
Seketika ketegangan yang sudah terjadi menjadi bertambah karena kelakuan yang dilakukan Mola. Tangisan yang sebelumnya sudah mengalir sekarang menjadi bertambah deras melihat putrinya terbaring tak berdaya.
"Bagaimana keadaan putriku? Katakan, putriku baik-baik saja kan?"
"Nona Mola meminum racun dan untung saja segera ditangani. Hamba akan menyiapkan ramuan untuk penetralisir nya. Kita lihat keadaannya dalam beberapa jam ini." Sang tabib langsung pergi dan tak lama Azar datang bersama raja dan tentunya sang istri langsung berhambur mengadu mengenai keadaan putri mereka.
"Mola, putri kita...."
"Dia akan baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Kenapa bisa begini? Bukankah dia dalam pengawasan?" Tanya raja yang membuat wanita dengan wajah yang sudah basah itu memulai pembicaraan.
"Ya, tapi tangannya lebih cepat. Putriku meminum racun..... raja,kau ......"
"Istriku." Dengan cepat, Azar menghentikan ucapan istrinya yang mungkin akan menjadi buruk nanti.
"Kau berpikir aku yang membuat dia mengambil pilihan ini? Ini hanya membuat ku berpikir, dia memang melakukan semuanya dengan sengaja. Azar, aku akan memikirkan ini kembali." Setelah mengatakannya, raja langsung pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Mei langsung bangkit setelah melihat kedatangan suaminya. "Lee, apa yang terjadi?" Tanya Mei segera dan melihat hal itu, Siu bersama pelayan lainnya keluar memberikan ruang untuk keduanya.
"Duduk dulu, aku akan ceritakan." Lee yang melihat kegelisahan istrinya menenangkan istrinya agar tidak terjadi masalah pada istri dan anaknya.
Mei tidak berkata apa-apa, ia menunggu suaminya yang akan bercerita.
"Ada masalah, ayah belum bisa memutuskan."
"Kenapa? Apa dia berkilah? .... Tidak... Orang tuanya?" Tebak Mei yang membuat Lee mengangguk.
"Saat usia ku lima tahun, aku digigit oleh serigala. Saat itu cuaca yang buruk serta luka yang aku derita membuat keadaan ku semakin parah. Ayah dan ibu mencari pertolongan ditengah badai itu. Hampir dua hari, belum ada perkembangan apapun, badai salju yang besar membuat jalanan sulit dilalui dan juga tak ada tanda-tanda penduduk yang bisa dimintai pertolongan. Meksipun ayah ku seseorang yang berkuasa tapi ia tidak bisa melakukan apapun saat itu. Hingga ditengah rasa putus asa bercampur dengan keyakinan, seorang pria yang tengah mengumpulkan kayu bakar melihat kami. Ayah langsung meminta pertolongan untuk diriku, dan di rumah yang diterpa badai salju itu aku diobati. Kedua orang tua ku tak henti-hentinya berdoa agar aku membaik, luka ku segera dijahit dan itu berhasil mengentikan pendarahan yang ku alami. Beriringan dengan perginya badai, aku ikut selamat dari kematian, ayah yang merasa bahagia memberikan janjinya kepada pria yang merupakan kepala desa itu yang ternyata adalah...."
"Ayah Mola." Lee mengangguk mendengar ucapan istrinya.
"Jadi apa keputusan ayah?"
"Aku belum tau, jujur saja.... Aku tidak bisa memaafkan Mola yang ingin menghabisi mu, aku tidak bisa. Meskipun ayahnya memberikan ku kehidupan." Mei yang melihat kobaran api dari suaminya mencoba menenangkan Lee.
"Kita tunggu keputusan ayah. Aku yakin dia akan mempertimbangkannya, kita tidak bisa mengambil keputusan. Meskipun kita mau, amarah tidak bisa menyelesaikan masalah."
"Kau memaafkannya?" Giliran Lee yang bertanya pada istrinya, tapi Mei seolah memikirkan hal lain dan hanya tersenyum sambil memeluk suaminya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ruangan yang hanya diisi oleh sosok penghuni di ranjang itu akhirnya terbuka perlahan. Setelah mengedarkan pandangannya melihat seisi kamarnya, tubuhnya yang terbaring sekarang bangun.
"Keluar lah!" Tak lama, keluar sosok gadis berpakaian pelayan yang memberikan salam nya.
"Kerja bagus, segera isi lagi. Sandiwara ku masih belum berakhir."
"Baik Nona." Setelah selesai, gadis pelayan itu segera pergi setelah meninggalkan minuman untuk atasannya.
"Ini baru mulai Mei. Kau pikir aku akan mati secepat itu? Tidak! Selama kau hidup, maka aku juga akan hidup." Mola tersenyum sambil merapikan dirinya untuk adegan berikutnya.
Tapi ketika dirinya akan memejamkan matanya, seseorang membuat maniknya membesar. "Aku senang kau sudah sembuh."
"Kau...."
"Bola matamu bisa keluar, berbaring lah. Kau pasti membutuhkan istirahat."
"Kau ingin mengadukan aku?"
"Pikiran mu pendek rupanya. Aku tidak akan berteriak dan mengatakan bahwa kau hanya berpura-pura mengundur waktu." Mola tersenyum melihat kedatangan Mei dihadapannya.
"Kau berani juga. Kau tidak takut aku bisa menghabisi mu disini?" Mola menyingkirkan selimutnya dan mendekat ke arah Mei.
"Tapi nyatanya kau tidak bisa." Mei tersenyum mengejek membuat Mola berubah kesal.
"Kau!" Mola dibuat terdiam dan pergerakannya terhenti ketika tangannya digenggam erat oleh Mei.
"Jangan mencoba melakukan sesuatu yang mungkin akan kau sesali Mola. Sejak awal aku tidak heran, kau melakukan semuanya. Aku diam, bukan berarti aku tidak tau. Kau pikir aku wanita yang akan diam saja dengan yang kau lakukan ini?"
"Putri pendeta yang tinggal di hutan tidak pantas menjadi istri dari Lee!"
"Lalu apa wanita seperti mu yang pantas? Wanita yang hidup dan dibesarkan di kota dan didik dengan guru terbaik nyatanya kalah dengan putri pendeta ini." Pisau yang dilayangkan oleh Mola tiba-tiba tentu langsung dihindari oleh Mei.
'Apa dia tau akan hamil? Kenapa dia terus menyerang perut ku?'
"Lemparan pertama gagal, tapi mungkin setelah ini akan berhasil menancap di perut mu itu!"
"Aghhh!" Suara teriakan dan bunyi yang lainnya membuat beberapa orang yang akan masuk langsung mempercepat langkah mereka dan ketika pintu terbuka mereka semua terkejut dengan adegan di depan mereka.
"Mei!"
"Mola!" Semuanya menyuarakan suara mereka sambil mendekat.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ibu.... Aku ...." Mola tampak gugup dan membeku karena dirinya tengah beradegan yang akan membuat dirinya semakin bermasalah nanti.
Bersambung.......