Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Pengantar Makanan


Entah apa yang terjadi pada istrinya itu, sehingga Lee tidak mengenalinya. Bagaimana tidak, Mei terlihat brutal menyerang dirinya, bukannya Lee tidak suka, tapi di tengah sore hari ini dan ditambahkan dengan ruangan yang bagi Lee tidak cocok dan aneh.


"Sayang, kita ke kamar saja ya." Bujuk Lee.


"Kenapa? Kalau ke sana aku berjalan lagi. Kakiku masih terasa lelah." Mei bicara dengan nada serta ekspresi yang berbeda.


"Aku akan menggendong mu. Suamimu ini kuat Putri Mei."


"Benar, aku sudah mengenalnya dengan baik dan melihat kekuatan hebat suamiku ini. Karena ini, ayo perlihatkan pada istrimu ini, pangeran." Mei mulai menjalarkan tangannya untuk melepas lapisan penganggu yang melekat pada tubuh suaminya.


"Sayang...." Dan Lee tentu tidak bisa bicara lagi, karena Mei sudah membungkam bibir yang sejak tadi memprotes dirinya itu.


Dan sekarang bisa dipastikan, Lee tidak menggunakan logikanya lagi dan permainan panas itu segera dimulai.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Jalanan yang dihiasi dengan bebatuan indah dan tampak seragam serta dikelilingi oleh rerumputan itu dilangkahi kaki yang terbiasa melangkah cepat itu.


Sambil kakinya melangkah, tangannya memegangi beberapa dokumen yang harus segera dicap stempel istana. "Kemana pengawal? Kenapa terlihat kosong?" Xiong tampak kebingungan karena tidak menemukan pengawal yang bertugas.


Karena tidak mau memusingkan kepala nya, ia segera menuju ruangan itu, tapi kakinya seolah terasa membatu. Perlahan tapi pasti, Xiong kembali mundur dan menjauhi ruangan ini berserta halamannya.


"Seharusnya sudah kuduga. Apa pangeran tidak memiliki waktu lagi? Atau panas mereka begitu membara setelah kehilangan matahari? Aku bisa tidak waras dengan ini." Sambil terus menggerutu Xiong menuju ruangannya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Wajah cantik itu langsung tertawa kecil dan menatap wajah suaminya. "Tapi sungguh, akhir-akhir ini aku merasa panas diriku tak terkendali sayang."


"Tabib mengatakan, untuk beberapa waktu ini kita harus mengatur pertempuran kita sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu dan calon anak kita. Aku bisa menahan diriku, tapi ketika pertempuran sudah terjadi, aku tidak bisa sayang. Apalagi dirimu, ketika bermain semuanya berguncang hebat." Mei semakin tertawa mendengar ucapan suaminya.


"Ada apa? Kau memikirkan apa sayang?"


"Aku rindu baba, apa boleh aku mengirimkan surat?"


"Tentu saja, baba pasti senang dengan berita ini." Mei memeluk suaminya dan satu hal yang Mei rasaku perbedaan besar saat ini adalah, ia lebih suka menghirup aroma tubuh Lee lebih lama dan setiap saat.


"Aku mencintaimu."


"Aku sangat mencintaimu." Keduanya berpelukan erat dan tak lama makanan yang diminta oleh Lee akhirnya datang juga.


"Sebentar sayang, aku akan buka pintunya." Mei mengangguk dan Lee segera turun dari ranjang mereka dan menuju pintu kamar yang mereka tutup dengan baik.


Dan ketika pintu terbuka, terlihat seorang pelayan wanita yang membawa nampan makanan. "Salam pangeran." Terdengar salam sapa dari pelayan itu serta gerak-gerik nya.


"Semuanya sudah lengkap?" Tanya Lee sambil melihat makanan itu.


"Sudah Pangeran, dan ini adalah makanan untuk putri Mei." Dari dalam, Mei bisa mendengar suara dan percakapan yang terjadi di pintu itu.


"Baiklah. Berikan padaku, kau boleh pergi." Ketika pelayan itu ingin pergi, Mei tiba-tiba sudah muncul dan membuat Lee cukup kaget.


"Tunggu dulu, kenapa kau yang mengantarkan? Kemana Siu?" Tanya Mei yang membuat pelayan itu tampak diam sejenak.


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.