Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Festival 1


Sesuai dengan hari yang dibicarakan, ketiganya sudah berada di jalanan menuju kota tempat istana. Sepanjang perjalanan saja, ketiganya mulai bertemu dengan orang-orang yang juga ingin ke kota. Selama perjalanan, tentu banyak orang dengan pakaian serta kendaraan berupa kuda atau kereta atau juga gerobak.


"Putri baba harus jalan kaki, tidak seperti yang lain. Maaf ya."


"Apa yang baba katakan? Kami tidak merasa begitu. Bukankah jalan kaki sangat sehat? Lagipula ditemani oleh pemandangan seperti ini dan juga baba serta Siu, apa yang lebih baik dari itu? Jika Mong sudah besar, kita mungkin bisa menaikkannya dan membuat yang lain jadi ketakutan."


"Nona benar, Mong pasti bisa mengangkut kita bertiga." Candaan kecil itu berhasil memecahkan rasa bersalah baba pada keduanya, bukannya dia tidak mampu membayar atau membuat kereta. Tapi apa yang telah menjadi kebiasaannya tidak bisa ia rubah begitu saja dan memiliki makna tersendiri didalamnya.


"Lagipula, aku yakin kota tidak jauh."


"Darimana nona tau?" Tanya Siu dengan penasaran.


"Tentu saja dari peta yang sudah aku liat semalam. Benarkan Baba?"


"Ya, kita melewati jalan yang singkat beda dengan yang lainnya."


"Wah, aku tidak merasakan begitu. Baba sangat hebat." Siu tampak menimpali dengan bibir cerewetnya dan juga keinginan tahunya.


Benar saja, perjalanan yang singkat serta pembicaraan yang menemani perjalanan mereka sudah membuat ketiganya berada di gerbang masuk. "Wah, kita sudah sampai."


"Sangat ramai, wah ada penjual permen!" Siu mulai dengan mode on anak-anaknya, sedangkan Tania melihat sekeliling tempat yang akhirnya ia masuki tanpa token.


"Kau senang?"


"Senang, ini sangat menarik. Ayo baba!" Tania tampak menarik tangan baba, tapi reaksi baba membuat Tania bingung.


"Kenapa? Apa...."


"Sebaiknya jangan, kalian jalan di depan. Baba akan memantau, orang-orang sangat ramai. Baba akan mengawasi kalian, tas kain baba cukup besar, pastinya menganggu langkah kalian. Ayo nikmati festival ini." Tania mengangguk saja sambil menggandeng tangan Siu dengan wajah yang tidak terlihat karena ditutupi oleh selendang biru tosca yang di wajahnya.


Tania dan Siu kembali melangkah setelah memasuki gerbang, begitu juga dengan orang-orang yang ikut masuk tak sabaran melihat festival ini. Begitu banyak jajanan dan juga lampion serta hiasan rumah dan tentunya yang paling disukai adalah perhiasan untuk wanita yang sangat cantik.


"Nona, ayo kesana! Aku ingin makan permen." Siu mengajak Tania ke kios permen, sedangkan baba mengawasi keduanya diantara orang-orang.


Ditengah keramaian itu, sepasang mata melihat kerumunan dan bersiap melaporkan dengan informasi yang didapatkan nya.


"Bagaimana?"


"Sesuai bayangan kita raja, pendeta Ming datang dengan putrinya, tapi ada dua orang gadis bersamanya. Hamba cukup bingung dengan yang sebenarnya."


"Bagaimana penampilan keduanya."


"Keduanya memakai penutup wajah dan hiasan yang sama."


"Rambut?"


"Juga sama raja." Tapi sang raja tampak tidak berputus asa dan terus menggali.


"Baiklah, pendeta Ming tidak berjalan beriringan bukan?"


"Tidak raja, pendeta Ming berjalan dibelakang keduanya. Tepatnya di gadis berpakaian biru seperti air dan bermanik seperti tembaga dihiasi cahaya."


"Kita temukan jawabannya, itu adalah putrinya. Segera lihat kembali dan aku akan segera kesana dan melihatnya nanti, ngomong-ngomong apa pangeran sudah siap?" Tampak pria itu ragu-ragu untuk bicara.


"Ampun raja, tapi pangeran lebih dulu pergi ke festival karena dia bilang raja sudah mengizinkan."


"Anak itu...." Sang raja hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah putranya yang berbeda ketika dalam pelajaran dan juga peperangan terutama akhir-akhir ini.


"Baiklah, periksa pendeta yang lainnya dan juga putri mereka, apakah mereka sudah datang atau belum. Ini sudah menjadi poin pertama, aku harap kau sudah paham."


"Tentu raja, hamba permisi."


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.