
Sajian lezat bewarna sangat cantik dengan aroma yang menggunggah itu belum juga kosong satu karena yang diberikan justru terlihatnya membatu. Myren masih diam bergeming sambil melihat dengan jelas wajah Tania yang bak dewi bunga dengan aroma yang sangat wangi.
Senyuman di wajah mulus, bersih meksipun tidak berkulit bak awan tapi sangatlah cantik dan memanjakan mata. Tidak ada satupun keburukan disana yang membuat mata hampir setengah abad itu tidak berkedip.
"Panglima besar?" Sapaan itu membuat dirinya segera tersadar. Tania yang masih tersenyum meletakkan sajian yang dibawanya dan duduk di posisinya.
"Maafkan keterlambatan ini. Karena mengambil makanan kecil ini untuk semuanya." Tidak lupa permintaan maaf Tania layangkan membuat Kaisar tersenyum mengerti.
"Ratu Tania itu tetap saja tidak diperbolehkan. Kau seorang ratu dan.."
"Seorang putri yang menyambut kedatangan keluarga nya. Ibu suri tidak lupa akan hal itu kan?"
Yuri meremas tangannya dibalik meja berhiaskan taplak mewah itu. Lagi-lagi, Tania terlihat lebih cantik dari nya, entahlah apapun dan bagaimanapun penampilan Tania terlihat lebih baik dari nya.
"Ayo, kita makan sekarang. Dan panglima Myren, nikmati sajian ini."
Mata nyalang Myren kembali menatap Tania yang sudah tentu membuat dirinya sangat kaget karena terakhir kedatangan nya. Tania seperti keledai dan hanya bisa merunduk bak bunga layu. Tapi sekarang, begitu cantik, bersinar seperti bunga yang baru mekar.
"Kakak?" Panggil Mita membuat Kakak nya itu melirik adiknya. Disela-sela makan bersama, ada sedikit perbincangan bukan, lebih tepatnya bisikan.
"Kakak lihat? Dia bahkan menegakkan kepalanya dihadapan semua orang." Lapor Mita membuat Myren terus memandanginya.
"Aku cukup kaget dengan penampilan ratu Tania sekarang. Tapi meksipun begitu... Seorang ratu juga berperan dalam mengerjakan tugas pelayan?" Dentingan sendok Tania terhenti. Hari ini ia akan membuat mulut penggosip itu berhenti menyiarakan kata-kata buruk untuk nya.
"Jadi... Jika seorang panglima turun langsung mengurus sebuah kuda yang liar, apakah dia disebut juga sebagai penjaga kuda? Atau ketika mengasah senjata kesayangannya, ia disebut sebagai ahli besi? Atau ketika mengobati dirinya sendiri, ia disebut tabib?" Seketika semuanya terhenti makan dan saling diam sejenak.
"Itu sangat berbeda. Itu adalah sebuah keahlian dan kekuatan diri."
"Itulah yang ku maksud panglima. Wanita dengan jabatan apapun juga bisa memasak atau melakukan pekerjaan seperti seorang ibu lakukan? Bukankah Ibu dari ibu suri dan panglima juga turun langsung mengurus anak-anak nya? Apakah ia disebut juga dengan...." Tania tidak melengkapi ucapannya, karena sudah terlihat raut merah yang tercipta.
"Bukankah begitu Kaisar? Atau bagaimana pendapat raja bahkan ibu suri sendiri? Bukankah Ibu suri mengurus putranya raja Vanriel dengan memasak makanannya sendiri? Atau aku yang salah?"
"Itu sangat benar ratu Tania. Seorang ibu akan melakukan tugas seperti itu, tidak ada yang salah. Apa maksudnya mengatakan itu Vanriel?"
"Mungkin ratu Tania tidak menangkap maksud hamba dengan baik kaisar. Hamba mengatakan bahwa ratu Tania membantu tugas pelayan dengan membawakan makanan bukan memasak seperti seorang ibu atau istri."
"Iya, makanan kali ini sangat lezat suamiku, sepertinya tukang masak kita menciptakan resep baru." Tania belum bicara, karena ingin mendengar pendapat semuanya.
"Panggil tukang masak nya!" Yuri bak menantu istana, menyuruh pelayan untuk membawa kabar. Tidak ada yang menanggapi mungkin juga penasaran.
"Kau yang menangani sajian ini?" Tanya kaisar.
"Benar kaisar."
"Tentu saja suami ku, siapa lagi yang masak. Tania hanya membawa makanan ini saja dan cemilan manis ini, bukan begitu?" Tampak raut serta tatapan tukang masak itu melirik beberapa kali dengan mata berkedip seperti kebingungan.
"Tapi... Ini semua adalah resep dari ratu Tania, kami yang menjalankan atau membantu saja." Jawaban tukang masak itu membuat mereka semua tidak percaya, terlebih Yuri serta Ibu suri.
"Ratu Tania? Jangan bercanda! Kau diperintahkan untuk berbohong?" Mendapatkan ancaman membuat tukang masak itu berlutut.
"Ampun ibu suri! Tapi hamba tidak berbohong. Semuanya meyaksikan dan bisa menanyai mereka."
"Bangunlah." Pinta Kaisar yang melihat hasil militer istrinya.
"Tania, apa itu benar?"
"Iyaa ayah, aku menggunakan jagung hasil panen kerajaan kita yang melimpah untuk diolah menjadi berbagai makanan bahkan tepung jagung. Dan ....." Tania bertepuk tangan membuat Siu datang dengan sesuatu.
"Ini adalah hasil dari semua itu. Baik penjualan dan laporan kemana penyaluran nya. Aku minta maaf karena belum mendiskusikan tentang ini kepada ayah kaisar atau raja." Sekarang bukan makanan lezat itu lagi yang menjadi bintang utama melainkan koin emas yang menjadi alat transaksi kerajaan.
Bahkan bibir Ibu suri tidak bisa tertutup dengan rapi sambil menelan ludah melihat tumpukan koin itu. "Aku juga berniat dan sudah mulai memberikan arahan atau pengetahuan kepada rakyat mengenai ini."
"Ini merupakan inovasi yang sangat baik ratu Tania. Aku sangat bangga akan hal ini, meskipun caramu sedikit kurang karena terlebih dahulu untuk berdiskusi."
"Suamiku... Tapi tetap saja Ratu Tania harus mendapatkan sedikit hukuman karena bertindak semaunya."
"Hukuman apa yang ibu suri maksud?"
"Tentu raja paham akan hal ini." Vanriel yang sejak tadi belum bicara, karena begitu banyak hal yang melintas di pikirannya bahkan sudah macet parah.
"Mita, tidak ada hukuman untuk kebijakan yang baik." Melihat adiknya merasa diabaikan, Myren menatap Tania dengan nyalang dan tentu disertai sebuah rencana.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.