Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Penghuni Goa


Setelah memastikan keadaan aman, terutama dari kepala desa Tania kembali melanjutkan penjelasannya. "Jika kita melakukan penyerangan dengan para pengkhianat itu nanti, mereka bisa menjadikan warga desa sebagai tawanan dan membuat kita tersendat. Karena itu kita latih warga desa terlebih dahulu setidaknya menggunakan alat-alat yang ada serta menggunakan perangkap. Tapi yang jelas, untuk anak-anak perlu pengamanan yang ketat. Dan ya, prajurit yang dikirim kesini jangan menggunakan pakaian khas kerajaan kita."


Sepertinya Vanriel menangkap maksud istrinya. "Jadi mereka menyamar? Agar lebih mudah kesini tanpa kecurigaan." Tania mengangguk mendengar penuturan Vanriel.


"Ya, dan sebaiknya kirim prajurit tidak bersamaan, kirim per kloter dengan jumlah yang ditentukan. Karena itu kita perlu membuat pesan dengan jelas ke istana sehingga hanya perlu satu kali kirim. Desa ini mungkin tanpa kita sadari sudah berpindah tangan."


Tania memberikan lembaran kertas kepada Vanriel, segera disambut oleh Vanriel. "Aku mulai." Baru saja Vanriel berniat menjalankan tintanya, tangan kuat berbalut lentik itu menghentikannya.


"Apa? Ada yang kurang." Tania belum menjawab, maniknya menatap kertas Vanriel, wajah cantik yang serius itu tiba-tiba tertawa membuat Vanriel makin bingung.


"Bagaimana kau akan menulis, kalau tintanya belum dituang? Lihat kuas nya bahkan kering. Hahaha." Vanriel tentu malu bukan main tapi wajah nya menjadi terkesima melihat tawa lepas Tania pertama kalinya.


"Ada-ada saja, perutku jadi sakit." Tania segera menormalkan wajah nya kembali.


"Biar aku tuangkan. " Tania menuangkan cairan hitam untuk menulis itu dan tentu saja menjadi tontonan lagi bagi Vanriel.


Wajah cantik yang terkena cahaya lentera membuat ke glowing dan bersih bak cahaya itu tampak menghipnotis manik Vanriel.


"Sudah, tulislah!" Acara yang tadinya menyegarkan manik Vanriel terhenti menjadi iklan senggolan Tania.


"Iya, aku akan menulisnya." Tania memberikan waktu kepada raja itu untuk menulis sedangkan dirinya keluar melihat langit malam.


"Hah, aku jadi rindu menonton drama ku. Ranjang ku dan juga ponsel ku serta para fans yang selalu hadir di sosmed ku." Jujur saja Meysa merindukan kehidupan modern nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Bak anak ayam yang diajari induknya cara membuat minuman, Yuri melakukan nya dengan baik. Pikiran akan khasiat ramuan ini akan menjadi malapetaka tak berkesudahan yang akan menghantuinya kehidupan Tania untuk selamanya. "Setelah ini kau tidak akan pernah menjadi Ibu Tania, dan siapa yang mau dengan wanita cacat?" Yuri sudah tidak sabar rasanya.


Sedangkan sepasang suami istri itu saling berpandangan melihat rencana mereka mengikat boneka sudah berhasil. "Sekarang tuan putri bisa berikan, tentunya dengan tiga cangkir tidak akan membuat kecurigaan Putri."


"Kau benar, setelah berhasil aku akan berikan uang yang banyak untukmu!" Janji Yuri yang membuat mata Rola membulat membayangkan jumlahnya.


"Terimakasih tuan putri." Yuri mulai melangkah keluar menuju tenda sambil membawa minuman itu. Saat langkahnya berada di persimpangan pintu keluar, manik Yuri menjadi penasaran dengan sebuah kamar di sudut kanan nya.


"Ruangan apa itu?" Gumamnya penasaran, karena rasa penasaran yang menggebu Yuri mencoba melangkah kesana tapi sayangnya Rola datang terlebih dulu.


"Putri, ayo segera. Nanti terlalu malam." Yuri mengurungkan niatnya dan menuju tenda segera.


Kepala desa menarik tangan istrinya membuat Rola kaget. "Apa? Kau ini membuat ku jantungan!"


"Sebentar lagi aku akan keluar, karena golden meminta bertemu sekarang."


"Apa? Kenapa berubah?"


"Aku juga tidak tau, karena itu urus raja dan yang lainnya. Kalau tidak, bisa jadi masalah baru."


"Iya, kau tenang saja."


🌟🌟🌟🌟


"Oh ya, dimana Tania? Bukankah ia disini?"


"Dia diluar, kau tidak lihat?" Tanya Vanriel balik.


"Tidak, karena itu aku tanya, apa ia sudah tidur?"


"Aku akan melihat nya...."


"Jangan, aku saja. Kau lakukan saja pekerjaan mu sayang." Yuri mencolek dagu Vanriel lalu melangkah pergi, entah mengapa tingkah Yuri yang biasanya membuat Vanriel suka justru sekarang hambar.


Di luar.....


Ekspresi ceria yang tadi ditunjukkan nya langsung berubah menjadi kesal apalagi mencari keberadaan Tania. "Dasar! Menyusahkan saja, kemana dia? Pokoknya aku tidak boleh gagal!!" Yuri menuju tenda Tania yang dijaga beberapa pengawal.


"Apa ratu Tania di dalam?"


"Tidak tuan putri, ratu tidak kembali ke tenda, bukannya tadi bersama raja." Jawaban pengawal tentu membuat Yuri bingung.


"Lalu kemana dia?"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kepala desa yang sudah menutupi wajahnya dengan secarik kain hitam berjalan ke arah timur, sambil memastikannya keadaan ia melangkah dengan segera tanpa suara.


Tangannya segera menarik sebuah stalagtit dengan bantuan penerangan, dan tak lama goa itu memperlihatkan sebuah ruangan lain. "Akhirnya kau datang juga, katakan apa yang terjadi?" Tampak pria bertubuh besar dengan luka di pelipisnya duduk di kursi kebesarannya.


"Ampun golden, raja mendatangi desa."


"Bukankah itu sudah biasa, kenapa sekarang masalah? Dan aku dengar satu titik susunan batu kita sudah dibongkar, bisa kau jelaskan?" Kepala desa menelan ludahnya sebelum menjawab.


"Itu masalahnya golden, kali ini raja tidak datang sendiri, tapi bersama ratunya. Dan ratu itu sepertinya berbahaya golden. Belum beberapa hari, ia sudah mengaliri desa kembali."


"Boodoh! Melawan wanita saja tidak bisa, apa aku perlu memotong satu jari mu?"


"Ampun golden, tapi sungguh ini bukan wanita biasa, hamba dapat merasakan sesuatu darinya. Pemikirannya tidak bisa terbaca golden." Pria itu tampak berpikir, mendengar penjelasan kepala desa yang bersimpuh ketakutan dihadapannya.


"Ad, pergi bersama pecund@ng ini ke desa dan lihat ratu itu! Aku ingin tau bagaimana sosok ratu bisa menghalangi rencana kita."


"Baik golden."


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.