Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Dibalik Salju Turun


Musim telah berganti, biasanya udara yang hangat disapa mentari yang bertahta di langit kini menghilang untuk sejenak seolah memberikan celah kepada pemilik yang lainnya.


Udara terasa dingin dan orang-orang telah mengumpulkan kayu untuk menghangatkan tubuh mereka dan rumah mereka. Tak terkecuali, di istana yang juga dilanda oleh musim dingin. Bukan hanya makanan dan pakaian yang telah dipersiapkan, tapi juga kelahiran bayi yang akan menjadi tamu baru di istana.


Usia kandungan Mei yang sudah sembilan bulan, kini hanya menanti kelahiran bayinya. Beberapa kali ia mengusap perutnya yang sudah membesar itu dan juga membuat dirinya kesulitan beraktivitas.


"Salju yang turun mengistirahatkan bahwa keturunan pangeran akan segera lahir, putri." Siu datang dengan membawa minuman hangat berkhasiat untuk Mei yang saat ini berbaring duduk di ranjang menatap butiran salju yang turun menyapa tanah.


"Aku sudah bilang kau tidak perlu melakukannya. Kau juga sedang hamil saat ini, Siu." Mei memberikan tatapan perintah nya karena tampaknya Siu tidak mengerti juga. Mendapatkan tatapan seperti itu, ia justru hanya terkekeh.


"Aku masih sanggup kak, lagipula aku masih bisa bergerak leluasa." Jelas Siu karena kandungannya sedang berjalan 2 bulan.


"Ini yang terakhir." Siu menganggukkan kepalanya sambil melihat Mei yang menerima secangkir minuman hangat yang dibawakannya.


Sekarang keduanya melihat kolam yang biasanya menjadi tempat favorit Mei telah membeku karena musim. Ditengah jalanan putih itu suara kuda terdengar dan diatasnya tampak pria dengan pakaian tebal musim dingin nya yang tidak mengurangi kegagalannya, justru semakin tampak jelas.


Setelah meletakkan sang kuda ke kandang. Pria itu tersenyum menatap sosok di jendela yang searah Utara dari nya. Dirinya membawa kakinya menuju kesana dengan mata yang tak lepas pada sosok yang dirindukannya itu.


"Selamat datang kembali suamiku." Sebuah senyuman dari atas ranjang menyambut kedatangan nya.


Dirinya langsung mendekat dan memeluk tubuh istrinya yang beberapa hari tidak bertemu. "Bagaimana kabar mu sayang, apa anak kita baik-baik saja? Dia tidak membuat mu sakit kan?" Lee langsung menempelkan tangannya di perut buncit istrinya itu.


"Aku sangat merindukan kalian."Kepulan asap tampak muncul seiring pembicaraan yang keluar.


"Kami juga, kau sudah makan? Aku akan meminta pelayan untuk membawakannya." Ketika Mei ingin bangkit, Lee langsung menggenggam tangan istrinya.


"Tidak sayang, aku bisa nanti. Aku kesini ingin menghabiskan waktu bersama, kau tau beberapa hari pergi dari kalian membuat ku terasa sangat berat." Ucapan Lee membuat Mei tersenyum manis, menjelang dan ketika musim dingin, maka Lee akan pergi untuk melihat persediaan di beberapa desa.


"Aku bersyukur akan berada di sampingmu menanti kelahiran anak kita. Itulah yang aku pikirkan, apakah aku akan mendapatkan nya atau tidak?" Kembali bertemu karena berpisah beberapa waktu membuat Mei juga sangat merindukan suaminya itu.


Keduanya sejenak berpandangan sambil tersenyum satu sama lain, hingga Lee mengecup kening istrinya dengan sangat dalam dan dibalas oleh Mei di bibir. Tubuhnya tidak menampik sangat merindukan sentuhan suaminya, dan bukankah untuk melakukan hubungan akan membantu persalinannya.


Dan musim dingin pertama setelah pernikahan mereka menjadi saksi meleburnya mereka kembali menjadi satu. Keringat yang muncul membasahi kulit mereka, erangan panjang akhirnya terdengar dan Lee mendekap tubuh istrinya dengan hangat.


Mei yang merasa lelah akhirnya tertidur, tapi tak lama menjelang malam..... terdengar suara ringisan dan Mei merasakan ada sesuatu di perutnya.


Hingga akhirnya perutnya kembali mulas dan rasa sakitnya semakin bertambah membuat Mei kembali membangunkan suaminya. "Sayang, Lee!"


"Ada apa sayang, ada apa?" Lee yang mengumpulkan kesadarannya langsung memeriksa keadaan istrinya yang tampak meringis.


"Sepertinya aku akan melahirkan, tolong panggilkan tabib." Ucap Mei yang membuat Lee bangkit seketika dan terdengar perintah dengan suara keras dan lantang.


"Panggilkan tabib!" Salah satu prajurit langsung bergegas dan Lee kembali masuk melihat istrinya.


"Berbaringlah, aku akan....." Lee memakaikan penutup untuk tubuh istrinya dan dirinya juga yang tidak tertutup sempurna.


Sambil membantu posisi istrinya, Lee merasakan ada cairan yang mengalir diantara paha istrinya. "Lee, sakit...." Cicit Mei dengan nada kecil.


"Tabib akan segera datang, bertahanlah sayang!"


"Tabib!" Tampak wanita yang cukup tua langsung masuk dengan beberapa pelayan.


"Cepat siapkan air!" Titah tabib itu kepada yang pelayan.


Lee menjadi mundur karena istrinya sedang ditangani, tangannya yang digenggam erat oleh Mei tampak tidak mau dilepaskan.


"Sayang, aku akan....."


"Tetap disini, aku ingin kau tetap disini." Ditengah rasa sakit yang mendera, Mei tidak mau melepaskan genggamannya kepada sang suami.


"Pangeran bisa tetap bersama Putri." Tabib itu seolah mengerti dan membiarkan Lee tetap disana.


Setelah air yang dibutuhkan siap, tabib mulai melihat pembukaan pada Mei di hadapannya. "Lee, sakit!" Cakaran di tangan Lee begitu kentara seolah Mei menyalurkan rasa sakitnya.


Lee melihat wajah Mei yang didera rasa sakit luar biasa sehingga ia tidak masalah jika ada luka di tubuhnya. "Aghh!"


Bersambung.......