
Sosok yang biasanya menatap tajam dengan tubuh tegap sekarang hanya terbaring dengan mata tertutup, tidak ada luka, tapi tubuhnya sangat lemah. Alergi yang diderita oleh nya sangatlah berdampak negatif bagi tubuhnya meskipun serangan pertama.
Pipi yang dihiasi kemulusan itu akhirnya basah juga karena melihat pelindung nya hanya diam menutup mata. "Kakak...." Lirih Mita melihat kakaknya, merasakan ada seseorang didekatnya, perlahan tangan itu bergerak begitu juga dengan matanya.
Ketika mata itu terbuka, perlahan dengan jelas terlihat adiknya yang tengah menangis. "Apa ini air mata?" Suaranya terdengar pelan meksipun terdengar sangat jelas.
"Kenapa bisa begini?" Tanya Mita pada kakaknya, karena setahunya. Kakak nya itu tidak mungkin akan salah dalam memilih makanan apalagi berkaitan dengan alergi nya.
"Aku hanya memakan bubur yang dibawakan pelayan, dan minuman seperti biasanya. Selebihnya tidak ada lagi, apa mungkin...."
"Apa mungkin...." Seperti paham satu sama lain, Mita menatap kakak nya begitu juga dengan Myren.
Sedangkan di kediaman lain.....
Persiapan yang sudah dilakukan oleh Tania, mulai ia lihat dan periksa kembali. Ada Siu yang senantiasa menemani dirinya, bukan dengan raut biasa tapi dengan raut bahagia karena ratunya mencetak gol maut mengalahkan Ibu suri.
"Ratu, hamba sangat senang. Itu..... Sangat luar biasa, dan menjadi hari bersejarah bagi Ratu dan seluruh kerajaan." Tania hanya tersenyum kecil sambil menuliskan sesuatu yang membuat Siu jadi penasaran.
Gadis itu mendekat dan membuat Tania menatap nya sejenak karena merasakan goyangan ranjang ketika diduduki. "Apa yang ratu tulis?" Tania tidak mempermasalahkan sikap Siu karena bagi Tania gadis itu bukanlah seorang pelayan melainkan temannya.
Perlahan tapi pasti, Siu sudah terbiasa dengan ajaran Tania apalagi berkaitan dengan ketakutan tanpa alasan yang Siu lakukan. "Ini, aku ingin berencana membuat sekolah untuk wanita di kerajaan kita, ini akan menjadi realisasi dari perubahan yang ku lakukan. Dan nanti kau akan menjadi guru disana."
Mata dan wajah Siu langsung kaget mendengar penuturan ratunya, beberapa kali ia mengusap telinganya untuk memastikan pendengarannya.
"Kenapa? Kau pikir aku bercanda? Kau tidak suka? Atau...."
"Bukan begitu Ratu, tapi..... Hamba sangat jauh dari apa yang ratu ajarkan, bagaimana hamba bisa mengajarkan pada orang-orang nantinya?" Bukan apa-apa, tapi Siu tidak ingin mengecewakan ratunya serta membuat pemikiran orang-orang pada ratunya akibat ulahnya nanti.
Posisi duduk Tania yang tadinya bak orang belajar UN, sekarang berubah menatap Siu membuat gadis itu jadi berpikiran macam-macam. "Dengar! Jika sesuatu hal dilakukan dengan keyakinan dan berlatih dengan keras. Maka tidak ada yang mustahil, bukankah kau bilang ingin menjadi seperti ku?" Siu mengangguk cepat.
"Jika begitu, maka kenapa kau ragu? Lagipula sekolah itu tidak akan siap dalam waktu dekat ini, mungkin bulan depan. Karena aku akan pergi mengunjungi desa, kau tidak lupa kan?"
"Iya ratu, hamba akan berusaha sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan ratu. Hamba ingin melindungi ratu dari orang-orang yang jahat dan menjadi perisai ratu." Tania menepuk pundak Siu lalu melangkah menuju meja rias.
Ditengah keheningan itu, tiba-tiba saja terdengar suara besar denhan teriakan keras yang menggema di kediaman Tania. "Tangkap ratu Tania!"
Tania yang mendengar nya, terlihat berdiri dengan tenang tapi Siu mulai membuka pintu dan terlihat Ibu suri dengan raut wajah yang sangat marah dengan pengawal yang cukup banyak telah berbaris di belakangnya.
"Ibu suri, salam dari ku." Begitu tenang Tania menyapa mertuanya itu.
"Kau masih bersikap berpura-pura, kau meracuni kakak ku. Tangkap dia!"
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.