
Klara berusaha menjelaskan pada Kelvin namun Kelvin tak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari istrinya itu.
Setelah acara pesta selesai, Kelvin meminta Klara segera masuk kedalam kamar hotel tak di izinkan untuk keluar dari dalam kamar. Klara hanya bisa menurut dan tak menjelaskan apapun lagi.
Di dalam kamar Klara hanya bisa menangis, karena suaminya tak mau mendengarkan penjelasan darinya, padahal tak pernah terbesit di pikiran Klara membuat Kelvin cemburu.
"Mas Kelvin jahat, gak adil, kenapa harus aku terus yang mendengarkan penjelasan darinya, dan sekarang aku ingin dia mendengarkan penjelasan ku pun tak mau." Klara pun menangis seorang diri.
Kelvin menemui Davan di bar hotel dan di sana juga ada Akas, Andra, dan Reza yang sudah menunggu dirinya.
Kelvin menepuk pundak Davan, "Kerja bagus, kau sudah lulus ujian pertama." ucap Kelvin lalu mengambil sloki yang ada di tangan Davan dan meneguknya.
"Apa Klara tidak papa? sebenarnya aku merasa bersalah dengan kejadian tadi." Ternyata Davan sengaja menemui Klara dan semua atas perintah Kelvin karena suatu alasan.
"Tenang saja, dia tidak papa, aku hanya pura-pura marah saja dengannya dan beri sedikit pembelajaran buatnya." Kelvin ikut serta duduk bersama mereka.
"Kamu benar-benar parah Vin, sudah tahu istri sedang hamil dan sangat sensitif masih saja kamu kerjain." tegur Andra.
"Biarkan saja, nanti kalau dibalas istrinya juga dia sendiri yang repot dan ujungnya nyari kita, buat bantuin." saut Akas.
"Kalian tenang saja aku bisa ngurusi istriku. Oya gimana pesta tadi apa ada yang mencurigakan? aku tak bisa meremehkan orang yang sedang mengincar keluargaku."
"Aku tidak mendapati ada yang mencurigakan, dan sepertinya semuanya aman-aman saja."
"Iya, akupun sama, tidak melihat sesuatu yang mencurigakan."
"Tapi aku dari tadi kepikiran sesuatu, dan aku harap itu tidak terjadi." saut Davan.
"Apa maksudmu Van, apa yang kamu pikirkan, katakan apa yang kami lewatkan."
"Kado, mungkinkah seseorang menggunakan kado sebagai alat untuk mencelakai Klara, karena jika menyuruh seseorang pasti akan ketahuan kita, jika dalam bentuk kado tak akan ada yang tahu dan langsung tepat sasaran." jelas Davan.
"Itu bisa jadi Vin, lebih baik kamu segera temui Klara dan cek semua semua kado, segera hubungi kami jika ada yang mencurigakan." ucap Akas
Kelvin pun bergegas kembali ke kamar hotel dan berharap Klara dalam keadaan baik-baik saja. Sesampainya di depan kamar hotel Kelvin langsung masuk, dan mendapati Klara sedang tertidur dan begitu banyak tisu yang berserakan di lantai.
Mendapati istrinya tertidur dan belum membuka satu hadiah pun membuat Kelvin bisa bernafas lega.
Kelvin pun menci*um kening Klara sedikit lebih lama setelah itu ia menghampiri tumpukan kado yang sengaja disusun di kamar sesuai keinginan Klara.
"Maaf sayang sepertinya mas sendiri yang harus buka semua kadomu, hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja dan tidak ada ancaman apapun." ucap Kelvin sebelum membuka kado.
Kelvin pun membuka satu persatu kado yang diberikan untuk Klara, namun jika Klara tahu bahwa Kelvin yang membukakan maka akan ada perang dunia ke tiga.
Kelvin pun segera menghubungi Akas dan memberi tahu apa yang terjadi. Segera saja Akas menemui petugas keamanan yang memantau cctv dan untuk mengetahui pelakunya.
Setelah cukup lama memeriksa akhirnya didapat seseorang yang membawa kado sama persis yang di buka Kelvin, namun sayang tak bisa melihat wajah dari si pemberi kado walaupun sudah di zoom, tapi tetap saja tidak bisa mengenali wajahnya karena tertutup dengan masker.
Sedangkan Reza dan Andra memeriksa kembali buku daftar tamu dan semua yang datang tidak ada yang mencurigakan karena semua membawa undangan, dan itu berarti semua di kenal Kelvin.
Lagi dan lagi Kelvin harus kehilangan jejak untuk menemukan dalang di balik semua kejadian. Kelvin hampir frustasi karena ulah orang yang bermain-main dengannya.
"Sudahlah Vin, cepat atau lambat kita pasti akan menemukannya, yang terpenting istrimu baik-baik saja. Lebih baik sekarang kamu istirahat kita pikirkan besok rencana selanjutnya." Akas pun menasehati Kelvin.
Setelah kejadian itu, Kelvin kembali ke kamar dan masih mendapati istrinya tertidur, ia pun menyusul istrinya dan merebahkan tubuhnya di samping Klara dan memeluknya.
"Hampir... hampir saja sesuatu terjadi padamu sayang, aku hampir gagal melindungi kamu. Aku janji kesalahan ini tak akan terulang, aku akan lebih ketat untuk mengawasimu." Kelvin menci*um pucuk rambut istrinya sebelum ikut terlelap tidur.
Baru beberapa jam Kelvin tertidur sudah di bangunkan Klara dengan memukul tubuhnya dengan guling. " Bangun mas, apa yang mas lakukan, kenapa merusak kadoku. cepat jelaskan."
"Berhenti sayang." Kelvin menangkap guling yang dipakai buat memukul dirinya. Lalu menarik tubuh istrinya dalam pelukannya.
"Dengarkan aku sebentar." Kelvin berusaha menjelaskan namun klara yang sudah terlanjur marah tak mau mendengarkan bahkan sudah lupa jika Kelvin sedang marah dengannya.
Klara duduk di atas tubuh Kelvin, kerena perutnya yang buncit sangat sulit melakukan banyak pergerakan.
"Aku tidak mau tahu, apapun alasannya, mas sudah merusak semua kado milikku, mas harus menggantinya."
"Baiklah, mas akan ganti dua kali lipat semua kado yang sudah mas buka, maaf mas tadi malam terlalu penasaran dan gak ada kerjaan jadi mas iseng buka, rencananya cuma satu eh gak tahunya malah semuanya mas buka."
"Mas jahat, seharusnya jangan semuanya, itukan punyaku dan anak kita." Klara memukul-mukul dada bidang suaminya karena kesal.
"Itu kan masih ada yang belum dibuka, kenapa kamu sisihkan?" tanya Kelvin sambil menunjuk kado yang berada di sudut.
"Gak mau, aku gak akan buka kado darinya. Sampai kapanpun aku tak akan mau menerima apapun darinya bahkan donor darah darinya." Klara pun pindah posisi dan sekarang duduk di tepian ranjang.
"Memangnya kenapa dengan Anita, apa kalian saling kenal dan kenapa mas merasa istriku ini sangat benci padanya." tanya Kelvin pura-pura tidak tahu.
"Tentu saja aku kenal, dia saudaraku tapi aku sangat benci dia, dan mas, bagaimana mas bisa kenal dengan Anita? dia kan tidak tinggal di sini" tanya balik Klara membuat Kelvin gagap untuk menjelaskannya kalau sebenarnya kelvin lah yang mengundangnya.
"Eemmm, anu sebenarnya mas..."
"Sudahlah aku juga gak mau dengar apapun tentang dia lagi." Klara pun segera melangkah menuju kamar mandi, sedangkan Kelvin kembali menyelimuti tubuhnya dan lanjut tidur karena terlalu lelah.