Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Bersiap


Perdebatan kecil terjadi selama perjalanan keduanya, Siu tetap bersikukuh tidak mau kesana dan berusaha meyakinkan nona nya.


"Nona, kita tidak perlu kesana, disitu sangat berbahaya. Kita bukan orang sini, kita tidak tau bagaimana mereka, apalagi ada sarang penjahat disana yang menggunakan tempat itu. Lebih baik kita ambil jalur yang sudah kita sepakati nona."


"Kalau mengambil jalur yang kita sepakati di awal, itu memakan waktu yang cukup lama Siu. Atau kau mau kita menyusuri hutan dan berenang tanpa arah tujuan yang jelas? Setidaknya kita memasuki kawasan dekat istana itu akan lebih memudahkan kita menemukan yang kita cari. Tenang saja, kita hanya perlu berbaur seperti mereka."


Tania lebih mengambil pemikiran untuk kesana dan mendapatkan token untuk memudahkan mereka masuk dan dengan begitu ia bisa mencari pendeta yang dimaksud atau langsung menemukan kamar bernuansa mawar merah itu.


Siu mulai diam tapi wajahnya tidak, ia terkadang bicara sendiri tanpa suara dan dengan wajah yang berbagai ekspresi, Tania mengesampingkan itu karena mereka sudah berada di tempat perkumpulan kupu-kupu itu.


"Apa mereka menceritakan kisah palsu? Ini bahkan tidak ada siapapun." Gerutu Siu yang melihat sebuah bangunan dengan keadaan yang begitu sepi seperti pemakaman.


"Bukan.... Tapi tempat ini hidup dimalam hari. Bagaimanapun juga pengunjung memilih waktu yang aman Siu."


"Lalu bagaimana sekarang nona?"


"Penangkaran kupu-kupunya mungkin tidak jauh dari sini." Tania melihat ke sekeliling tempat bak pasar yang memiliki jarak dekat itu.


Ketika mereka sibuk memainkan mata mereka, sebuah tepukan mendarat di pundak dan membuat Siu kaget. "Aaa!" Keduanya menoleh bersamaan dan terlihat seorang wanita paruh baya dengan dada yang sedikit terbuka dan riasan yang Tania kenali dengan mudah.


"Sepertinya kalian tersesat? Mau dibantu? Aku tau tempat penginapan murah dan bagus untuk kalian Nona-nona manis." Wanita itu menatap mereka dengan senyuman terlebih pada Tania dan dia tau hal itu.


"Ti...."


"Ya,kami cukup berjalan jauh dan merasa lelah." Siu melihat nona nya yang seolah merencanakan sesuatu dan membuat wanita itu semakin tersenyum lebar.


"Sudah kuduga, aku sering menemui para pengembara yang tersesat disini. Ayo, ikut aku." Tania dan Siu mengikuti langkah wanita itu, dibelakang Tania menggelengkan kepalanya menandakan Siu untuk menahan pertanyaan atau penolakan nya.


Mereka dibawa masuk ke dalam gang, meskipun Siu sudah bisa membela diri, tapi ketakutan terkadang datang tanpa ia sadari dan butuh waktu menanggulanginya. "Apa masih jauh?" Siu memainkan lakonnya.


"Tidak, belok sekali lagi. Kita sampai, jangan tertipu dengan jalannya yang sempit ya. Ada keindahan di dalamnya." Dan benar saja mulai dari belokan, sudah terlihat para wanita yang melihat mereka dengan berbagai pandangan.


"Mereka tinggal disini dan berjualan disini, pasar dibuka ketika malam. Siapa tau kalian akan tertarik juga."


"Tidak, kami hanya butuh istirahat." Ujar Siu yang membuat wanita itu tersenyum lebar di depan mereka.


Sebuah bangunan bergaya Chinese menyambut keduanya. Perlahan pintu terbuka memperlihatkan ruangan tamu kecil dan ketika lebih masuk lagi ada kamar dengan ranjang yang bagus serta ruangan mandi. "Bagaimana?" Tanya wanita itu kepada Siu dan Tania.


"Bagus, udara juga baik disini. Kami ambil, berapa bayarannya?"


"Berapa yang kalian punya? Aku terima saja." Segera Siu memberikan koin beberapa keping tapi ketika sudah berada di tangan wanita itu ia melemparkan nya dan tertawa terbahak-bahak.


"Aku tidak menerima uang ini, aku meminta dari pelayanan kalian, selamat datang di peternakan madu ku!" Tak lama pintu itu tertutup dan mereka terkunci, Siu melihat nona nya berteriak ketakutan dan menangis membuat dia jadi bingung.


"Nona?"


Wajah yang menghadap pintu serta tangan yang mencakar kayu itu berbalik dan tak lama tertawa kecil. "Sandiwara ku bagus bukan?" Siu bernapas lega karena sempat mengira nona nya kembali seperti dulu.


"Kau membuat ku takut Nona."


Tania mengibaskan rambutnya karena menutupi wajahnya. "Sejak awal Nona tau kan? Karena itu aku tidak bertanya, lalu bagaimana sekarang?"


"Apalagi.... Tunggu ia kembali membawakan kita pakaian serta riasan. Apa kau bisa?" Tania memikirkan gadis disebelahnya mengenai hal ini.


"Nona bersamaku aku pasti bisa." Tania tersenyum mendengarnya.


"Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu. Kita hanya perlu bertingkah seperti yang lainnya, ambil token lalu pergi. Aku melihat ada jalan lain dari tempat kupu-kupu ini. Kau juga kan?" Siu mengangguk, Tania sungguh senang dengan ketajaman mata gadis itu yang semakin baik.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Pangeran..."


"Apa?" Lee yang sejak tadi melihat jalanan menjadi tertawa karena melihat bawahannya itu.


"Ekspresi apa itu? Saat berperang kau terlihat semangat dan tanpa takut, tapi apa ini?"


"Pangeran.... Aku akan menunggu diluar saja ya, aku tidak bisa bertemu dengan para kupu-kupu itu. Aku tidak sudi melihat mereka, bagaimana nanti mereka menyentuh ku? Aku bisa mematahkan tangan nya, rencana kita bisa gagal pangeran."


"Ayolah Xiong.... Kau hanya perlu duduk saja, mereka hanya menyentuh sedikit. Pakaian kita cukup tebal mereka tidak akan sampai manusia kedalam. Kau rayu saja dengan kata-kata indah mu, atau tersenyum manis mereka akan terhipnotis. Jika kau berhasil, aku akan kabulkan satu keinginan mu." Xiong langsung bersemangat mendengar penuturan itu.


"Sungguh pangeran?"


"Ya, aku tidak berbohong. Tapi kalau kau membuat semuanya gagal, maka harus siap dengan hukuman ku, bagaimana?"


"Aku tidak akan kalah! Aku akan melakukannya dengan baik! Kupu-kupu itu bukan apa-apa bagiku! Bahkan senjata perang dari musuh tidak bisa melukai ku."


"Baiklah, kita lihat kalau begitu."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Pintu terbuka dan memperlihatkan wanita itu datang dengan beberapa orang pria, tangannya melemparkan pakaian dan yang lainnya. "Pakai ini dan beriaslah sebaik mungkin! Kalian tentu paham kan? Kalau tidak, aku akan membuat kalian menjadi makanan utama disini." Tatapan lapar dan tidak sehat menatap keduanya.


"Ambil cepat! Dan bergegaslah."


"Apa perlu kami bantu Nyonya?" Seorang pria berujar sambil menatap Siu dengan lapar.


"Kami bisa sendiri, jangan sakiti kami. Kami akan melakukan nya." Dengan menggunakan akting wanita yang akan dijual Tania sudah ahli dengan itu.


"Biarkan mereka, kita tunggu beberapa menit. Kalau tidak juga, kalian bisa bermain sedikit." Pintu tertutup dan baju itu mereka sibak, tidak seperti pemikiran Tania. Setidaknya pakaian ini menutupi bagian terlarang nya meksipun membuat nya tercetak dengan jelas.


"Awas saja nanti! Akan ku buat Kalianda membayarnya!"


"Siu....."


"Aku bisa menangani ini Nona, mau lihat keahlian ku?"


"Oh ya?"


"Tentu saja, dan aku jamin kita akan mendapatkan token itu dengan cepat."


"Kalau begitu buktikan!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Malam mulai datang dan tempat para kupu-kupu itu akan beterbangan akan terbuka. Ada beberapa penjaga yang melihat identitas pengunjung gelap maupun asli dari wilayah itu.


"Punya anda Tuan?" Dua orang berpakaian biru muda mendapatkan giliran dan ketika ia memperlihatkan sesuatu mereka dipersilakan masuk.


"Ini dia Xiong, dan tunjukkan ucapan mu."


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.