
Perjalanan yang dimulai dari matahari baru menyapa sekarang sudah mulai berada di atas kepala. Kereta yang membawa Yuri tiba-tiba berhenti membuat pergerakan kuda raja dan ratu itu juga ikut terhenti.
"Raja, tuan putri Yuri meminta berhenti." Penuturan itu tentu saja membuat Tania hanya menatap drama apa yang dimulai oleh wanita calon madu nya itu.
"Ada apa putri Yuri?" Tanya Vanriel menatap kekasihnya itu keluar dari kereta.
"Aku sangat haus raja. Kebetulan wilayah ini memiliki sumber air yang begitu bersih dan sangat menyegarkan, aku ingin minum air itu. Tidakkah raja merasa begitu? Perjalanan kita sudah cukup jauh, tidak ada salahnya berhenti sejenak."
Mendengar penuturan Yuri, Vanriel terlihat setuju dan dari pandangannya ada beberapa botol air untuk cadangan yang kosong. "Prajurit, pergilah isi air! Dan yang lainnya boleh istirahat." Titah Vanriel langsung dilaksanakan oleh prajuritnya.
"Ratu Tania, kau juga istirahat." Tania tidak membalas, ia hanya turun dan menuju pohon tempat teduh mereka.
"Duduklah disini raja, jangan jauh-jauh dariku!" Tanpa malu, putri itu menarik tangan Vanriel untuk berdekatan dengannya. Sedangkan Tania, antara tuli dan tidak peduli karena maniknya menatap hutan lebat yang sama hijau dan menjadi lalu lintas burung yang indah.
'Kenapa dia tidak bereaksi?' Yuri terlihat bertanya-tanya, tapi dirinya tidak akan menyerah begitu saja.
"Pohon yang meneduhkan ini membuat hatiku juga begitu ketika melihat dan bersamamu. Aku jadi ingat saat pertemuan kita yang akan duduk dan menikmati waktu bersama di bawah pepohonan." Bukan hanya gaya bicaranya yang terdengar mendayu bak penyanyi dangdut di telinga Tania, tapi juga ekspresi Yuri yang tidak enak dipandangnya bagi Tania.
"Kalau di pohon terus, nanti bisa berubah-ubah menjadi ular atau ulat bulu. Jikalau sudah berubah, bisa jadi gatal!" Yuri yang mendengar ucapan Tania tentu saja jadi meradang.
"Apa, ulangi lagi!" Vanriel mengamati keduanya, Tania yang terlihat tenang bahkan seolah tidak peduli dengan kedekatan dirinya bersama Yuri. Bahkan, masih jelas dalam ingatan Vanriel ketika dirinya menghabiskan waktu bersama Yuri, maka Tania juga akan mencari perhatian nya dengan tindakan bo*ohnya.
"Hentikan! Kita beristirahat bukan berdebat. Yuri jaga sikapmu disini dan ratu Tania kendalikan bicara mu, itu bukan bicara seorang ratu."
Tak terasa prajurit yang bertugas mengambil air sudah datang, dan segera diberikan kepada junjungan mereka. Tenggorokan yang merasa kering itu segera basah dan menyegarkan ketika aliran air itu melewati sistem pernapasan mereka.
"Sangat menyegarkan, rasanya udara panas di sekitar ku langsung hilang!" Yuri seolah menekankan kalimat yang ditunjukkan untuk Tania.
"Sebaiknya kita segera jalan. Kalau tidak kita akan kemalaman, hutan tidak baik untuk bermalam."
"Apa ratu ini takut dengan hutan?" Tania yang memasukkan botol minumnya terhenti sejenak.
"Tuan putri Yuri lupa, aku mendapatkan hadiah bermalam dan berlibur di hutan lalu dijemput dengan istimewa ke istana. Atau tuan putri sendiri yang tidak suka, karena tidak ada kemewahan di sana seperti penginapan."
"Siapa bilang? Sejak kecil, aku sudah dilatih hidup di hutan untuk bertahan hidup! Ingin lihat?"
"Sudah! Kita lanjutkan perjalanan. Ayo ratu." Entah angin apa, Vanriel merapikan anak rambut Tania yang terlepas dari ikatan rambutnya membuat Yuri panas dan Tania hanya menatapnya sedangkan Vanriel menatap manik itu seolah mencari sesuatu.
Ditengah cinta tak jelas itu, terdengar suara langkah kaki yang jelas dibalik pepohonan membuat semuanya langsung sadar dan waspada.
"Perampok!"
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak