Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Sang Buah Bibir akhirnya Datang


Toko pakaian yang dikerumuni oleh orang-orang adalah hal yang biasa bukan, tapi bukan untuk membeli. Tetapi ramai karena keributan di tempat itu. Orang-orang menjadi penasaran dengan yang terjadi disana terutama dengan pertikaian yang terjadi antara dua wanita yang satunya menyalahkan seorang wanita tua bersama cucunya dan satu lagi membelanya.


Sesaat sebelumnya.....


"Dasar buta! Apa kau tidak mengajarkan sopan santun kepada cucu mu? Lihat! Bajuku jadi kotor."


"Maaf Nona, tapi cucuku tidak sengaja, mohon berbelas kasihlah." Tampak wanita renta itu membungkukkan tubuhnya yang sudah tidak tegap lagi.


"Apa ketidaksengajaan itu bisa mengembalikan pakaian ku? Bahkan menjual rumahmu saja tidak akan bisa mengganti pakaian ku ini."


"Aku sudah meminta maaf Nona, kenapa kau terus memarahi nenekku? Bukankah nenekku adalah yang lebih tua, seharusnya lebih dihormati." Tampak cucu perempuan itu membela neneknya yang hanya menjadi tontonan tanpa pembelaan dari orang-orang sekitar.


"Ini lagi! Kecil-kecil sudah berani melawan ku. Apa kau tidak tau aku siapa? Hah!" Telinga kecil itu tampak dipelintir hingga membuat gadis kecil itu teriak kesakitan.


"Ini balasan karena..."


"Apa keluarga terhormat bisa berbuat sesuka hati?" Sebuah tangan langsung memutuskan aksi kejam itu yang membuat sang cucu langsung kembali ke pelukan neneknya.


"Aku tidak memiliki urusan denganmu, apa hak mu ikut campur."


"Tadinya bukan urusan ku, tapi sekarang menjadi urusan ku karena berkaitan dengan yang lebih tua dan juga anak kecil. Apa begini cara mu memperlakukan mereka?"


"Kau akan berpikir ulang untuk bicara padaku setelah tau siapa aku."


"Begitukah? Aku tidak peduli kau dari bangsawan mana, yang jelas.... Aku mempertanyakan ajaran yang didapat oleh keluarga bangsawan atau terhormat seperti mu ini dalam bersikap pada orang lain."


"Aku mengerti sekarang, kau sepertinya berasal dari kalangan yang sama. Dan harus diberi pelajaran juga!" Ketika tangan wanita berpakaian kuning itu siap menampar, sebuah kain biru langsung menepisnya.


"Aghh!" Teriaknya karena tangannya lumayan sakit akibat sentuhan selendang itu.


"Kau!" Sekarang mata yang tadinya menatap rendah berubah menjadi tatapan maut karena merasa dipermalukan.


Ketika sebuah kayu pajangan ingin dilemparkan ke arahnya, justru berlainan atau dan membuat kehancuran yang lumayan di toko itu. "Aghhh! Teriakkan dari orang-orang yang melihat langsung terdengar dengan adegan itu.


"Ketika tidak mampu melawan orang yang sepadan denganmu, kau mencari lawan yang tidak bisa berbuat apapun? Sangat menyedihkan...."


"Kau pikir aku takut?"


"Aku tidak bilang begitu, kau yang bilang."


"Beraninya kau melakukan ini pada nona kami...." Sepertinya para pelayan itu tidak suka dengan kejadian ini dan ketika mereka melakukan serangan ala ibu-ibu mengejar diskonan, semuanya langsung tidak berkutik ketika gentongan kecil pewarna kain mendarat di wajah mereka.


"Wajahku!"


"Lain kali, bersikaplah dengan baik. Setinggi apapun dirimu, sopan santun jangan dilupakan. Dan begitu juga dengan kalian semua yang hanya menjadi penonton saja. Apakah kalian akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi kepada keluarga kalian?" Semuanya hanya diam tanpa bicara.


"Berdirilah nenek, tidak perlu membungkuk untuk orang yang otaknya tidak ada."


"Terimakasih Nona cantik." Gadis kecil itu tersenyum menatap wanita berpakaian biru laut dihadapannya.


"Kau sangat hebat. Kau melakukan apa yang seharusnya."


"Ini untuk Nona cantik." Gadis kecil itu memberikan sebuah gelang dan memakaikannya ke tangan nona cantik.


"Terimakasih." Diantara adegan indah itu, tentu saja si kuning tidak terima dan dengan perlahan-lahan mengambil sebuah pisau yang tak jauh darinya dan melemparkannya hingga menuju si biru.


"Baba!" Panggilan itu disertai dengan kehadiran baba dan Siu yang datang dan tangan baba yang menangkap pisau itu.


"Kenapa kau ingin mencelakai putriku?" Belum sempat si kuning menjawab, seorang pria dengan pengawal nya datang dan membuat suasana semakin runyam.


"Ayah!"


"Putriku! Apa yang terjadi padamu?" Tanyanya sambil memeluk putrinya yang begitu kacau.


"Ini semua karena dia!" Tunjuk nya langsung kepada si biru yang membuat ayahnya langsung menatap tajam ke arah yang ditunjuk putrinya.


"Beraninya kau, apa kau tidak tau aku ini? Dan putri siapa kau sehingga berani berbuat demikian kepada seorang putri pendeta."


"Dia adalah putriku, apa yang ingin kau lakukan?"


"Ming? Dia putrimu?" Tentu saja kerumunan yang masih belum bubar, karena mendengar kata putri dari pendeta Ming yang menjadi buah bibir.


"Putri pendeta Ming?"


"Wah! Itu putrinya!"


"Dia menutupi wajahnya."


"Astaga, apa dia buruk rupa?"


Berbagai ucapan terdengar membuat suasana diselimuti oleh rasa penasaran akan berita yang sebenarnya mengenai putri pendeta Ming yang berada di tengah-tengah mereka.


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.