Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Festival 3


Kerumunan tentu masih terjadi, semuanya begitu penasaran dengan sosok putri pendeta Ming yang menjadi buah bibir selama ini dan juga mengenai kebenaran nya. "Aku merasa terkejut dengan kehadiran mu bersama putrimu."


"Dan aku masih terkejut dengan maksud putrimu melemparkan pisau ke arah putriku."


"Rasanya mungkin ada kesalahpahaman disini, dan aku tidak bermaksud berkata demikian. Aku merasa karena kekhawatiran ku, membuat perkataan ku menjadi salah."


"Tapi aku rasa perkataan yang keluar adalah bentuk dari kebiasaan selama hayat." Wajah itu tampak tersenyum kecil, tapi tidak dengan hatinya.


"Kau tau benar bagaimana aku Ming, dan sepertinya kita saling tau sama lain. Bagaimana kalau kita bicarakan dengan baik-baik. Dan aku ucapkan selamat datang atas kehadiran putrimu, raja pasti senang dengan ini dan lihatlah keantusiasan yang lainnya mengenai kehadiran putrimu." Ming melihat sekeliling nya dan semua mata tertuju pada putrinya Mei.


Dengan naluri sang ayah, Ming membawa putrinya dibelakang tubuhnya. "Aku tidak mengatakan hal yang lain, selain bertanya alasan putrimu menyerang putriku."


"Ayah, dia menganggu ku dan lihat karena ulahnya tanganku jadi terluka." Adu sang putri kuning pada ayahnya.


"Putriku tidak mungkin menyerang tanpa alasan." Ujar Ming.


"Mungkin putrinya bersikap seperti kera yang baru keluar dan melihat tempat baru." Seorang warga yang berada di kerumunan mengeluarkan pendapat nya yang menambahkan bumbunya kejadian ini.


Mei yang mendengar ucapan buruk mengenai dirinya hanya diam karena prioritas nya adalah ayah dan anak dihadapannya saat ini. Sedangkan Siu sudah merasa gatal dengan orang yang menghina nona nya.


"Kalau begitu biar putrimu mengatakan yang terjadi juga. Kita saling mendengarkan cerita putri kita." Ming menatap putrinya dibelakang nya ditemani oleh Siu.


"Mei...."


"Apa putrimu grogi untuk bicara? Aku bisa maklum...."


"Apa di keluarga mu tidak ada pelajaran sopan santun? Pendeta?" Pertanyaan itu keluar dari bibir yang tertutupi selendang biru laut itu.


"Di keluarga ku, semua pelajaran begitu banyak diajarkan. Apalagi pelajaran sopan santun, itu adalah hal yang utama. Apa ada perbedaan diantara pelajaran di keluarga ku dengan ayahmu?"


"Ya." Jawaban singkat itu membuat pendeta Ryun tersenyum karena akan lebih mudah mempermalukan.


"Oh ya? Kalau ada kekurangan mungkin bisa belajar di kediaman ku, saling belajar itu hal yang bagus bukan? Bukan begitu pendeta Ming?"


"Tentu saja, tapi pelajaran sopan santun dari ayahku adalah yang terbaik karena putrimu sepertinya lupa akan bagaimana bersikap dengan orang yang lebih tua dan muda darinya. Itulah perbedaan nya."


"Apa maksudnya? Putrimu mempertanyakan integritas didikan ku?"


"Putriku mengatakan sesuatu tanpa kebohongan."


"Jadi maksudnya putriku yang berbohong? Putriku ini sangat lembut dan seperti kapas."


"Pantas saja dia langsung jatuh terkena selendang ku. Semuanya juga melihat, dan juga bisa ditanya, kecuali... Ada kebohongan disini." Manik yang hanya terlihat diantara bagian wajah itu membuat yang lainnya penasaran.


"Kau!" Ryun langsung menahan putrinya agar tidak berbicara lagi.


"Bukankah kau mengganggap ku berbohong? Kenapa tidak tanya pada putrimu?"


"Ming...." Sebelum Ming bicara, kerumunan langsung dipecahkan oleh rombongan raja.


"Raja memasuki area festival, semuanya memberi salam!" Ucapan yang begitu lantang serta tegas langsung menggema dan membuat kerumunan yang fokus pada pertikaian antara pendeta itu langsung berubah haluan seketika.


"Salam untuk raja, dan semoga panjang umur." Ucap semuanya.


Mei yang berada disana tampak mengangkat kepalanya untuk melihat sosok penguasa dinegeri ini.


"Ada apa ini? Pendeta Ming, pendeta Ryun, kalian sudah bertemu lebih dahulu? Aku dengar ada yang terjadi, bisa jelaskan?" Kedatangan sang raja tentu menimbulkan reaksi.


'Si@l, kenapa raja bisa kesini?'


'Dia tidak jauh berbeda dari ayah Vander. Semoga saja sikapnya juga sama, jika dilihat sepertinya begitu.' Mei tampak menelisik penampilan sang raja tanpa rasa takut.


Raja yang belum mendapatkan jawaban, langsung menoleh bergantian ke arah putri masing-masing pendeta. 'Itu dia...' Manik raja berhenti sejenak menatap si biru.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Xiong yang sudah tampak lelah berkeliling dengan pangeran nya langsung berlari karena segera menyusul pangeran nya yang sudah bak petir secepat kilat melangkah di depannya. "Ayo Xiong!"


"Astaga, kakiku bisa patah kalau begini."


"Mari panglima, raja sudah sampai di festival."


"Gara-gara wanita tak kasat pangeran , aku jadi begini. Bagaimana kalau dia benar-benar nyata? Aku mungkin tidak punya kaki setelah ini." Sambil menaiki kudanya, Xiong hanya bisa menggerutu.


"Jika aku menikah nanti, aku ingin wanita yang duduk manis dan hanya tersenyum padaku." Xiong tampaknya melamun memikirkan tipe istrinya nanti. Tapi ditengah lamunan itu, bayangan sentuhan kupu-kupu itu berputar di film lamunannya.


"Agh! Kenapa dia muncul?"


"Xiong kenapa kau berteriak?"


"Tidak ada pangeran, kakiku hanya kram." Sungguh Xiong menjadi kesal dan menghalau bayangan kupu-kupu yang menyentuh dirinya itu dari benaknya.


"Aku berharap aku tidak lagi bertemu dengan kupu-kupu itu juga.... Wanita berselendang merah makhluk halus itu! TIDAK!"


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.