
Sekarang keduanya berada di tempat bernaung yang belum pernah mereka kunjungi, dan lebih tepatnya tidak ada yang pernah menginjakkan kaki kesini dan membuat keduanya menjadi yang istimewa. "Minumlah, dan ini... Pakailah." Tampak tangan Xiong langsung menerima kain untuk menutupi tubuhnya yang sudah merasakan hawa dingin yang belum ia rasakan.
Karena ada perbedaan antara dingin di istana dengan disini. Karena perbedaan tempat mereka yang dikelilingi hal berbanding terbalik. "Terimakasih pendeta." Lee dan Xiong serempak mengucapkan rasa terimakasih mereka.
"Kalau boleh tau ada apa gerangan pangeran datang kemari?"
"Kami hanya menyusuri sungai untuk mencari ikan." Antara aneh dan wajar pendeta itu mendengar nya dan bagi Xiong, pangeran seperti orang b0doh yang tidak bisa berbohong dengan benar sekarang.
'Entah kemana hilangnya kepintaran itu.' Sambil menikmati minuman yang menghangatkan tubuhnya.
"Apa para pelayan dan prajurit tidak pangeran sukai?"
"Bukan begitu, tapi.... Aku ingin mencoba dengan tangan ku sendiri. Dan tentunya jika tidak ku lakukan, aku tidak akan bertemu dengan pendeta dan juga berkesempatan menginjakkan kaki di kediaman indah ini." Jelas Lee sambil tersenyum dan tak lupa dengan matanya yang melihat keindahan tempat ini.
"Pangeran bisa saja, istana jauh lebih indah. Kediaman ku tidak ada apa-apanya. Apa kedatangan pangeran kemari diketahui oleh raja?"
"Ya, Ayah tentu tau dan akan mengerti nanti nya."
"Pangeran, jika kita tidak bertemu. Maka akan lain ceritanya. Karena bukan bagaimana, tapi pangeran tau benar akan hutan ini."
"Iya, karena itu aku segera kembali sebelum malam." Tampak pendeta mengangguk saja sambil menuangkan minuman lagi yang membuat Lee mengistirahatkan untuk berhenti.
"Apa sudah lebih baikan panglima Xiong?"
"Iya, terimakasih pendeta."
"Kenapa bisa begini? Padahal, panglima tentu melangkah dengan hati-hati." Xiong yang ingin bercerita dengan tidak sabaran nya mengenai apa yang terjadi padanya membuat bibir yang baru saja disiram dengan minuman hangat itu langsung bercerita segera.
"Mong, kau kemari?"
"Harimau itu... Dia yang.... Dia.." belum selesai Xiong bicara tampak Mong tau pria itu akan mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai dirinya dan langsung mengeluarkan tatapan intimidasi nya.
"Dia harimau disini. Dia tinggal bersamaku. Apa ada masalah? Mong, kau melakukan sesuatu?" Tanya pendeta pada Mong yang tampak bermanja-manja.
"Tampaknya Xiong bertemu dengan Mong, dan mereka menyapa ala mereka." Xiong tentu menjadi kesal pada pangeran nya itu seolah tidak membela dirinya.
"Oh ya? Biasanya dia bersembunyi dari orang lain. Pasti panglima Xiong melakukan sesuatu sehingga Mong menyukainya."
'Menyukai apanya, dia bahkan menyerang ku secara membabi-buta. Astaga, mimpi apa aku semalam. Aku si@l sekali disini.'
"Ngomong-ngomong.... Apa hanya ada satu harimau saja?" Lee tentu bertanya segera karena ingin menuntaskan rasa penasaran nya mengenai harimau kecil itu yang sama persis dengan harimau saat ia bertemu dengan Tania.
"Ya, dia hanya satu. Jika dilihat dari ukurannya, Mong paling kecil. Kenapa pangeran?"
"Tidak, apa pendeta tinggal sendiri? Karena sepertinya kediaman pendeta sangat besar untuk satu orang. Maaf, bukan bermaksud lain, aku hanya...."
"Aku paham, tidak sendiri. Ada Mong dan juga yang lainnya, aku tinggal bersama mereka dan juga putriku serta...." Baik, kata lainnya tidak penting bagi Lee karena setelah mendengar kata putri di kalimat pendeta membuat pikirannya melayang mengingat kemungkinan Tania disini.
'Artinya Tania disini bukan? Sekarang mau kemana kau pergi dariku.'
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.