saja.
Karena kehamilannya, klara begitu cepat lapar, mulutnya ingin terus makan sesuatu yang manis-manis.
Saat sedang mengambil makanan dari atas meja, Klara berpapasan dengan Aura yang ingin mengambil makanan yang sama.
"Kak, aku menginginkan itu." ucap Aura sambil menunjuk sebungkus roti yang sedang Klara bawa.
"Aku juga menginginkannya, jadi siapa cepat dia dapat." Klara mendekap roti tersebut.
"Tapi aku mau itu, apa kak Klara tak kasihan denganku."
"Tapi aku juga mau, dan anakku menginginkannya. Kamu bisa mengambil makanan yang lain, di kulkas masih banyak." Aura tiba-tiba merampas roti dari tangan Klara.
"Aura, kenapa kamu semakin hari semakin keterlaluan padaku. Awal kedatanganku kau begitu baik, tapi kenapa sekarang kamu seperti membenciku, kau pikir aku diam tak tahu sandiwara apa yang sedang kau mainkan. Jangan sampai aku katakan semuanya ke mas Kelvin tentang kebohongan besarmu itu."
Plaaakkk...
"Jangan berani mengancam ku, atau aku tak akan segan melukaimu dan anakmu. Semakin kesini aku semakin membencimu karena mas Kelvin lebih sayang dan lebih perhatian padamu sedangkan aku begitu cepat di abaikannya."
Klara yang mendapatkan tamparan ingin berbalik menamparnya namun di urungkan. "Dengarkan aku Aura, aku akan benar-benar mewujudkan sandiwaramu, aku akan membuatmu menjadi benar-benar gila seperti yang kau permainkan sekarang. Camkan kata-kataku. Aura, aku bisa menjadi macan yang buas jika kamu berani menyentuh keluargaku." Setelah mengancam Klara pun pergi tak ingin terus meladeni Aura yang mulai tak waras.
Diam-diam Klara mengetahui sebuah rahasia yang tak sengaja ia ketahui tentang persekongkolan yang dilakukan Aura dengan seseorang, dan selama ini Klara juga tahu jika Aura berbohong tentang gangguan mental yang ia alami hanya untuk mengalihkan perhatian Kelvin. Selama ini ternyata Aura sembunyi di balik topeng kepalsuan dan mengikat sebuah perjanjian dengan seseorang yang pastinya itu adalah musuh Kelvin.
Klara memilih diam bukan berarti dia tak ingin melindungi suaminya tapi Klara tak ingin menambah masalah yang bisa mempengaruhi kehamilannya, juga tak ingin ada salah paham antara dirinya, suaminya dan juga Aura. Namun semakin lama Aura semakin menjadi-jadi dan kebohongannya terus menerus berlanjut.
Namun tak menyangka Aura sudah bertidak terlalu jauh hingga ingin melenyapkan dirinya dan juga anakknya.
"Kenapa aku masih menginginkannya." gerutu Klara saat dirinya harus kehilangan roti yang ia cicipi tadi. Klara menoleh kearah Aura yang masih duduk di meja makan sambil menyantap roti hasil rampasannya dari tangan Klara.
Klara memutuskan untuk pergi ke toko roti untuk membeli roti yang sama dengan yang dimakan Aura, namun sayang hari ini bukan hari keberuntungan Klara, beberapa toko roti sudah kehabisan roti yang Klara inginkan.
Hati Klara benar-benar sedih, Klara berdiri di luar toko roti terakhir, ia pun menitikkan air mata, "Kenapa harus habis, tak bisakah mereka menyisakan satu potong saja untukku, anakku menginginkannya."
Tiba-tiba Sebuah tangan merangkul pundak Klara, "Katakan padaku, siapa yang sudah membuat istri Kelvin Casandro ini, nekat pergi keluar rumah dan menangis di depan toko roti." Dengan tenang Kelvin bertanya pada Klara yang sedang terkejut dengan kedatangan suaminya secara tiba-tiba.
"Aku ingin makan roti tapi semua toko roti sudah kehabisan roti yang aku inginkan, bagaimana aku tak sedih mas, mereka yang menginginkan." Klara menarik tangan kiri Kelvin dan meletakkan diperutnya menunjukkan bahwa yang menginginkan adalah anak-anaknya.
Kelvin tersenyum mendapati tingkah istrinya, "Baiklah karena anakku yang menginginkannya, kita kan minta patissier terbaik untuk membuat kue yang di inginkan." Kelvin pun segera menghubungi Akas untuk mencarikan patissier atau pembuat kue terbaik yang ada untuk membuatkan roti yang di inginkan Klara.
"Sekarang ikut mas, kita akan makan roti sesuai yang kamu inginkan."
Sambil menunggu Roti yang di inginkan klara yang di buat langsung oleh salah satu petisser terkenal dan khususkan untuk Klara.
"Makasih mas selalu ada buatku." Klara bersandar di pundak Kelvin.
"Kenapa kamu bertengkar dengan Aura, ada masalah apa antara kalian berdua?"
"Mas tahu darimana? apa Aura mengadu? apa mas percaya?" Klara menatap suaminya dan Ingin mendengar jawaban suaminya.
"Sayang kamu tahu kan, Aura kondisinya belum stabil, jadi jangan ambil hati perkataannya."
Mendengar jawaban Kelvin, hati Klara langsung hancur secara tidak langsung Kelvin lebih percaya pada adiknya ketimbang dengan dirinya.
Klara langsung bangkit berdiri dan ingin pergi bahkan sudah tidak berselera lagi untuk makan roti.
"Mau kemana kamu, bukankah kamu ingin makan roti." Kelvin menahan tangan Klara agar tak pergi.
"Lepaskan aku mas, aku ingin pulang saja, mas aja yang makan aku sudah tidak berselera lagi."
"Kamu kenapa, apa kamu marah padaku karena kamu pikir kalau aku percaya padanya? tidak sayang, aku kan tetap percaya padamu, apa yang kamu lakukan itu pasti ada alasannya sendiri. Hanya saja..."
"Hanya apa mas, lepaskan aku. aku gak butuh penjelasan apapun lagi. ucapan pertama mas sudah menunjukan pilihan mas." Klara pun memaksa untuk pergi, tak perduli beberapa orang memperhatikan pertengkaran kedua pasangan tersebut.
Kelvin pun mengajar Klara dan menahannya agar tidak pulang sendirian."Kita pulang bersama, mas gak akan tenang kalau kamu pulang sendirian.
Dengan terpaksa Klara pun pulang bersama Kelvin. Namun sepanjang perjalanan mereka berdua saling terdiam tak ada sepatah katapun yang mereka ucapkan sampai tiba di rumah.
Klara segera pergi ke kamar dan mengunci pintu kamar tak mengizinkan Kelvin masuk supaya tidak membujuknya yang bisa membuatnya luluh.
Di luar kamar berkali-kali Kelvin mengetuk pintu, namun sama sekali tak di bukakan Klara.
"Kak, kamu kenapa? apa bertengkar dengan kak Klara? apa itu karena aku? maaf kak, gara-gara aku kakak jadi bertengkar dengan kak Klara." Tanya Aura yang berdiri tak jauh dari Kelvin.
Kelvin berhenti membujuk Klara dan menatap adiknya itu, "Kamu tak perlu minta maaf, ini hal biasa dalam rumah tangga, nanti juga kami akan baikkan, sudahlah jangan pikirkan kakak, jaga baik-baik saja kandunganmu, jika butuh sesuatu bilang dengan kakak."
"Baik kak." Aura pun meninggalkan Kelvin dengan tersenyum menyeringai penuh kepuasan.
_TBC
...maaf, baru bisa update, soalnya ada pekerjaan yang harus di selesaikan dulu....
✔️ jangan lupa tinggalkan jejak